Ketua PWNU DKI: Da’i NU Perlu Rambah FB dan Twitter
NU Online · Sabtu, 13 Agustus 2011 | 08:19 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus WIlayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta Djan Faridz menyarankan agar para Da’i Nahdlatul Ulama lebih kreatif dalam mengemas dan menyampaikan pesan dakwahnya menjadi lebih modern. Kreativitas dalam mengemas dakwah itu penting agar syiar Islam dapat diterima publik dengan baik.
“Para da’i NU perlu mengikuti perkembangan. Ini jaman modern, teknologi informasi berkembang pesat. Kalau kita tidak menyesuaikandiri dengan perkembangan zaman akan ketinggalan,” kata Djan Faridz saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kader Da’i Nahdlatul Ulama di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta Pusat, Sabtu (13/8).<>
Djan mengatakan, saat ini banyak anak muda yang kesehariannya bersinggungan dengan dunia maya. Setiap saat mereka terkoneksi dengan internet, membuka facebook (FB), twitter, dan situs jejaring sosial. Fenomena seperti itu juga harus diikuti oleh ustadz dan da’i penyampai pesan keagamaan. ”Jadi, menyampaikan dakwah itu tidak lagi hanya dengan pola-pola yang konvensional. Para da’i juga harus memanfaatkan situs jejaring sosial seperti FB dan twitter sebagai media penyampaipesan dakwah,” tandasnya.
Selain mengubah kemasan dakwah, Djan Faridz juga menyarankan agar para da’i memiliki kemandirian ekonomi. Da’i tidak hanya dituntut memiliki kemampuan pemahaman keagamaan yang mendalam, tetapi bila perlu memiliki unit usaha yang berkembang dan bisa mendukung kegiatan dakwah.
”Jaman dulu saja, para wali juga merangkap sebagai pedagang. Pedagang juga merangkap sebagai penyampai pesan dakwah. Apalagi sekarang di era yang sudah modern. Jiwa kewirausahaan harus dimiliki oleh ustadz dan da’i Nahdlatul Ulama,” jelas Djan Faridz.
Lebih lanjut dikatakan, PWNU DKI Jakarta saat ini sedang mengupayakan ada pemberdayaan ekonomi warga NU. Pria yang juga anggota DPD RI ini berencana mendukung pengusaha kecil NU. Pengusaha yang mempunyai warung akan difasilitasi pinjaman modal dari BRI. Warung2 warga NU akan dijadikan semacam toko serba ada, tapi lebih kecil.
"Namanya warungnye orang NU. Kalau ini jalan, aka nada sinergi antara penguatan ekonomi dengan penguatan dakwah ke-Islam-an," terang Djan.
Redaktur : Syaifullah Amin
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
4
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
5
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
6
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
Terkini
Lihat Semua