Bandung, NU Online
Santri dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) diwajibkan untuk menghormati bendera Merah-Putih karena menghormati bendera negara bukan perbuatan musyrik.
"Bagi kalangan pesantren terutama NU, penghormatan terhadap bendera Merah-Putih seperti petilasan untuk menghargai jejak dan jasa pahlawan yang telah berkorban nyawa demi Indonesia merdeka," kata Wakil Ketua Lembaga Kajian Pengembangan SDM NU, Ahmad Baso, di Bandung, Ahad, 26 Juni 2011.
<>
"Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang baik pun menjadi kultur NU yang harus tetap terjaga," katanya.
"Munculnya, paham puritanisasi itu memang sengaja dihembuskan sejak masa kolonial Belanda. Karena Belanda tahu jika pesantren sangat mencintai NKRI dan siap melawan segala bentuk penjajahan," kata Ahmad Baso.
Lebih lanjut disampaikannya, salah satu yang menjadi penyebab mundurnya pesantren NU saat ini adalah karena adanya program modernisasi pesantren.
"Modernisasi madrasah, pembaruan pesantren, dan Reformasi Islam Tradisional tidak ada satupun kini yang membawa maslahat kepada pesantren, tapi justru mudarat," katanya.
"Mulai dari Snouck Hugronje hingga Geertz, dari Deliar Noor hingga Azyumardi Azra dari para peneliti asing hingga peneliti Litbang Departemen Agama dan departemen-departemen garis kesejarahan orang-orang pesantren, semuanya digerakkan oleh desain memotong garis kesejarahan orang-orang pesantren ini dengan tradisi kebangsaannya, serta mengacaukan keberadaan Aswaja," menurut Baso.
Agenda-agenda pembaruan pesantren hanya mereduksi pesantren sebagai sekolah yang tidak ada bedanya sekolah-sekolah lainnya di negeri ini.
Sehingga sistem yang diberlakukan dan didiktekan kepada pesantren adalah sistem sekolahan formalis yang dioperasionalkan oleh anak-anak sekolahan formal saja.
"Wajar dalam logika anak sekolahan ini, madrasah dipertentangkan dengan pesantren, pesantren dibandingkan dengan sekolah unggulan internasional. Ini perlu diluruskan. Pesantren sebagai pendidikan karakter kebangsaan adalah pendidikan seumur hidup yang mendidik dan memperlakukan anak-anak bangsa ini untuk hidup sepanjang hayat bangsa ini," katanya.
Redaktur: Emha Nabil Haroen
Sumber: Antara
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
Kontroversi Gerbong Perempuan, Menteri PPPA Klarifikasi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Terkini
Lihat Semua