Kudus, NU Online
Pendapa Tajug di kompleks Makam Sunan Kudus mengalami kemiringan kurang lebih 20 cm dihitung dari siku atau berkurang 10 derajat dari bentuk semula. Bangunan yang diperkirakan berasal dari tahun 1500-an ini terlihat miring  dari sisi utara Tajug. Kendati masih kokoh, tajug tersebut membutuhkan konservasi.
Staff Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nur Hakim, mengatakan kemiringan tersebut diakibatkan faktor alam dan usia dari gapura yang dibangun bersamaan dengan Menara dan Masjid Al-Aqsho.<>
“Dalam  catatan di inskripsi Pendapa Tajug terakhir kali direnovasi pada tahun 1195 hijriyah atau kurang lebih 237 tahun lalu.," ujar deny kepada NU Online, baru-baru ini.Â
Inskripsi ukiran dalam bentuk angka arab, huruf arab, dan huruf jawa tersebut diperkirakan merupakan bentuk penandaan dari orang zaman Sunan Kudus untuk mengabarkan perbaikan pada masa berikutnya.
Perbaikan itu, diduga terkait peristiwa kerusakan yang dialami pada puncak Menara Kudus pada tahun 1685 M melalui inskripsi yang berbunyi Gapura Rusak Ewaning Jagat.
"Bisa jadi saat ada ada bencana yang mengakibatkan puncak menara rusak dan bangunan lainnya di sekitar menara juga rusak," ujarnya.
Menurut Denny, pihak yayasan akan bekerjasama dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah untuk menkonservasi tajug sementara soal kebutuhan dananya belum menghitung.
"Yang jelas perbaikan ini harus dilakukan karena tajug menjadi benda cagar budaya dan bermakna dalam sejarah Kudus," ujar Denny.
Perbaikan Tajug, kata Denny, meliputi tiang penguatan tiang penyangga serta bagian penyangga atap. Tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati dan mempunyai ukiran tersebut perlu disusupi kayu agar lubang tiang tidak longgar.Â
"Kelihatannya perlu disusupi kayu agar tiang tidak miring, namun belum dilakukan, karena masih perlu konsultasi dengan BP3 Jateng dulu," katanya.
Diceritakan, Pendapa Tajug tersebut dahulu berfungsi sebagai tempat pertemuan Sunan Kudus dengan berbagai kalangan. Di sekitar Tajug ada dua pendapa lain, namun ukurannya lebih kecil. Dua pendapa itu diperkirakan sebagai tempat penjagaan.Â
" Sekarang pendapa Tajug masih digunakan pertemuan pihak yayasan dengan masyarakat sekitar untuk membahas kegiatan keagamaan atau Buka Luwur. Saat Ramadan Tajug digunakan sebagai musala untuk salat Tarawih," pungkas Denny.
Â
Â
Â
Redaktur : Syaifullah Amin
Kontributor : Qomarul Adib
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Jihad Generasi Muda dalam Mengisi Kemerdekaan Indonesia
2
RAPBN 2027 untuk Program MBG Capai Rp240 Triliun, Setara 29 Persen dari Anggaran Pendidikan
3
Khutbah Jumat: Jangan Nodai Kemerdekaan dengan Kemaksiatan
4
Gus Ipul Targetkan DPT Muktamar Ke-35 NU Rampung 17 Agustus 2026, Sebut Progres SK 95 Persen
5
RAPBN 2027 Tembus Rp4.097,2 Triliun, DPR: Harus Berdampak dan Menjawab Harapan Rakyat
6
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
Terkini
Lihat Semua