Warta

Pesantren Al-ikhlas yang Antikuper

NU Online  ·  Kamis, 9 Februari 2012 | 04:41 WIB

Jakarta, NU Online
Letih karena berat menggendong rasa ingin tahu akhirnya sirna begitu tiba di Pondok Pesantren Al Ikhlas di Ujung, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Pesantren ini ada di ujung kota dan terpencil.
<>
Tapi begitu memasuki wilayah Pesantren yang didirikan 11 tahun silam itu, orang mungkin berasa asing. Bagaimana tidak, di daerah seterpencil itu kita mendapati peralatan berat berupa eskavator.

Bagaimana eskavator itu bisa melalui ruas jalan ke Ujung Bone yang sempit itu?

Entah berapa kilometer jalan sudah dilalui. Yang jelas, untuk mencapai Pesantren Al-Ikhlas dari Makasaar dibutuhkan waktu sekitar lima jam. Melelahkan memang.

Eskavator di Pesantren Al-Ikhlas itu menandakan pembangunan tengah berlangsung. Mekanik dan beberapa petugas sibuk meratakan lahan yang akan dijadikan gelanggang olahraga untuk para santri Pesantren Al-Ikhlas.

GOR dan lapangan sepak bola itu nantinya menjadi penunjang fasilitas olahraga untuk para santri Al-Ikhlas.

Tentu pula akan dinikmati oleh warga yang berdomisili di dekat pesantren tersebut, kata Wakil Menteri Agama Prof. Dr Nasaruddin Umar MA kepada Antara saat berkeliling meninjau pembangunan Pesantren itu.

Ia mengungkapkan GOR ini adalah bantuan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan September tahun lalu.

Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga memang memiliki program bantuan fasilitas olahraga untuk pesantren dan madrasah. Tujuannya, membekali kecakapan sosial kepada anak didik agar nanti bisa mandiri dan berinteraksi dengan baik dalam masyarakat.

Modal sosial

Yang menarik pada acara eletakan batu pertama di GOR itu adalah pernyataan Andi Mallarangeng, bahwa tidak sedikit santri yang "kuper "(kurang pergaulan) begitu selesai nyantri, akibat tak punya modal sosial seperti kecakapan dalam olahraga, pramuka, musik dan sebagainya.

"Olahraga dan program serta kegiatan kepemudaan lainnya adalah modal sosial yang bisa dipakai berinteraksi secara sosial. Hal ini menjadi penting mengingat banyaknya alumni pesantren yang menjadi `kuper` setelah ia terjun ke masyarakat," kata sang menteri.

"Anak-anak didik (pun menjadi) kurang produktif," sambung Andi yang asal Bone itu.

Ketua Yayasan Al-Ikhlas Prof. Dr. Nasaruddin Umar menyatakan terpilihnya Pesantren Al-Ikhlas sebagai penerima bantuan Rp5 miliar, didasarkan pada survei mendalam.

"Meski kami berdua berasal dari Bone, tidak ada unsur KKN di dalamnya karena proses terpilihnya pesantren kami sebagai penerima bantuan telah melalui prosedur dan tahap seleksi yang cukup ketat. Banyak pesantren yang layak menerima bantuan namun mereka tidak memiliki lokasi seperti pesantren kami ini," jelas ketua Yayasan Al- Ikhlas itu.

Ikhwal berdirinya Pesantren Al-Ikhlas, Nasaruddin Umar menyebutkan, pesantren ini dilatarbelakangi semangat orangtua dalam memajukan pendidikan di daerah itu.

"Orangtua saya, puluhan tahun menjadi guru. Ditawari jabatan kepala desa menolak, tetap memilih sebagai pengajar," kenang Nasaruddin.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat dan kembali ke Tanah Air, ia membangun pesantren di Ujung Bone agar orangtua tetap dapat mengabdi sebagai guru.

Jangan sampai setelah pensiun, orangtua jadi post power syndrome, atau turun wibawa merasa tak lagi dihormati dan terpisah dari kelompok.

Gejala ini biasanya tidak begitu disadari oleh yang bersangkutan.

Pedulikan seni

Belakangan, rekan-rekan Nasaruddin dari Amerika dan berbagai tempat menaruh perhatian pada pembangunan Pesantren ini. Beberapa duta besar menyambangi tempat ini, memberi dukungan. Nasaruddin pun mendatangkan guru Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Meski dua bahasa asing sudah diberlakuan sebagai standar pondok pesantren, Nasaruddin melihat di masa depan pesantren ini harus memiliki ciri khas yang membedakannya dari beberapa madrasah lain di tanah air.

Setelah bermusyawarah dengan sejumlah pengajar, keluarlah kesimpulan bahwa Pesantren Al-Ikhlas selain tetap mengedepankan kemampuan spiritual sebagai fondasi dasar, tapi juga harus mampu mengangkat estetika, yaitu kemampuan dalam berkesenian bernuansa Islami.

Misalnya, tari-tarian, seni suara dan kemampuan dalam membaca Alquran sehingga di masa depan nanti Pesantren tersebut mampu menghasilkan santri hafal Alquran dan olah seni membaca Alquran.

Dia mengatakan, agama dan seni itu tak dapat dipisahkan. Seni adalah bahasa universal karena dapat menembus rasa. Sebaliknya nilai agama yang bersifat universal akan terasa kering jika tak diikuti seni.

"Qolbu santri akan terasa kering jika ia tak memperdulikan seni. Agar tak kering, maka qolbu perlu dibasuh berkesenian," kata Nasaruddin.

Berkesenian tidak selalu berkaitan dengan nyanyian. Banyak cabang seni, misalnya seni lukis dan lainnya.

Lalu, para tenaga pengajar di Pesantren Al-Ikhlas sepakat bahwa lembaga mereka ini harus ada di barisan terdepan, dengan selain mengetengahkan nilai spiritual, juga membentuk masyarakat cerdas, memiliki integritas dan mandiri dengan membawa rahmat pada seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Untuk menghindari stigma kuper -- apalagi gagap teknologi-- Wamenag yang juga Ketua Yayasan Al-Ikhlas ini sudah menerapkan program peningkatan kemampuan dan pemahaman informasi teknologi.

Akibatnya, komputer dan laptop sudah tak asing lagi bagi santri di situ.  Sehingga, meski ada di daerah terpencil, santri tetap "up date" dengan zaman.

 


Redaktur: Mukafi Niam
Sumber  : Antara

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang