Pemberitaan Media Australia tentang Islam Manipulatif
NU Online · Jumat, 11 September 2009 | 22:16 WIB
Pola pemberitaan jurnalis dan media di Barat, termasuk Australia, umumnya masih sangat bias dan cenderung manipulatif tentang Islam dan situasi Timur Tengah (Timteng) karena realitas faktual sering berbeda dari realitas media yang disajikan ke publik.
Penilaian tentang pemberitaan media Barat yang cenderung manipulatif dan sensasional tentang Islam dan Arab Muslim di Timur Tengah itu mengemuka dalam dialog akademis Sekolah Jurnalistik dan Komunikasi Universitas Queensland (SJC-UQ) bertajuk "Peliputan Islam: Representasi dan Realitas".<>
Dalam dialog akademis yang berlangsung Kamis malam (10/9) di gedung Sir Liew Edwards UQ, St.Lucia, itu, Presiden Perhimpunan Persahabatan Siria-Australia Queensland, Ghenwa A.Kassrawi, bahkan mengatakan, media Barat, termasuk Australia, masih menyajikan berita yang menyesatkan tentang Islam dan Timur Tengah.
"Kawasan Timur Tengah itu tidak semuanya tentang Islam dan Arab Muslim karena ada agama-agama selain Islam di sana. Terus, tidak semua orang Arab beragama Islam karena di sana ada juga penganut Kristen dan Yahudi. Banyak dari mereka itu hidup berdampingan secara harmonis," katanya.
Namun pemberitaan media Barat tentang Islam dan situasi Timur Tengah selama ini justru didominasi oleh pandangan ego-sentris yang sangat bias budaya, katanya.
"Sepatutnya budaya bangsa tertentu diinterpretasi sesuai dengan sistem nilai mereka, bukan sistem nilai wartawan (Barat)," kata , kata Kassrawi yang juga penyiar Radio 4EB FM Brisbane ini.
Dialog akademis yang dipandu SJC-UQ, Anthony Frangi, itu juga menghadirkan Wartawan Belanda yang pernah lama bertugas di Timur Tengah, Joris Luyendijk, Wartawan lepas Australia, John Birmingham, dan Dosen senior JC-UQ, Dr.John Harrison.
Jurnalis Belanda, Joris Luyendijk, memaparkan pengalamannya meliput di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Mesir, Siria, Irak, dan teritori Palestina.
Penulis buku laris di Belanda, "Fit to Print: Misrepresenting the Middle East" (Agustus 2009) ini mengeritik pola dan model pemberitaan banyak media cetak dan elektronika Barat yang sangat bias dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Dalam kasus terorisme misalnya, Luyendijk mengatakan, banyak media Barat menggambarkan bahwa publik Arab Muslim cenderung mendukung Usamah bin Ladin, dan berniat menghancurkan Barat hanya karena tidak ada aksi demonstrasi rakyat menentang pendiri kelompok Al-Qaidah ini.
Menurut dia, realitas bahwa tidak adanya demonstrasi menentang Usamah bin Ladin di banyak negara Timur Tengah itu bukan disebabkan oleh "faktor budaya" melainkan "faktor struktur politik" yang tidak memudahkan rakyatnya untuk menggelar aksi unjuk rasa.
Dosen senior JC-UQ, Dr.John Harrison, pun mengakui bahwa media Barat cenderung memandang situasi Timur Tengah secara "monolitis". (ant/rif)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua