Mustasyar PBNU: Tunggu Isbat Pemerintah
NU Online · Ahad, 31 Juli 2011 | 02:41 WIB
Kudus, NU Online
Musytasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengajak ummat Islam dalam mengawali puasa Ramadhan untuk menunggu hasil rukyatul hilal dan isbat (penetapan) pemerintah.
“Apabila Ahad malam Senin (31/7) kelihatan hilal, pagi harinya sudah wajib berpuasa, tetapi bila tertutup mendung pemerintah wajib menetapkan pelaksanaan puasanya mundur sehari yakni hari Selasa (2/8),” tegas KH Sya’roni Ahmadi saat menyampaikan mauidhoh hasanah dalam acara haul Masyayih dan Tahlil Massal di Masjid Asy’syarif Padurenan Gebog Kudus, Sabtu (30/7) siang.<>
Menurut KH Sya’roni, penetapan awal Ramadhan dan hari raya terbitnya hilal ini sudah sesuai dengan hadits yang menyebutkan berpuasalah kalian saat melihat bulan. Meskipun, katanya, dalam perhitungan hisab itu sudah kelihatan, harus masih dibuktikan dengan rukyatul hilal.
“Kalau menggunakan dasar hisab, hanya ahli falak saja yang boleh berpuasa tetapi tidak boleh memberitahukan pada yang lain,” tegas ulama kharismatik yang sering disapa mbah Sya’roni.
Di depan ratusan jamaah yang hadir, KH Sya’roni menambahkan sebagai orang awam, masyarakat tidak perlu melihat bulan secara langsung melainkan cukup menunggu pengumuman isbath dari pemerintah.
“Kalau pemerintah menetapkan puasa, kita wajib mengikutinya,” tambahnya lagi.
Ditegaskan, penetapan (isbath) awal Ramadhan maupun hari raya menjadi kewenangan khusus pemerintah, masyarakat tidak berhak melakukan isbath.
“Meskipun Rais Aam PBNU menetapkan awal Ramadhan misalnya, itu tidak boleh. Kecuali hanya mengabarkan hasil isbath pemerintah saja,” seloroh mbah Sya’roni yang disambut gerr jamaah.
Menyinggung jamaah Naqsabandiyah kota Padang Sumatera Barat yang telah berpuasa hari Sabtu (30/7) ini, mbah Sya’roni menyatakan puasanya tidak boleh diikuti ummat lainnya. Menurutnya, pedoman penanggalan awal puasa tidak ada dalilnya dalam al- Qur’an dan hadits karena hanya berdasar penentuan arah gelombang
“Apalagi hari Sabtu ini dalam hitungan masih tanggal 28 Sya’ban, jadi puasannya tidak sah.” tutur mbah Sya’roni.
Diakhir ceramahnya, mbah Sya’roni mengajak ummat Islam untuk meningkat kualitas iman, taqwa dan amal ibadah selama bulan puasa. “Bagi orang awam, mulai fajar hingga maghrib tidak makan dan minum, itu sudah baik puasanya. Tetapi kualitas iman dan taqwa harus ditingkatkan dengan cara mencegah keinginan nafsu dan meninggalkan larangan Allah,” harapnya lagi.
Sementara acara yang diadakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan ini, berlangsung sederhana namun penuh hidmat. Sejak pagi acara diawali pembacaan kartu arwah ahli kubur masyarakat Padurenan kemudian dibacakan tahlil, siangnya dilanjutkan tahtiman Alqur’an diakhiri mauidhoh hasanah.
Hadir dalam acara tersebut, selain KH.Sya’roni Ahmadi juga tokoh-tokoh kiai desa setempat dan ratusan jamaah muslimin-muslimat desa Padurenan.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor: Qomarul Adib
Terpopuler
1
PBNU Finalisasi SK Kepengurusan Peserta Muktamar Ke-35 dan Road Map NU 25 Tahun
2
Hukum Lomba Mancing Berbayar di Kolam
3
Tim PBNU Tinjau Tiga Pesantren di Cirebon sebagai Calon Lokasi Muktamar Ke-35 NU
4
Prediksi Cuaca 3-9 Juli 2026:Kemarau Berlanjut, Hujan Masih Mengiringi Sebagian Wilayah Indonesia
5
Lokasi Muktamar NU dari Masa ke Masa (Bagian Pertama-Masa Kolonial)
6
Suluk Kajen Diresmikan, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip dan Pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin
Terkini
Lihat Semua