Sekjen PBB Desak Israel Akhiri Pendudukan di Palestina
Senin, 16 Januari 2012 | 04:45 WIB
Beirut, NU Online
Sekjen PBB Ban Ki-moon, Ahad mendesak Israel mengakhiri pendudukan atas wilayah-wilayah Palestina, dan mengatakan pembangunan permukiman yang ilegal bertentangan dengan solusi dua negara.
"Pendudukan Israel atas wilayah-wilayah Arab dan Palestina harus diakhiri. Begitu juga aksi kekerasan terhadap para warga sipil," kata Ban dalam satu pidato utama di Beirut pada konferensi mengenai demokrasi di dunia Arab.
<>"Permukiman-permukiman, baru dan lama adalah ilegal. Mereka berusaha menentang terbentuknya srbuah negara Palestina," kata Sekjen PBB itu.
"Solusi dua negara telah lama terlambat. Status quo hanya menjamin konflik masa depan."
Ban tiba di Beirut, Jumat untuk menghadiri satu konferensi bertema "Reformasi dan Transisi menuju Demokrasi" yang diselenggarakan oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA).
Di antara para tokoh yang akan menyampaikan pidato adalah calon kuat presiden Mesir dan mantan ketua Liga Arab Amr Mussa dan Menlu Turki Ahmet Davutoglu, yang negaranya muncul sebagai satu pemain penting regional di Timur Tengah.
Kementerian luar negeri Israel menanggapi komentar-komentar Ban itu dengan mengatakan perudingan sedang berlangsung antara para perundingan Palestina dan Israel adalah jalan terbaik untuk mengatasi kekhawatiran yang diutarakan oleh Sekjen PBB itu.
"Yang hanya dapat saya katakan mengenai masalah ini yang paling penting adalah mempertahankan perundingan untuk menyelesaikan semua masalah termasuk apa yang disebutkan sekjen itu," kata juru bicara kementerian itu, Yigal Palmor.
"Yang paling penting sekarang adalah tidak membahayakan perundingan yang sedang dilakukan."
Para perunding Paletina dan Israel sejauh itu melakukan tiga putaran perudingan "penjajakan " di Jordania untuk membicarakan kemungkinan dimulainya kembali perundingan yang tertunda sejak September 2010.
Tetapi satu perbedaan pendapat yang luas tetap menghambat kedua pihak dalam perundingan-perundingan itu, yang diselenggarakan dibawah pengawasan Jordania dan kelompok Kuartet yang mengusahakan perdamaian, kata seorang pejabat Palestina yang dekat dengan perundigan itu kepada AFP di Ramallah.
"Masih ada perbedaan luas antara kami dan mengenai semua posisi karena pihak Israel tidak mengajukan hal yang baru dan tetap menghambat dimulainya kembali perundingan-perundingan," kata pejabat yang tidak bersedia namanya disebutkan.
Perunding Palestina Saeb Erakat mengatakan perundingan-perundingan di Amman jangan dianggap perundingan-prundingan penuh tanpa pembekuan pembangunan permukiman dan parameter yang jelas.
Sementara itu Israel mengusulkan perundingan langsung agar segera dimulai dan tanpa prasyarat.
Kelompok Kuartet yang terdiri atas PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Rusia, mendesak kedua pihak mengajukan usul-usul luas mengenai perbatasan-perbatasan dan keamanan sebelum 26 Januari dengan harapan perundingan-perundingan dapat dimulai kembali segera setelah itu.
Sejauh ini hanya Palestina telah melakukan itu.
Presiden Palestina Mahmud Abbas kini sedang mengusahakan keanggotasn penuh Palestina di PBB dan pada akhir pekan mengatakan ia akan terus melakukan usaha itu tidak peduli apapun hasil perundingan-perundingan itu.
Redaktur : Hamzah Sahal
Sumber   : Antara
Terpopuler
1
Meninggal Karena Kecelakaan Lalu Lintas, Apakah Syahid?
2
Hukum Quranic Song: Menggabungkan Musik dengan Ayat Al-Quran
3
Menag Nasaruddin Umar akan Wajibkan Pramuka di Madrasah dan Pesantren
4
Surat Al-‘Ashr: Jalan Menuju Kesuksesan Dunia dan Akhirat
5
Haul Ke-15 Gus Dur di Yogyakarta Jadi Momen Refleksi Kebijaksanaan dan Warisan Pemikiran untuk Bangsa
6
Mariam Ait Ahmed: Ulama Perempuan Pionir Dialog Antarbudaya
Terkini
Lihat Semua