Internasional HAJI 2026

Sisi Lain Thaif: Jejak Tulis Jamaah Haji dan Kisah Luka Nabi

NU Online  ·  Jumat, 12 Juni 2026 | 08:30 WIB

Sisi Lain Thaif: Jejak Tulis Jamaah Haji dan Kisah Luka Nabi

Jamaah haji berdoa di Thaif (MCH 2026/Abdullah Alawi)

Makkah, NU Online
Thaif mengenal jamaah haji Indonesia. Ada jejak mereka di kota itu: di dinding toilet, pagar, dan dinding di sekitar makam Abdullah bin Abbas dengan aksi tulis nama. Ada Waluyo, Fitri Bunga, Surya, hingga Dewi. Bahkan ada yang mencantumkan keluarga misalnya: Keluarga Agus Heriana Garut. Ada juga Dita, Dian, Devin dan anak cucu serta ratusan nama lain yang dituliskan dalam waktu yang berbeda.


Tak hanya jamaah Indonesia, tapi dari negara-negara lain juga. Beberapa nama menunjukkan asal Bangladesh, India, hingga Pakistan. Sepertinya ada kesepatakan yang tak resmi, sebagian jamaah menuliskan nama di situ. Mungkin untuk sekadar menyimpan jejak yang bisa ditemui entah oleh siapa, entah kapan. Mungkin juga sebagai doa.


Tak hanya itu, jamaah ada juga yang berziarah ke maqbarah Abdullah bin Abbas. Dalam catatan NU Online 2023, jamaah asal Indonesia dilaporkan berziarah. Karena makam itu tak dibuka dan dikelilingi tembok yang tingginya 5 meter, sebagian jamaah ada yang sempat menaiki pundak jamaah lain.

 

"Posisi kami hanya di luar pagar sambil bertawasul kepada sahabat yang belajar langsung kepada Rasulullah. Untuk melihat secara langsung atau mengintip dari pagar yang berwarna cokelat itu, jamaah bisa memanfaatkan bahu jamaah umrah lainnya untuk dijadikan pijakan," terangnya dalam tulisan Ziarah ke Makam Ibnu Abbas di Kota Thaif yang Sejuk.

 

Pada musim haji tahun ini, jamaah haji asal Jakarta, Solo, dan Lombok tampak berkunjung ke Thaif pada Rabu (10/06/2026). Di antara mereka, ada yang menyempatkan diri ke makam Abdullah bin Abbas. Tampak pula rombongan dari negara-negara lain seperti India, Pakistan, Turki, dan, dilihat dari warna kulitnya, jamaah dari Afrika.

 

Selain berziarah, jamaah haji Indonesia juga berwisata di Al-Hada, menaiki kereta gantung, melihat kelok jalan dengan kendaraaan-kendaraan yang naik dan turun bukit di tebing-tebing batu yang curam.


Konon, di rute kereta gantung itu di antaranya menyimpan jejak perjalanan Nabi Muhammad ke Thaif untuk mengajak penduduknya masuk Islam. Namun, ajakan itu dijawab dengan lemparan batu hingga Nabi berdarah. Kota sejuk itu tak sesejuk penduduknya dalam menerima Islam.


Thaif dalam Sejarah Islam
Thaif merupakan kota penting di wilayah Hijaz yang memiliki sejarah panjang, baik sebelum maupun setelah kedatangan Islam. Kota ini terletak sekitar 60 mil atau 90 km ke arah timur laut dari Kota Makkah, atau sekitar satu 1.5 sampai 2 jam perjalanan. Kota ini berada di dataran tinggi pegunungan, dengan ketinggian sekitar 1.520 meter di atas permukaan laut.


Menurut Philip K. Hitti dalam History of Arab (hlm. 102), Thaif dikenal beriklim lebih sejuk dibanding Makkah dan Madinah sehingga jadi tempat peristirahatan saat musim panas bagi kaum bangsawan dan aristokrasi Makkah.

 

Di kota ini tumbuh pepohonan, dibangun taman-taman kota yang dilengkapi tempat permainan anak-anak. Pada sore Rabu (10/06/2026), misalnya, tak sedikit penduduk Thaif yang bersantai di taman-taman tersebut.

 

Pada masa pra-Islam, Thaif adalah pusat penyembahan berhala al-Lat, salah satu dari tiga berhala utama bangsa Arab. Berhala ini dianggap sebagai dewi pelindung kabilah Thaqif, penduduk asli Thaif (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad SAW, hlm. 159).

 

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, menurut sumber yang sama, saat pasukan gajah pimpinan Abraha bergerak menuju Makkah untuk menghancurkan Ka'bah, penduduk Thaif bersikap kooperatif, mereka memberikan penunjuk jalan kepada pasukan itu agar kuil Lat mereka tidak diganggu (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad SAW, hlm. 159). Tak heran, Thaif kelak sempat menolak dakwah Nabi Muhammad.

 

Tahun Duka Cita dan Penolakan Penduduk Thaif
Pada tahun kesepuluh masa kenabian atau 619 M, Nabi Muhammad kehilangan dua sosok pelindung utamanya. Pertama, Abu Talib, paman yang telah mengasuh dan melindunginya sejak kecil, wafat dalam usia lebih dari 80 tahun. Kehilangannya merupakan pukulan berat bagai Nabi Muhammad karena selama ini dia merupakan perisai utama dan ancaman kaum Quraisy.


Kedua, Khadijah binti Khuwailid, istri yang setia dan sandaran emosional Nabi, sosok yang pertama kali memberi dukungan saat beliau menerima wahyu dan menghiburnya di kala sedih.


​​​​​​​Dalam sejarah kehilangan dua orang itu disebut Amul Huzn.

 

Setelah dua kehilangan kedua orang yang dicintai tersebut, gangguan penduduk Quraisy semakin menjadi-jadi. Karena itu, Nabi Muhammad bersama Zaid bin Haritsah pergi ke Thaif secara sembunyi-sembunyi untuk mencari dukungan dan perlindungan dari kabilah Thaqif (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad SAW, hlm. 157). Namun para pemimpin Thaqif menolaknya secara kejam. Mereka menghasut orang-orang dan anak-anak untuk mengejek serta melemparinya dengan batu hingga Nabi terluka.


Dengan berat hati Nabi dan Zaid mundur meninggalkan Thaif. Menurut satu riwayat Nabi Muhammad SAW bersembunyi di kebun milik kakak beradik Utbah dan Syaibah. Dalam persembunyiannya, Nabi Muhammad berdoa sebagaimana ditulis KH Tatang Astarudin, yang mengutip Imam at-Thabrani dalam al-M’ujam al-Kabir. Doa tersebut artinya:


"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau Ridho kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu."
 

Thaif baru secara resmi menerima Islam setelah ekspedisi Tabuk. Mereka merasa terisolasi karena kabilah-kabilah di sekitarnya sudah lebih dulu masuk Islam. Menurut Haekal (Haekal: hlm. 396) pemimpin mereka, 'Abd Yalail, memimpin delegasi ke Madinah untuk berunding.


Mereka sempat mengajukan syarat-syarat berat: meminta berhala Lat dibiarkan selama tiga tahun dan dibebaskan dari kewajiban salat. Nabi (Haekal: hlm. 397) menurut  menolak keras, menegaskan bahwa "tidak baik agama yang tidak disertai salat."

 

Akhirnya, penduduk Thaif menerima Islam sepenuhnya. Nabi mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Mughira bin Syu'ba ke Thaif untuk menghancurkan berhala al-Lat, menandai berakhirnya paganisme di kota tersebut (Haekal: hlm. 398).


Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Abbas atau Ibnu Abbas yang diziarahi di Thaif adalah sepupu Nabi Muhammad. Selisih umur keduanya terpaut sekitar 50 tahun. Meski demikian, Ibnu Abbas memiliki reputasi tinggi dalam sejarah Islam sebagaimana disampaikan Musrif Diny 2026 KH Cholil Nafis. Menurut dia, Ibnu Abbas adalah sahabat yang langsung didoakan Nabi Muhamamd SAW.


"Beliau adalah salah seorang sahabat yang langsung didoakan nabi. Allahumma faqqihhu fid-din, wa 'allimhut-ta'wil, ya Allah berilah Abdullah bin Abbas sebagai orang yang fakih dalam ilmu agama dan menafsirkan Al-Quran" kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Kantor PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Makkah, Syiyah, Kota Makkah, Jumat (05/6/2026).


​​​​​​​Tak heran kemudian, Ibnu Abbas melahirkan sebuah tafsir Al-Quran yang dikenal dengan Tafsir Ibnu Abbas, salah satu tafsir klasik yang penting dari periode awal Islam. Dia dikenal sebagai salah satu perawi sejarah dan pakar hukum Islam yang kredibel sejak masa awal Islam (Haekal: hlm. 93).


Ibnu Abbas termasuk dalam Bani Hasyim, keluarga terpandang di Makkah yang bertugas mengurus air Zamzam bagi para peziarah . Ketika Nabi wafat pada usia 63 tahun, Abdullah bin Abbas masih sangat muda, sekitar 13 tahun (Haekal: hlm. 97 dan 363).

 

Meskipun masih muda saat Nabi wafat, ia berasal dari keluarga inti yang sangat dekat dengan Rasulullah. Saudara-saudaranya, Fadzl dan Qutham, serta ayahnya, Abbas, adalah orang-orang yang dipercaya untuk memandikan jenazah Nabi (Haekal: hlm. 435). (MCH 2026/Abdullah Alawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang