Tinta Pemilu, Apakah Najis dan Menghalangi Air Wudhu?
NU Online Ā· Rabu, 14 Februari 2024 | 11:15 WIB
Ahmad Muntaha AM
Penulis
Pertanyaan fiqih yang muncul selepas Pemilu serentak 14 Februrai 2024 adalah masalah tinta pemilu di jari tangan. Apakah tinta pemilu hukumnya najis dan menghalangi air wudhu sampai kulit sehingga membuat wudhu tidak sah?
Pertama, berkaitan apakah tinta pemilu najis atau tidak. Dalam hal ini dikembalikan pada hukum asal suatu benda yang tidak diketahui secara persis apakah najis dan tidak, maka hukumnya adalah suci, sampai terbukti nyata najisnya. Al-Ashlu at-thaharah.Ā
Kedua, berkaitan apakah tinta pemilu menghalangi sampainya air ke kulit dan tidak.Ā
Dalam hal ini bila tinta cukup tebal, seperti lelehan lilin, minyak yang memadat dan semisalnya, maka jelas menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga harus dihilangkan saat wudhu, agar air basuhan wudhu dapat sampai ke kulit jari tangan secara sempurna. Dengan demikian wudhunya menjadi sah.
Baca Juga
Hukum Noda Bekas Darah Haid pada Pakaian
Lain halnya bila tinta itu hanya menyisakan warnanya saja, sekira sudah dikerok, dibasuh dengan sabun dan semisalnya, sehingga hanya menyisakan bekas warnanya, maka secara fiqih tinta yang tinggal warnanya tersebut dihukumi tidak menghalangi sampainya air basuhan wudhu ke kulit jari. Karenanya wudhu dalam kondisi di jari tangan masih ada sisa warna tinta seperti itu hukumnya sah.
Syekh Zainuddin Al-Malibari dan Syekh Syattha Ad-Dimyathi menjelaskan:
ŁŲ±Ų§ŲØŲ¹ŁŲ§ (أ٠ŁŲ§ ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų¶Ł ŲŲ§Ų¦Ł) ŲØŁŁ Ų§ŁŁ
Ų§Ų” ŁŲ§ŁŁ
ŲŗŲ³ŁŁ (ŁŁŁŲ±Ų©) ŁŲ“Ł
Ų¹ ŁŲÆŁŁ Ų¬Ų§Ł
ŲÆ ŁŲ¹ŁŁ ŲŲØŲ± ŁŲŁŲ§Ų” ŲØŲ®ŁŲ§Ł ŲÆŁŁ Ų¬Ų§Ų± أ٠Ł
Ų§Ų¦Ų¹ ŁŲ„Ł ŁŁ
ŁŲ«ŲØŲŖ Ų§ŁŁ
Ų§Ų” Ų¹ŁŁŁ ŁŲ£Ų«Ų± ŲŲØŲ± ŁŲŁŲ§Ų”.
Artinya: āSyarat wudhu keempat adalah tidak ada penghalang di antara air dan anggota tubuh yang dibasuh, seperti batu kapur, lilin, minyak padat, wujud fisik tinta dan hena. Lain halnya dengan minyak cair meskipun air tidak bisa diam menetap di atasnya, bekas tinta, dan hena.ā
ŁŁŁŁ: ŁŲ£Ų«Ų± ŲŲØŲ± ŁŲŁŲ§Ų”Ų Ų£Ł ŁŲØŲ®ŁŲ§Ł Ų£Ų«Ų± ŲŲØŲ± ŁŲŁŲ§Ų” ŁŲ„ŁŁ ŁŲ§ ŁŲ¶Ų±. ŁŲ§ŁŁ
Ų±Ų§ŲÆ ŲØŲ§ŁŲ£Ų«Ų± Ł
Ų¬Ų±ŲÆ Ų§ŁŁŁŁ ŲØŲŁŲ« ŁŲ§ ŁŲŖŲص٠باŁŲŲŖ Ł
Ų«ŁŲ§ Ł
ŁŁ Ų“ŁŲ”
Artinya: āUngkapan Syekh Zainuddin Al-Malibari, āBekas tinta dan henaā, maksudnya adalah: lain halnya dengan bekas tinta dan hena, maka tidak membahayakan keabsahan wudhu. Sementara maksud bekas di sini adalah sisi warnanya saja, sekira bila dikerok misalnya maka tidak menghasilkan apapun.ā (Zainuddin Al-Malibari dan Abu Bakar Syattha Ad-Dimyathi, Fathul Muāin dan Iāanatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr], juz I, halaman 35).
Baca Juga
Hukum Shalat dengan Sisa Tinta Pemilu
Dari penjelasan Al-Malibari dan Ad-Dimyathi ini dapat diketahui bahwa tinta pemilu bila tebal maka menghalangi sahnya wudhu karena air dihukumi tidak sampai ke kulit jari tangan secara sempurna, sehingga wudhunya tidak sah.
Sementara bila tinta pemilu itu tipis atau hanya menyisakan warnanya saja, maka tidak menghalangi sampainya air ke kulit, sehingga wudhunya sah.
Hal ini identik pula dengan benda yang diberi pewarna dengan pewarna najis, lalu dibersihkan dan hanya menyisakan warnanya saja, maka dihukumi suci.
ŁŁŁ ŲµŲØŲŗ Ų“ŁŲ” ŲØŲµŲØŲŗ Ł
ŲŖŁŲ¬Ų³ Ų«Ł
ŲŗŲ³Ł Ų§ŁŁ
ŲµŲØŁŲŗ ŲŲŖŁ ŲµŁŲŖ Ų§ŁŲŗŲ³Ų§ŁŲ© ŁŁŁ
ŁŲØŁ Ų„ŁŲ§ Ł
Ų¬Ų±ŲÆ Ų§ŁŁŁŁ ŲŁŁ
ŲØŲ·ŁŲ§Ų±ŲŖŁ
Ā
Artinya:Ā āBila suatu benda dicelup dengan pewarna yang mengandung najis, lalu benda yang dicelup dengan pewarna tersebut dicuci hingga bersih basuhannya dan yang tersisa hanya warnanya, maka benda itu dihukumi suci.ā (Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif], halaman 46).
Dalam kasus ini sisa warna yang bahannya najis dihukumi tidak najis. Demikian pula dalam kasus di atas, sisa warna tinta dihukumi tidak menghalangi air sampai pada kulit.
Dari uraian di atas, pertanyaan apakah tinta pemilu hukumnya najis dan menghalangi air wudhu sampai kulit sehingga membuat wudhu tidak sah, maka dapat dijawab secara ringkas sebagaimana berikut:
Tinta pemilu hukumnya tidak najis dan tidak menghalangi air wudhu sampai ke kulit selama hanya menyisakan warnanya saja. Bukan wujud fisiknya yang tebal.Ā Karena itu, lebih baik tinta pemilu yang masih ada di jari tangan dibersihkan sebelum wudhu sebersih-bersihnya sebagai kehati-hatian dalam beribadah. Wallahu aālam.
Ahmad Muntaha AM, Redaktur Keislaman NU Online
Terpopuler
1
Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan Mamah atau Ummi
2
Presiden Prabowo Tiba di India untuk Hadiri KTT Ke-18 BRICS
3
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
4
BGN Sebut 240 Ribu Satuan Pendidikan Belum Terima MBG
5
BGN Klaim Keluarkan 1.653 Satuan Pendidikan dari Penerima MBG
6
Doa Bersama Digelar untuk Lima Jurnalis dan Tiga Kru yang Hilang Kontak di Selat Sunda
Terkini
Lihat Semua