Para pengurus Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) cukup kreatif dalam penyelenggaraan acara. Umumnya, perhelatan partai politik digelar di hotel berbintang, tetapi mereka memilih menyelenggarakannya diatas kapal laut Lambelu.
Tak heran, ide yang unik, kreatif dan langka ini mendapatkan rekor MURI. Sekitar 1300 peserta berangkat bersama-sama dari Surabaya pada Senin, (13/12) pukul 16.30 dan berakhir di Jakarta, Selasa (14/12), pukul 17.00.<>
Muhammad Syarkawi, ketua panitia muktamar menjelaskan, hampir semua kapasitas kapal digunakan oleh muktamirin, tetapi Pelni tetap menyediakan ruang untuk penumpang umum sebagai bagian dari Public Service Obligation (PSO).
Perjalanan kapal berlangsung cukup nyaman karena kapal ini cukup besar, dengan panjang 160 meter dan tujuh tingkat serta mampu mengangkut barang 4500 ton. Ombak laut Jawa yang tenang membuat kapal tak terasa bergoyang. Apalagi ketika seluruh kapal “dikuasai” muktamirin dan saling mengenal satu sama lain, suasana menjadi gayeng.
Restoran kapal oleh panitia disulap menjadi ruang rapat besar untuk acara sidang-sidang pleno. Peserta dan peninjau juga tak harus hadir di lokasi karena seluruh proses persidangan bisa didengarkan melalui pengeras suara yang menjangkau seluruh lokasi kapal.
Persidangan juga bisa berjalan dengan efektif, karena peserta tak dapat pergi kemana-mana, sebagaimana yang sering terjadi ketika muktamar dilakukan di daratan, banyak peserta yang lebih suka plesiran atau belanja. Deringan HP juga jarang terjadi karena hanya Telkomsel yang ada sinyalnya, dan itupun seringkali mati karena crowded.
Sedikit terjadi kesalahfahaman dari beberapa peserta karena semua tiket tertulis “Kelas I” yang memiliki kabin sendiri, dan ternyata yang mereka dapatkan hanya “Kelas Wisata”, tetapi ternyata semuanya menikmati perjalanan. Mereka bisa berkumpul di dek di tingkat tujuh yang nyaman untuk mengobrol bersama jika angin bertiup tak terlalu kencang.
NU Online yang menyempatkan diri memasuki ruang kontrol melihat para petugas mengoperasikan kapal. Kecepatan kapal sekitar 16.5 knot atau sekitar 50 km per jam. Ketika berada di laut lepas, petugas mengoperasikan outopilot sehingga kapal berjalan sendiri sesuai dengan arah GPS yang sudah ditentukan. Jika kapal keluar jalur, secara otomatis, alarm akan berbunyi untuk mengingatkan kepada petugas.
Kapal ini pernah mengangkut sekitar 9.000 pengungsi dari Ambon ketika terjadi kerusuhan Ambon sehingga banyak orang eksodus ingin keluar dari pulau tersebut pada tahun 1999 lalu, sehingga ketika dipakai hanya oleh 2000 orang, terasa nyaman dan longgar.
Nama Nambelu diambil dari sebuah gunung yang ada di Kendari Sulawesi Tenggara. Petugas menjelaskan, kapal ini merupakan produksi Jerman yang mulai dipakai Pelni tahun 1996, masih cukup bagus karena kapal bisa dipakai sampai 25-30 tahun.
Kapal juga menyediakan fasilitas hiburan karaoke, videogame dan bioskop, tapi tak banyak terlihat muktamirin yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Mereka lebih suka ngopi bareng di kafe sambil ngobrol dengan teman atau kenalan baru.
Makanan berupa nasi kotak diantar langsung ka manar-kamar muktamirin sehingga tidak perlu antri. Sayangnya tidak ada coffe break dengan kue-kue kecil dan kopi disela-sela persidangan yang marathon dan melelahkan.
Musholla yang terdapat di dek 7 sangat nyaman dan luas dengan suhu AC yang pas. Setiap menjelang sholat fardhu, selalu terdapat pengumuman jadual sholat yang disampaikan oleh petugas kapal.
Bagi organisasi lain yang ingin menggelar sebuah perhelatan, ide-ide kreatif seperti ini tampaknya perlu difikirkan untuk menghasilkan sesuatu yang segar tetapi tetap produktif dalam menghasilkan keputusan. (mkf)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Rezeki Sudah Ditakar, Tak Akan Tertukar
2
Khutbah Jumat: Hikmah Mengingat Kematian dalam Islam
3
Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU, Pesantren Tambakberas Gerak Cepat Siapkan Fasilitas
4
Khutbah Jumat: Keluarga sebagai Madrasah Pertama
5
Khutbah Jumat: Jangan Gadaikan Kejujuran demi Kepentingan Dunia
6
Sejarah Berdirinya Pesantren Tambakberas Jombang, Kembali Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Terkini
Lihat Semua