Bank Syariah Terancam "Mati Sebelum Berkembang"
NU Online · Sabtu, 27 Oktober 2007 | 06:32 WIB
Brisbane, NU Online
Bank-bank syariah di Indonesia terancam layu dan mati sebelum berkembang kalau terus asyik dengan penyaluran kredit-kredit konsumtif, kata Ekonom Indonesia yang menjadi peneliti tamu di Universitas Teknologi Queensland (QUT), Dr.Muhammad Handry Imansyah.
"Bank-bank syariah sudah masuk ke pasar konsumtif. Yang ideal adalah kredit-kredit produktif bukan konsumtif. Kini bank-bank syariah misalnya sudah menerbitkan kartu-kartu kredit. Kalau penyalurannya tidak dilakukan hati-hati, apa jadinya?" katanya di Brisbane, Jumat malam.
<>Selain kurang memberikan nilai tambah yang produktif bagi pengembangan ekonomi umat, kondisi ini juga bisa jadi mengancam eksistensi bank-bank syariah itu sendiri, katanya dalam forum pengajian yang dihadiri belasan anggota Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) itu.
"Saya khawatir perkembangan bank-bank syariah di Tanah Air yang cepat tanpa ditopang fondasi yang kuat ini justru membuatnya mati muda," katanya.
Ekonom yang pernah terlibat dalam unit survelensi Departemen Keuangan RI itu mengatakan, ciri-ciri menjelang terjadinya krisis perbankan yang merontokkan banyak bank konvensional di Tanah Air beberapa tahun lalu kini justru mulai tampak di sektor perbankan syariah.
"Inilah yang mengkhawatirkan saya. Jadi jangan sampai bank-bank syariah layu sebelum berkembang," katanya.
Sejarah kehadiran sektor perbankan syariah di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari nama Bank Muamalat Indonesia (BMI) karena bank yang didirikan tahun 1991 itu merupakan pelopor.
Kini, selain BMI, Indonesia juga memiliki institusi bank syariah yang lain, seperti Bank Syariah Mandiri dan Bank Mega Syariah. Sejumlah bank umum besar, seperti BNI dan BRI, pun sudah membuka unit usaha syariah.
Seperti diberitakan media, beberapa bank asing yang beroperasi di Indonesia, seperti City Bank dan HSBC, juga tertarik membuka unit usaha syariah. Bahkan, bank syariah Singapura ingin membuka cabangnya di Tanah Air. (ant/sir)
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua