Warta

MUI: Konser Dibatalkan karena Memunculkan Maksiat

NU Online  ·  Ahad, 13 Desember 2009 | 10:26 WIB

Pamekasan, NU Online
Teka-teki pembatalan ijin keramaian konser Ridho Rhoma yang dilakukan bupati atas usulan ulama di Pamekasan mulai terkuak. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, KH. Lailurrahman LC mengatakan, pembatalan ijin tersebut, semata-mata murni datang dari masyarakat Gerbang Salam yang sadar moral.

Pengasuh Ponpes Umul Quro' Plakpak ini menegaskan, laporan yang datang bertubi-tubi itu sempat meresahkan kiai di beberapa pesantren. Pasalnya, banyak yang menuding, konser yang rencananya digelar malam ini akan memunculkan perbuatan maksiat.<>

"Jika konser itu tetap dilaksanakan, kami (ulama) khawatir, antara penonton pria dan wanita berbaur menjadi satu. Belajar dari pengalaman, banyak penonton perempuan yang menjerit karena tubuhnya dipegang-pegang oleh penonton pria. Nah, sebenarnya ini yang kami jaga. Sekali lagi kami utarakan, pembatalan ini adalah upaya ulama untuk menjaga umat dan bangsa dari amarah Allah," katanya, Jum'at malam (11/12), saat ditemui di kediamannya.

Melihat kondisi tersebut, sambung Lailurrahman, ulama dalam hal ini MUI, melayangkan surat kepada bupati untuk memertimbangkan konser tersebut dengan segala konsekuensinya. "Surat itu kami berikan pada 6 Desember lalu," ujarnya.

Sebenarnya, lanjut ia, pada 8 Desember lalu, ulama sempat menghubungi panitia untuk rembuk tentang konsep yang akan dituangkan dalam konser yang bertajuk nada dan dakwah itu. Namun, dari pihak panitia ternyata tidak ada komitmen yang baik dengan ulama.

"Saat kami hubungi via telepon, panitia mengaku sibuk dan tidak bisa hadir. Malah minta bertemu pada 10 Desember kemarin. Padahal, seandainya mereka datang, kami akan mengetahui konsep konser yang akan dilaksanakan. Sehingga, tidak terjadi pembatalan seperti ini. Padahal, kami akan mempertemukan mereka dengan Kapolres, Dandim, Bupati dan ulama," tandasnya seperti dilansir beritajatim.com.

Untuk itu, tambah Lailurrahman, seharusnya, sebelum pentas dilaksanakan, jauh hari panitia beserta Ridho Rhoma sowan pada ulama di Pamekasan. Sehingga, muncul komunikasi yang baik.

"Dulu saja, Rhoma Irama, sering menemui para ulama. Sehingga, saat akan melakukan konser, kami tahu bahwa konsepnya akan seperti apa. Jadi, harus sowann dulu pada Ulama, sehingga kami akan mengerti apa yang akan ditampilkan," pungkasnya. (min)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang