Pembinaan mualaf di Indonesia memiliki peran penting dalam meningkatkan keimanan mereka. Sayangnya, pembinaan bagi para mualaf masih belum terstruktur. Saat ini pendekatan pembinaan mualaf juga belum menggunakan pendekatan spiritual ataupun intelektual. Padahal mestinya, kedua hal itu digunakan dalam pembinaan terhadap mualaf. Bahkan, bisa dilakukan melalui pendekatan yang lebih lengkap.
Demikian dinyatakan Penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Muhammad Syafii Antonio dalam Workshop Pembinaan Mualaf, di Jakarta, Rabu (20/1). Menurut Syafii, pendekatan finansial juga bisa digunakan dalam melakukan pembinaan terhadap mualaf, selain pendekatan sisi spiritual dan intelektual.<>
''Seharusnya, pembinaan terhadap mualaf dilakukan lebih terstruktur. Saat ini pola pembinaan terhadap mualaf sama seperti pergi ke majelis taklim biasa. Padahal mualaf datang dari latar belakang intelektual yang berbeda. Jika seorang mualaf memiliki latar belakang atau memiliki keahlian di bidang pertanian, misalnya, pembinaan iman terhadapnya bisa dengan pendekatan melalui ayat-ayat yang membahas tentang pertanian,'' katan Syafi'i yang juga dikenal sebagai pakar ekonomi syariah ini.
Lebih lanjut, Syafii mengatakan, hal yang sama bisa dilakukan terhadap para mualaf yang berlatar belakang lainnya. Langkah seperti ini tak menjadi masalah. Sebab, ujar dia, Islam membahas setiap hal yang ada di dunia ini. Ia menambahkan, sering pula para mualaf itu datang dari kondisi yang kompleks, tempat mereka kurang dalam iman, ilmu, dan finansial. Dengan demikian, pembinaan terhadap mualaf jika mestinya mampu mengatasi kondisi kompleks yang dihadapi para mualaf tersebut.
''Ini artinya, selain memberikan pembinaan dalam bidang ilmu dan iman kepada para mualaf, kalau bisa kita juga memberikan pekerjaan kepada mereka,'' terang Syafi'i.
Syafii mengungkapkan pula, sekarang ini pembinaan mualaf masih menyamaratakan latar belakang mereka. Padahal, mereka memiliki latar belakang pemahaman yang berbeda terhadap Islam. Oleh karena itu, sebaiknya mereka tak diberikan buku pedoman tentang keislaman yang sama.
Untuk mengatasi masalah tersebut, jelas Syafii, mekanisme tes awal perlu dilakukan terhadap para mualaf. Melalui tes itu, selanjutnya bisa diketahui sejauh mana seorang mualaf memiliki pemahaman tentang Islam. Dan, pembinaan dilakukan berdasarkan tingkat pemahaman yang mereka miliki.
Syafii mengatakan, dengan kondisi seperti inilah diperlukan silabus atau kurikulum sebagai panduan dalam pembinaan terhadap mualaf. Yaitu, semacam kurikulum berjenjang yang disesuaikan dengan tingkatan pemahaman tentang keimanan Islam. Selain itu, ia menyatakan pula bahwa jumlah mualaf di Indonesia dari tahun ke tahun bertambah.
''Perkiraan kami, pertumbuhan mualaf Indonesia sekitar 10-15 persen setahun di seluruh Indonesia,'' ujar Syafii. Ia mengakui, memang belum ada data yang valid sebab belum ada sistem pelaporan jika seseorang pindah agama dan memeluk Islam. Sedangkan angka kasar jumlah mualaf dari PITI pada awal 2010 ini, mencapai lebih dari satu juta orang.
Pembina PITI yang juga staf Puslitbang Bimas Islam Kementerian Agama, Ahmad Syafii Muhfid, mengatakan hal yang sama. Menurut dia, panduan untuk para mualaf harus disusun lebih terstruktur. Pembinaan disesuaikan dengan pemahaman keimanan Islam awal dari para mualaf yang bersangkutan.
Sementara itu, Ketua Umum PITI, Syarif Tanudjaja, mengatakan, karena masih belum adanya pedoman untuk pembinaan mualaf, tak jarang keimanan para mualaf tak terbangun dengan baik. Ia pun prihatin dengan sejumlah kasus kembalinya para mualaf ke agamanya semula. (min)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain yang Diwakilkan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua