Muammal Hamidy Cabut Tuduhan ‘Musyrik’ untuk NU
NU Online Ā· Jumat, 14 Maret 2008 | 07:45 WIB
Muammal Hamidy yang memberikan pengantar dalam buku "Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik" karangan H Mahrus Ali akhirnya mencabut tuduhan musyrik (menyekutukan Tuhan) yang diarahkannya untuk NU atas beberapa amal ibadah yang selama ini dikerjakan.
Wakil Ketua PWĀ Muhamadiyah Jawa Timur menyatakan bersedia mencabut pernyataannya itu dengan sebuah pernyataan resmi setelah kalah berdebat dengan KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Tim Lembaga Bahsul Masail Pengurus Cabang NU Jember, Jawa Timur, dalam acara debat terbuka terkait buku kontroversial itu di ruang Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (12/3) kemarin.<>
Gus Aāab, sapaan akrab KH Abdullah Syamsul Arifin dalam debat terbuka itu menyatakan, buku karya Mahrus Ali penuh dengan tuduhan yang tidak berdasar. Namun yang paling menyakitkan adalah tudingan kafir dan syirik kepada orang yang bertawassul dan beristigotsah.
Sementara itu Muammal Hamidy ādalam pengantarnyaājuga menuduh kalangan Nahdliyyin yang bertawassul (berdoa dengan perantaraan Nabi Muhamamad dan orang-orang shalih) sebagai mukmin musyrik. āItu istilah dari mana, mana dalilnya, coba jelaskan?ā tukas Gus Aāab seraya meminta KH Muammal Hamidy agar bersedia mencabut pernyataan itu jika tidak bisa menjelaskan dalilnya.
Saat moderator memberi kesempatan kepada Muammal, ia mengatakan bahwa istilah itu hanya pemahaman dirinya saja. Istilah itu dianalogikannya dengan ākafir-musyrikā, sehingga muncul padanannya āmukmin-musyrikā. āSebab, kenyataannya banyak orang mukmin yang masih percaya tahayyul seperti Nyai Roro Kidul dan semacamnya,ā katanya.
Gus Aāab mengatakan, istilah mukmin (beriman) dan muysrik (menyekutukan Tuhan), dua term yang berbeda, sehinga tidak bisa disandingkan. āLagi pula, apa hubungannya istigotsah dan mamaliyah yang dilakukan warga Nahdliyyin dengan Nyai Roro Kidul,ā ujarnya.
Merasa tak punya argumentasi, KH Muammal lalu menyatakan bersedia mencabut pernyataannya itu. Usai acara Muammal Hamidy masuk suatu ruangan. Disaksikan Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Prof DR Ahmad Zahro, KH Muhyiddin Abdussomad, KH Agus Ali Mashuri, dan beberapa kiai lain, KH. Muammal Hamidy pun menulis selembar pernyataan.
Intinya adalah Muammal Hamidy mencabut kalimat Mukmin-Musyrik, di dalam pengantar Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik, sehingga dalam buku yang beredar dianggap tidak ada lagi kalimat itu. (ary)
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
3
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
4
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
Terkini
Lihat Semua