NU Kecewa Penulisnya Tak Hadiri Debat Terbuka
NU Online · Kamis, 13 Maret 2008 | 10:06 WIB
Debat terbuka terkait buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik yang digelar di ruang Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (12/3) kemarin, berlangsung seru. Namun, pihak Nahdlatul Ulama (NU) Jatim mengaku kecewa karena H Mahrus Ali—penulis buku kontroversial itu—benar-benar tak hadir.
Kekecewaan tersebut dinyatakan KH Abdullah Syamsul Arifin, Ketua Tim Lembaga Bahsul Masail Pengurus Cabang NU Jember, yang juga penggagas debat terbuka itu. Menurutnya, semula pihaknya tak berminat menanggapi persoalan-persoalan khilafiyah (perbedaan pendapat) sebagaimana tertulis dalam buku karya Mahrus Ali.<>
Selama ini, lanjutnya, kontroversi persoalan serupa yang kerap menyudutkan praktik keagamaan NU itu tak pernah diselesaikan dengan baik. ”Persoalan khilafiyah, dianggap sepele. Namun, karena banyaknya keinginan dari warga untuk mencari kejelasan, akhirnya kami mau menuruti mereka,” ungkapnya.
Tetapi, ia mengaku benar-benar kecewa lantaran penulisnya tak hadir dengan alasan yang tak jelas. Apalagi, sambungnya, KH Muammal Hamidy (penulis kata pengantar pada buku itu) yang hadir pada debat terbuka tersebut tak menguasai masalah.
”Kita ini ingin bicara baik-baik, tidak ingin main keras-kerasan. Kalau mau keras, tidak usah orang Jember yang datang, orang Waru saja sudah cukup membereskan,” tutur KH Abdullah yang juga Ketua Tim Penulis buku Membongkar Kebohongan Buku: Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik.
Sejak awal, pihak penyelenggara mengharapkan Mahrus Ali dan La Tasyuk! Press (penerbit buku tersebut) dapat hadir. Pasalnya, kedua orang itu dinilai paling bertanggung jawab atas terbitnya buku yang banyak menyinggung warga NU tersebut.
”Seharusnya memang H Mahrus selaku penulis dan La Tasyuk! Press selaku penerbit yang datang, tapi mereka malah bersembunyi,” kata Makruf Asrori, Wakil Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr NU Jatim yang juga hadir dalam acara itu.
Mahrus Ali sempat menyatakan siap menghadiri undangan debat terbuka itu. Namun, dengan alasan keamanan, ia meminta dikawal aparat kepolisian. Ia juga minta dikawal polisi sebanyak dua truk dari kediamannya hingga tempat acara dan selama debat itu berlangsung. Tak hanya itu. Mahrus juga meminta uang jaminan sebanyak Rp 3 miliar.
Pada acara yang diikuti sekira 500 peserta itu, hadir sejumlah pejabat teras Pengurus Wilayah NU Jatim, di antaranya, KH Agus Ali Masyhuri (Wakil Rais) dan KH Abdurrahman Navis (Wakil Katib) serta beberapa petinggi IAIN Sunan Ampel: Ridwan Nashir (Rektor) dan Ahmad Zahro (Direktur Pascasarjana). (sbh/rif)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua