Nama lengkap pria bertubuh kurus ini adalah Thoriq Darwis. Lelaki yang akrab disapa Gus Thoriq ini mengaku berat jika seseorang memberinya gelar Kiai.
Secara turun-temurun, pria berkumis tipis ini sangat layak menyandang predikat Kiai. Namun, kebersahajaannya sebagai ulama yang mengasuh 600 Santriawan dan Santriwati di Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang itu, lebih sreg jika dirinya dipanggil nama aslinya saja.<>
Mantan pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu menuturkan, seorang santri adalah identitas masyarakat bersosial yang tidak pantas disembunyikan. Bangga menjadi santri, adalah wujud kebersahajaan dan mengakui jika manusia adalah, makhluk sosial yang punya hubungan mutualisme dimanapun mereka berada dengan masyarakatnya.
"Santri adalah identitias sosial. Jika santri sudah malu mengakui kesantriannya, niscaya mereka tidak akan mendapatkan peran apapun dalam masyarakat,” ungkapnya.
Dijelaskan dia, 1 Muharram adalah momentum yang tepat untuk berkaca diri dalam mencari idetntitas sosial seseorang. Tahun baru pada kalender Islam itu, seyogjanya bisa menjadikan spirit dan membawa perubahan yang sangat besar dalam penyebaran Agama Islam.
Bukan tahun baru Masehi sebenarnya yang perlu dirayakan besar-besaran. Namun, sebagai orang Islam, 1 Muharram adalah cerminan betapa hari-hari besar Islam saat ini masih banyak yang terlupakan begitu saja.
Dikalangan pesantren, hari-hari besar keagamaan mungkin masih lebih populer dari Tahun Baru Masehi yang jatuh pada setiap tanggal 1 Januari. Disinilah ironisnya. Jika pemahaman mereka tidak segera dirubah jika Islam punya banyak sekali penanggalan tentang hari besar keagamaan, seharusnya, momentum 1 Muharram harus bisa menghasilkan sesuatu yang positif.
"Ada banyak momentum yang masih terabaikan pada masyarakat kita. Kalau kemudian pada kalender masyarakat kita punya hari buruh, hari guru, bahkan ada hari tembakau nasional, kenapa tidak ada hari santri,” katanya.
Hari Santri menurut Gus Thoriq, sudah seharusnya melekat di kalender dan peradaban bangsa ini. Jika merunut angka banyaknya Pondok Pesantren di Indonesia yang melahirkan sejumlah para petinggi negeri ini, sudah seharusnya Hari Santri diwujudkan.
Contohnya adalah, seorang guru tidak akan berguna ilmunya jika dia tidak berangkat dari seorang santri atau nyantri lebih dulu. Sehingga si santri itu menjadi seorang guru. Yang kemudian, lahirlah Hari Guru.
Mengakui adanya Hari Santri, lebih mengedepankan rasa hormat menghormati dan jejaring sosial yang tinggi. Pasalnya, ada banyak fakta jika seorang santri yang sukses menjadi pemimpin contohnya, biasanya akan lupa dengan guru-gurunya terdahulu saat dirinya menjadi santri.
Sehingga, munculnya wacana Hari Santri untuk mewujudkan rasa tawaduq pada orang tua atau guru-guru para santri yang sudah memberikan mereka sebuah ilmu untuk kehidupan bermasyarakat dimanapun mereka berada saat ini.
“1 Muharram yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam ada baiknya juga menjadi simbol Hari Santri. Dengan begitu, identitas kesantrian tidak lagi menjadi pandangan sebelah mata. Karena seorang profesor sekalipun, dulunya adalah seorang santri. Apapun bentuknya, setiap orang yang menempuh ilmu adalah seorang santri,” paparnya seperti dilansir beritajatim.com.
Ditambahkan Putra Almarhum KH Darwis itu, 1 Muharram ada baiknya juga menjadi identitas Hari Santri di Indonesia. Karena bagaimanapun, setiap individu adalah seorang santri. Sudah sepantasnya Santri punya peranan penting dan diakui secara formal dalam masyarakat dan bernegara. (mad)
Terpopuler
1
Kiai Zulfa: Yang Sudah Jadi Pejabat dan Menteri Tak Perlu Dipaksa Mimpin NU
2
Khutbah Jumat: Rezeki Sudah Ditakar, Tak Akan Tertukar
3
Khutbah Jumat: Hikmah Mengingat Kematian dalam Islam
4
Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU, Pesantren Tambakberas Gerak Cepat Siapkan Fasilitas
5
Khutbah Jumat: Keluarga sebagai Madrasah Pertama
6
Khutbah Jumat: Jangan Gadaikan Kejujuran demi Kepentingan Dunia
Terkini
Lihat Semua