Kiai Nuril: NU Tempat Mengabdi, bukan Cari Makan
NU Online · Senin, 6 Desember 2010 | 10:10 WIB
Mantan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Nuril Huda mengingatkan kepada generasi muda NU agar meniatkan diri untuk aktif di NU semata-mata mengabdi, bukan untuk mencari makan.
“Ngak ada orang berjuang tidak dibalas Allah. NU tempat pengabdian dan tempat keikhlasan, tempat untuk beribadah, tetapi nanti kalau memperoleh jabatan, itu anugerah dari Allah,” katanya dalam diskusi Kamisan NU Online, (2/12).<>
Ia menegaskan, Allah saja menolong orang kafir yang berusaha, apalagi umat Islam sehingga sangat naïf jika menjadi pengurus NU sekedar untuk mencari harta. Para pendiri NU rela mengorbankan apa saja agar organisasi NU dapat berkembang dan berjalan. Hal ini menjadi salah satu hal yang harus terus diteladani.
Kiai Nuril yang termasuk salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ini menjelaskan, ia pernah terlibat aktif mendirikan NU di kampungnya di Kecamatan Sugiyo Tuban, aktif di IPNU di berbagai kota sampai akhirnya menjadi bagian dari pendiri PMII.
“PMII berdiri karena idealisme bukan politik, tapi ingin mempertahankan ajaran ahlusunnah wal jamaah.Karena itu, kalau organisasi sudah melenceng dari tujuan didirikannya, tunggu saja kehancurannya,” katanya memberi pesan.
Sebelum PMII berdiri, mahasiswa NU masih bergabung dalam IPNU, dengan departemen kemahasiswaan. Pendirian PMII waktu itu difasilitasi oleh tiga belas mahasiswa NU salah satunya didorong oleh keinginan NU memiliki organisasi mahasiswa sendiri karena PNI, PKI dan Masyumi sudah memiliki organisasi mahasiswa. Mengutip pernyataan dari KH Anwar Musaddad yang menjadi pengurus PBNU adalah untuk mencetak intelektual NU.
Ada tiga hal penting yang harus selalu dipegang dalam melakukan perjuangan di NU, yaitu Islam adalah agama yang suci, karena itu harus diperjuangkan dengan cara yang suci untuk tujuan yang suci.
“Perjuangkan dengan cara yang suci. Kita hanya wajib berjuang, menang atau kalah bukan kewajiban kita supaya kita tidak mnelewang dari garis Islam,” paparnya.
Masa Orde Baru menjadi pengalaman pahit baginya karena dikenal teguh dalam menjadi orang NU. Ia mengaku pantang menyerah karena bagian dari perjuangan.
“Saya pantang mundur, sehingga orang jengkel, tapi saya menganggap ini perjuangan. Kita harus berjuang atas akiah yang sohih ini,” imbuhnya. (mkf)
Terpopuler
1
Kiai Zulfa: Yang Sudah Jadi Pejabat dan Menteri Tak Perlu Dipaksa Mimpin NU
2
Khutbah Jumat: Rezeki Sudah Ditakar, Tak Akan Tertukar
3
Khutbah Jumat: Hikmah Mengingat Kematian dalam Islam
4
Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU, Pesantren Tambakberas Gerak Cepat Siapkan Fasilitas
5
Khutbah Jumat: Keluarga sebagai Madrasah Pertama
6
Khutbah Jumat: Jangan Gadaikan Kejujuran demi Kepentingan Dunia
Terkini
Lihat Semua