Makkah Musim Haji, Kota Tenda yang Ditahlukkan Kemacetan
NU Online · Kamis, 18 November 2010 | 01:43 WIB
Makkah Musim haji adalah Makkah yang berbeda dengan Makkah sebelum pada waktu-waktu biasa. Makkah musim haji tidak mengenal hukum kenormalan di jalan raya.Â
Hampir-hampir tidak ada kata lancar atau antri dengan tertib. Hampir-hampir tidak ada kendaraan tumpangan dengan harga standar, semua harus pandai-pandai melakukan tawar-menawar dan mensiasati keadaan.<<>br />
Selain melayani jamaah berdasarkan kuota masing-masing negara di seluruh dunia, pemerintah Arab Saudi juga masih menerima tamu-tamu Allah di luar kuota masing-masing negara. Sehingga kota Makkah di musim haji harus menanggung beban lebih berat daripada yang telah diperhitungkan secara teknis administratif.
Dengan penalaran seperti ini, maka semua jamaah harus bisa bergerak lebih fleksibel untuk memperkecil hambatan di perjalanan-perjalanan untuk penuntasan manasik. Membawa perlengkapan seoptimal mungkin dapat menjadi pilihan yang bagus, terutama bagi jamaah non kuota yang tidak disediakan tenda oleh pemerintah.
Oleh karena itu, selama musim haji, setiap sudut kota Makkah dipenuhi oleh tenda-tenda jamaah non kuota. Tenda-tenda ini didirikan di mana saja, di taman-taman, di kolong-kolong jembatan, di tanah-tanah kosong, dipinggir-pinggir jalan dan di hampir seluruh perbukitan-perbukitan bertebaran di seluruh kota Makkah.
Mereka bukan hanya mendirikan tenda, namun juga memarkir kendaraan (mobil) di sekitar tenda dengan seenaknya. Memang banyak jamaah haji dari negara-negara yang berbatasan darat langsung dengan Arab Sdan muaudi, berangkat haji dengan kendaraan darat. Selain itu jamaah haji Arab Saudi sendiri juga sangat banyak berdatangan dengan mengendarai mobil-mobil pribadi. Seminggu terakhir, kota Makkah benar-benar menjadi kota tenda yang ditahlukkan oleh kemacetan.
Karena banyaknya kendaraan yang diparkir di sepanjang pinggir jalan serta mobilisasi tingkat tinggi jamaah haji pada waktu yang sama, maka kemacetan pun menjadi sebuah keniscayaan. Dengan demikian ketahanan fisik pun dipertaruhkan, jika ingin mempersingkat waktu, maka jalan kaki menjadi pilihan. Namun bukan hal mudah untuk memutuskan berjalan kaki, karena selain cuaca yang panas, debu-debu yang beterbangan sepanjang jalan juga merupakan tantangan yang berat untuk dilalui, apalagi tanpa masker.
Tujuan tempat manasik yang seragam, yakni Arofah, Muzdalifah, Mina dan Masjidil Haram, merupakan faktor utama yang mengakibatkan kepadatan jamaah di tempat-tempat tersebut. Karena itu, kehati-hatian merupakan keniscayaan bagi para jamaah. Terutama mereka yang minim pengalaman travelling dan kondisi badan mulai rapuh. (min/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi).
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
4
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Imbau Masyarakat Aceh Jaga Kondusivitas usai Kerusuhan dan Pengibaran Bendera GAM Sabtu
Terkini
Lihat Semua