KH Abbas Muin: NU Perlu Revitalisiasai Pesantren Salaf
NU Online · Sabtu, 26 Desember 2009 | 01:01 WIB
Upaya Departemen Agama (Depag) yang berusaha mengganti kurikulum pondok pesantren salaf yang mengembangkan kurikulum tradisional dinilai tidak tepat. Depag menganggap kurikulum pesantren tradisional sebagai kurikulum yang “semaunya sendiri” dan tidak standar.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abbas Muin menyatakan, pesantren dan madrasah salaf harus tetap dipertahankan dengan kekhasan silabus dan kurikulumnya, termasuk juga metode pengajarannya.<>
“Sistem pendidikan yang dikembangkan para ulama salaf di pesantren tradisional tidak benar kalau dianggap tidak berstandar, standar mana dulu. Sistem pesantren jelas dikembangkan berdasarkan filsafat pendidikan yang ada di pesantren itu sendiri, setidaknya sebagaimana yang dirumuskan dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Jadi jelas rujukannnya dan juga jelas arahnya,’ kata Abbas kepada NU Online di Jakarta, Kamis (23/12) lalu.
Walaupun pesantren jenis ini dianggap tradisional, namun pesantren jenis itu terbukti di samping melahirkan banyak intelektual dan juga dengan sendirinya yang paling bisa diandalkan dalam melahirkan ulama. Sampai saat ini para ulama besar Indonesia alumni pesantren salaf atau tradisional ini.
“Kalau pesantren tradisional dihapuskan, sementara pendidikan modern belum mampu melahirkan ulama secara memadai, maka Indonesia akan mengalami kekeringan ulama. Kalaupun ada nanti hanya keluaran Timur Tengah, sementara alumni Timur Tengah kalau tidak memahami sistem keagamaan yang berlaku di sini juga tidak akan bisa mengambil peran maksimal,” katanya.
Menurutnya, untuk menyelamatkan keberlangsungan pesantren salaf ini kalangan pesantren tidak perlu mengikuti arahan Depag yang berusaha menghapusnya. Sebaliknya, NU sebagai organisasi kalangan pesantren harus mampu menghidupkannya kembali .
"Tradisi pengajaran maupun pilihan kitab yang dikaji di pesantren perlu dipertahankan. NU perlu merevitalisasi
tradisi pesantren salaf," demikian Abbas. (mdz)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
6
Rupiah Terus Melemah, Anggota DPR Minta Gubernur BI Mundur dari Jabatan
Terkini
Lihat Semua