Perkembangan Ekonomi Islam Mengalami Kemajuan Pesat
NU Online Ā· Kamis, 3 Desember 2009 | 04:16 WIB
Perkembangan ekonomi Islam dinilai kalangan akademisi maupun praktisi telah mengalami kemajuan pesat. Salah satu ukurannya adalah semakin menjamurnya lembaga-lembaga keuangan syariāah semacam Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang berdiri di berbagai daerah, bahkan dalam perjalanannya,Ā lembaga keuangan tersebut mampu menjadi kekuatan ekonomi di Indonesia bahkan dunia.
Pernyataan ini diungkapkan Ketua Program Studi Perbankan Syariāah STAI Mathaliul Falah Pati Ahmad Dimyati M Ag saat menyampaikan materi āMencari Jawab atas Kegagalan System Ekonomi Konvensionalā dalam acara Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) tingkat Nasional oleh PC PMII Kudus di Balai Diklat Menawan Gebog Kudus, Rabu (2/11).<>
Menurut Dimyati, salah satu penyebabnya adalah sistem ekonomi Islam dinilai memiliki keunggulan dibanding dengan beragam sistem ekonomi konvensional yang datang silih berganti.
āKendati demikian, dari sudut pandang akademik masih dijumpai persoalan mendasarĀ pada ekonomi Islam tersebut. DiantaranyaĀ belum ditemukan rancang bangun epistemologi yang kokoh sebagai pijakan bagi keilmuannya sehingga memunculkan beragam arus pemikiran. Mulai arus pemikiran otoritas teks-teks liturgis sebagai sumber keilmuan ekonomi Islam danĀ arus pemikiran pragmatisme sertaĀ arus tengah yang mendamaikan dua arus pemikiran sebelumnya,ā terangnya.
Dari sisi praksis, tambah alumni Mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, lembaga keuangan syariāah sebagai kepanjangan tangan ekonomi Islam masih jauh dari ideal. Hal ini bisa dilihat dari penerapan prinsip syariāah model-model transaksinya masih menggunakan sistem perbankan konvensional.
āMakanya jangan heran, bila ada tuduhan, bank-bank syariah tidak berbeda jauh dengan perbankan konvesional. BMT tidak lain dari rentenir berbaju syariāah,ā ujar Dimyati di hadapan peserta PKL.
Untuk menjawab itu, Dimyati mengajukan sebuah hipotesis bahwaĀ ekonomi Islam lahir dari pemahaman terhadap ajaran agama Islam itu sendiri khususnya bidang muāamalah dan maliyah. Begitu pula, dalam menerapkan ajaran agama harus ada upaya kontekstualisasi ruang dan waktu, sehingga tidak mengalami kegagalan.
āMakanya, yang mungkin bisa dilakukan adalah menarik ajaran tersebut menjadi sebuah sistem pengetahuan (ekonomi Islam) dari sisi etikanya,ā tandas dosen yang sedang menyelesaikan disertasi program doktor di UIN Sunan Kalijaga ini. (adb)
Terpopuler
1
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
2
Kisah Rombongan Gus Dur Diberondong Senapan di Timor Leste
3
Resmikan Klinik di Cilacap, Gus Yahya: Harus Profesional, Bukan Sekadar Khidmah
4
Haji 2026: 5.426 Jamaah Aceh Siap Terbang, Ini Rute dan Jadwalnya
5
Hukum MenarikĀ UangĀ Parkir di Lahan Orang Lain
6
Safari Diplomatik Terakhir, Gus Yahya Kunjungi Dubes Federasi Rusia
Terkini
Lihat Semua