Warta

Muslim Kenya Lestarikan "Pesantren" ala Rasulullah

NU Online  ·  Selasa, 8 Desember 2009 | 10:10 WIB

Wajir, NU Online
Dari jantung sebuah desa di kota Wajir, wilayah Kenya yang didominasi Muslim, lantunan jernih ayat-ayat suci Alquran bergema memecah kesuyian. Lantunan itu berasal dari para siswa sekolah Alquran di desa tersebut.

Ini merupakan madrasah yang menggunakan sistem tradisional dalam mengajarkan Al-Qur'an. Banyak madrasah sejenis yang sering disebut dugsi (pesantren), tersebar di masjid-masjid yang ada di wilayah timur laut Kenya. Dugsi merupakan sebuah sistem pendidikan Islam (pesantren) yang berkembang di wilayah yang banyak dihuni oleh kalangan Suni dari Somalia.<>

Para sejarawan Islam mengungkapkan, sekolah-sekolah sejenis ini telah ada di Timur Tengah dan Afrika sejak abad ke-7. Jika ditelusuri ke akarnya, sistem pendidikan di sekolah ini juga pernah ada di Arab Saudi pada masa Nabi Muhammad.

Moalim Nur Osman, seorang guru di sebuah madrasah Al-Qur'an di Wajir, mengatakan, sistem tradisional yang diterapkan di madrasah itu mengingatkan pada sistem di masa Rasulullah Muhammad SAW. Sebab, sistem ini memang telah diterapkan pada masa itu.

“Sistem pendidikan Islam tradisional ini berasal dari jaman Nabi Muhammad SAW. madrasah jenis ini sangat populer di Kenya. Kami merasa, madrasah Al-Qur'an dengan sistem tradisional ini telah memainkan peran besar, dalam membentuk kepribadian para pemuda Islam dalam menyebarkan ajaran agama Islam, ” ujar Osman seperti dikutip IOL, akhir pekan lalu (6/12).

Osman tak asal bicara. Ia yang duduk di sebuah kursi tradisional di hadapan sebanyak 70 muridnya, mengatakan, bertahun-tahun dugsi (pesantren) tetap mampu bertahan dan beroperasi memberikan pengajaran kepada para pemuda Islam.

Menurut Osman, meski masih menggunakan sistem pengajaran tradisional, keberadaan dugsi (pesantren) telah mampu melahirkan sebuah lingkungan yang kondusif, tentu bagi para pemuda Islam untuk belajar dan menghafal Al-Qur'an yang merupakan landasan utama dalam pendidikan Islam.

"Paling tidak, dibutuhkan waktu selama tiga tahun bagi seorang siswa untuk bisa menghafal Al-Qur'an. Ini akan menjadi landasan bagi kehidupan para siswa, dan kami yakin di kemudian hari mereka akan menjadi orang-orang yang religius,'' ungkap Osman.

Osman mengatakan, madrasah tempat dirinya mengajar telah berlangsung selama 30 tahun. Selama masa itu pula, madrasah ini meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi para siswanya untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam. (min)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang