Warta

106 Pesantren Jatim Tetapkan Hari Santri

NU Online  ·  Ahad, 20 Desember 2009 | 12:44 WIB

Kepanjen, NU Online
Momentum Tahun baru Hijriyah 1 Muharam 1431 Hijriyah ditetapkan oleh 106 pengurus dan pengelola pondok pesantren se-Kabupaten Malang sebagai Hari Santri.  Para penggagas mengumumkan Hari Santri dalam acara peringatan tahun baru Islam 1 Muharam 1431 Hijriyah yang digelar di Pondok Pesantren Babussalam, Pagelaran, Kabupaten Malang, akhir pekan kemarin.

Thoriq Darwis, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam menerangkan, penetapan Hari Santri itu akan dikampanyekan ke seluruh pondok pesantren di Malang Raya dan pondok pesantren se-Jatim. Para pengasuh pondok pesantren berkeinginan agar Hari Santri bisa tercatat sebagai hari peringatan nasional. Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Islam yang di dalamnya ada jutaan santri.<>

"Saya masih belum tahu bagaimana caranya agar Hari Santri dicatat secara nasional. Tetapi kami akan upayakan semua ponpes tahu adanya Hari Santri. Hari peringatannya sesuai penanggalan hijriah, bukan penanggalan masehi," kata cucu KH Mohammad Said, pendiri Pondok Pesantren Babussalam ini.

Thoriq menjelaskan, gagasan menetapkan Hari Santri muncul ketika melihat fenomena banyaknya hari-hari peringatan dalam masyarakat. Hari peringatan itu ada yang berasal dari budaya luar, budaya asli, kepentingan bisnis, dan momen-momen penting.

"Mengingat santri juga warga negara dan jumlahnya jutaan jiwa, maka tidak ada salahnya membuat sebuah hari peringatan untuk santri. Toh, keberadaan santri banyak membawa warna dalam masyarakat. Termasuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan dan momen-momen penting kenegaraan," tutur Thoriq.

Tentang dipilihnya tanggal 1 muharam, lanjut Thoriq, itu untuk memasukkan semangat hijrah dari yang buruk ke yang baik. Semangat hijrah itu juga digunakan Nabi Muhammad untuk menetapkan tahun hijriah.

"Agar seorang santri bangga menjadi santri. Sehingga dia akan memberikan sumbangsihnya bagi kemaslahatan umat. Masak santri kalah sama hantu yang punya hari peringatan Halloween," ungkap Thoriq seperti dilansir Radar Malang.

Dengan adanya Hari Santri, kata Thoriq, diharapkan seluruh santri tetap menjalin ukhuwah islamiyah dan tidak terpecah belah. Lebih dari itu, para santri di tahun-tahun mendatang akan selalu ingat dan bangga bahwa mereka adalah lulusan pondok pesantren yang keberadaannya selalu diperingati setiap tahun baru Islam. (min)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang