Jakarta, NU Online
Dua versi penentuan 1 Syawal antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur pada Hari Raya Idul Fitri 1427 Hijriyah beberapa waktu lalu, cukup menjadi pelajaran bagi Pengurus Pusat (PP) Lajnah Falakiyah NU. Karenanya, lembaga di bawah naungan NU yang menangani bidang astronomi ini akan menggelar Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Nasional Pelaksana Rukyat NU.
Diklat yang akan diikuti 100 peserta perwakilan dari pengurus cabang dan pengurus wilayah NU dan pondok pesantren se-Pulau Jawa itu akan diselenggarakan pada 17-23 Desember mendatang di Semarang, Jawa Tengah.
<>Ketua Umum PP LFNU KH Ghazalie Masroeri mengatakan, alasan utama diselenggarakannya diklat tersebut agar kontroversi hisab (perhitungan astrnomi) hingga perbedaan hari raya tidak terjadi lagi. Menurutnya, hal itu dikarenakan kurangnya sosialisasi dan pelembagaan sistem dan metodologi yang disepakati.
“Apalagi dengan banyaknya sistem hitungan (kitab hisab) yang metodologinya beragam hingga pada akhirnya memengaruhi pada hasil rukyat sebagai metode pengambilan keputusan akhir yang dianut NU,” terang Kiai Ghazalie, demikian panggilan akrabnya, kepada NU Online di Jakarta, Kamis (7/12)
Kiai Ghozalie sangat menyadari, hal itulah yang menjadi sebab terjadinya perbedaan, teruatama dalam penentuan hari raya, selama ini. “Fenomena inilah yang menjadi lingkar masalah atas terjadinya perbedaan hari raya yang sudah beberapa kali terjadi di Indonesia,” tandasnya.
Selain itu, menurut Kiai Ghazalie, alasan utama penyelenggaraan diklat tersebut adalah minimnya kader muda Islam, terutama NU, yang mengerti dan memahami ilmu falak. “Agar terwujud kader-kader muda Islam ahli hisab dan rukyat yang memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan mendalam serta mampu menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Harapan lebih maju lagi, tambah Kiai Ghazalie, agar tersedia kader-kader muda NU ahli hisab dan rukyat yang teridentifikasi serta bersertifikat sehingga mampu menjadi mitra dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan PBNU. (rif)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
2
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
3
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
6
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
Terkini
Lihat Semua