Pengamat politik dari Universitas Indonesia Arbi Sanit mengingatkan para tokoh agama untuk tidak menggunakan bahasa politik dalam mengingatkan pemerintah.
"Sebagai tokoh agama atau ulama jangan menggunakan bahasa-bahasa atau tindakan politik dalam mengingatkan pemerintah karena politik dan agama dilekatkan menjadi pemecah belah yang kuat," katanya di Jakarta, Senin.<<>br />
Menurutnya, kritik para pemuka lintas agama yang menyatakan kebohongan kepada pemerintah lebih menampakkan bahasa-bahasa politik.
"Kepada penguasa dibilang bohong itu kan tidak ada kesalehan agama di situ. Itu lebih merupakan bahasa politik," katanya.
Ia menambahkan, saat ini banyak tokoh agama yang telah masuk gelanggang politik sehingga bahasa-bahasa politik lebih banyak digunakan dalam mengingatkan pemerintah.
"Jadi tumpang tindih dan lebih kuat muatan politiknya," katanya.
Ia mengatakan, seusai reformasi banyak ulama dan tokoh agama yang terseret ke dalam politik terutama semenjak Gus Dur menjadi Presiden.
"Inikan sebenarnya kelanjutan dari jaman Gus Dur, dulu para kiai terjadi dukung mendukung terhadap Gus Dur saat menjadi Presiden, tapi saat ini situasinya berbalik," katanya.
Dia juga melihat ada kecenderungan menguatnya politik aliran primordial, terutama suku dan agama. Hal ini sangat terasa saat pemilihan kepala daerah yang sangat menonjolkan suku dan agama dalam kampanyenya.
"Saya kira ini kemunduran ideologi," katanya.(ant/hh)
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
2
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
3
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
6
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
Terkini
Lihat Semua