Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menegaskan, pengembangan agama Islam tidak boleh dengan kekerasan. Organisasi masyarakat tidak boleh main hakim sendiri, melakukan kekerasan terhadap pihak lain yang dinilai melanggar hukum. Serahkan kepada aparat keamanan, dalam hal ini polisi.
“NU selalu menegaskan Ansor dan Banser tidak boleh main hakim sendiri. Kekerasan hanya boleh dilakukan aparat pemerintah untuk menegakkan hukum. Kekerasan untuk penegakan hukum diserahkan ke polisi. Jika polisi lemah, ya kita dorong untuk lebih baik dalam menegakkan hukum,” kata Said Aqil Siradj pada pembukaan Konferensi Wilayah NU XI Sumbar, Rabu (28/7/2010) di asrama Haji Parupuk Tabing Padang.<>
Menurut Said Aqil, seperti dilaporkan Kontributor NU Online Bagindo Armaidi Tanjung di Padang,.kekerasan yang marak saat ini salah satu disebabkan kesalahan pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan sekarang merupakan warisan Belanda. Jika dididik di pendidikan agama, mereka taat beragama tapi tak bisa menguasai ilmu eksata, ilmu umum. Sebaliknya, mereka yang dididik di sekolah umum, pintar, bisa menguasai teknologi, namun tak bisa baca yasin.
“Solusinya dari dilema tersebut adalah pendidikan di pesantren. Siang sekolah, malamnya mengaji. Lulusan pesantren banyak yang memiliki kemampuan dalam pengembangan keilmuan. Sebutlah Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid yang sudah menjadi tokoh,” kata Said.
Dikatakan, tidak benar pesantren merakit bom. Pesantren NU tidak pernah merakit bom. Jika ada alumni pesantren merakit bom, sudah pasti bukan pesantren NU. Karena di pesantren tak ada tambahan pelajaran merakit bom.
Lebih baik bodoh tapi baik, ketimbang pintar tapi jahat. Seorang yang pintar tapi jahat, 80 juta hektar hutan dibabat sampai rusak. Sedangkan yang bodoh tapi jahat, paling yang rusak itu hanya puluhan pohon saja. “Orang bodoh ingin maling uang menggunakan golok, paling mampu merampas uang bank Rp 2 miliar. Tapi orang pintar, tidak pakai golok, uang negara bisa hilang mencapai Rp 6,7 triliun,” kata Said menambahkan.
Ikut memberikan sambutan Ketua Panitia Konferensi Wilayah Zainal MS, Rais Syuriah PW NU Sumbar Drs H Amiruddin, Gubernur Sumbar diwakili Febri Erison. Konferwil berlangsung hingga Kamis (29/7/2010) diikuti 19 PCNU di Sumatera Barat. (arm)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua