Cerpen

Puasa Bersama Kami

Ahad, 22 Februari 2026 | 15:00 WIB

Puasa Bersama Kami

Ilustrasi (Meta AI)

Cerpen Dimas Jayadinekat
Di kampung kami, suara azan magrib tidak pernah terdengar gagah. Pengeras suara masjid sudah tua dan kadang berdesis seperti napas yang tertahan terlalu lama. Namun, setiap kali suara itu akhirnya pecah di udara, orang-orang tetap menyambutnya dengan wajah lega, seolah dunia baru saja memberi izin untuk kembali hidup setelah seharian menahan lapar.


Di banyak rumah, azan adalah tanda meja makan segera penuh. Di rumah kami, azan lebih sering menjadi penanda bahwa satu hari lagi berhasil dilewati tanpa benar-benar tahu besok akan makan apa.

 

Aku tinggal bersama Ibu, Bapak, dan adikku yang masih kecil, Rafi. Kekurangan di rumah kami bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, seperti retakan halus di dinding yang awalnya tak terlihat, lalu diam-diam melebar sampai seluruh ruangan terasa rapuh.

 

Sejak kecil aku terbiasa melihat Ibu menghitung beras dengan teliti, membagi lauk sekecil mungkin, dan menyebut semua kesulitan sebagai ujian agar terdengar lebih ringan. Bapak bekerja serabutan. Kadang kuli bangunan, kadang mengangkut pasir, kadang pulang tanpa membawa apa-apa selain senyum yang dipaksakan tetap tenang.

 

Karena itu, ketika Ramadhan datang, hidup kami sebenarnya tidak banyak berubah. Orang lain baru belajar menahan lapar, sementara kami hanya melanjutkan kebiasaan lama dengan nama yang lebih suci dan berpahala.

 

Ibu sering bercanda bahwa keluarga kami mungkin termasuk yang paling siap menghadapi puasa karena sudah berlatih sebelas bulan sebelumnya. Ia mengatakannya sambil tersenyum tipis, senyum yang seperti takut terlihat sedih. Bapak biasanya hanya mengangguk pelan, seolah setuju, meski matanya menyimpan kelelahan yang tak pernah ia ceritakan.

 

Ramadhan tahun itu datang bersama kecemasan yang lebih berat. Beberapa minggu sebelumnya proyek bangunan tempat Bapak bekerja dihentikan. Sejak itu ia lebih sering duduk di rumah pada siang hari, menunggu kabar yang tak kunjung datang.

 

“Belum ada panggilan kerja, Pak?” tanyaku suatu pagi.

 

Bapak tersenyum kecil.


“Masih libur panjang,” katanya.

 

Kami semua tahu itu bukan libur.

 

Sahur pertama kami sangat sederhana: nasi putih, sedikit garam, dan teh panas tanpa gula dari satu kantong teh yang dipakai bergantian. Tidak ada yang benar-benar terkejut. Menu seperti itu sudah terlalu akrab bagi kami.

 

Rafi memandangi piringnya lama sekali.

 

“Bu, kalau di surga nanti makanannya juga pakai garam saja, ya?” tanyanya polos.

 

Ibu tertawa kecil, “Di surga kamu boleh makan apa saja.”

 

Rafi mengangguk pelan, lalu berkata tanpa beban, “Kalau begitu, aku mau cepat ke surga saja.”


Sendok di tanganku berhenti. Tidak ada yang berani menjawab. Kalimat sederhana itu jatuh di meja seperti sesuatu yang terlalu berat untuk diangkat.

 

***

 

Hari-hari pertama puasa berjalan lambat. Di masjid, ustaz berceramah tentang keutamaan menahan lapar agar manusia bisa merasakan penderitaan kaum dhuafa. Jamaah mengangguk penuh penghayatan.


Aku ikut menunduk, tetapi di dalam hati muncul pertanyaan kecil yang tak pernah berani keluar, jika lapar adalah cara memahami orang miskin, lalu bagaimana dengan orang miskin yang lapar setiap hari tanpa jeda?

 

Apakah kami sedang memahami sesuatu yang sebenarnya tak pernah berhenti kami rasakan?


Pertanyaan itu kusimpan sendiri. Menjadi miskin sering kali berarti harus pandai diam.

 

Menjelang magrib, jalan kampung berubah ramai. Anak-anak berlarian membawa takjil dari masjid atau dari rumah para dermawan. Bau kolak dan gorengan memenuhi udara, membuat perut yang kosong terasa semakin ringan, hampir seperti melayang.

 

Rafi biasanya berdiri di depan rumah, pura-pura melihat langit.


“Awan itu mirip ayam goreng,” katanya suatu sore.


Aku tahu ia tidak sedang melihat awan.


Hari itu tidak ada yang memberinya takjil. Ia masuk rumah dengan tangan kosong, lalu duduk diam di lantai.

 

“Dapat apa?” tanya Ibu pelan.

 

Rafi menggeleng. “Dapat lihat orang lain makan.”

 

Ibu cepat-cepat berbalik ke dapur. Barangkali agar kami tidak melihat matanya. Kemudian kami hanya berbuka dengan air putih dan dua kerupuk yang dibagi empat.

 

“Aku sudah minum di luar,” kata Bapak.

 

“Aku juga tidak lapar,” kata Ibu.

 

Perutku berbunyi pelan. Tidak ada yang menertawakan. Malamnya, setelah tarawih, aku mendengar percakapan lirih dari dapur.

 

“Beras tinggal sedikit,” bisik Ibu.

 

“Besok saya cari kerja lagi,” jawab Bapak cepat.

 

“Kamu sudah cari tiap hari…”

 

Lama sekali tidak ada suara.Lalu Bapak berkata sangat pelan, “Ramadhan ini jangan sampai ditutup dengan utang.”

 

Aku kembali ke kamar dengan dada terasa penuh sesuatu yang tidak bisa disebutkan.

 

***

 

Beberapa hari kemudian, ada undangan buka puasa bersama di rumah orang paling kaya di kampung. Rafi melonjak kegirangan.

 

“Di sana ada ayam, kan?” tanyanya sambil sibuk membayangkan jajaran menu lezat yang tak pernah dinikmatinya dan siap untuk disantap.

 

“Makan secukupnya saja,” pesan Ibu.

 

“Secukupnya itu berapa?”

 

“Seporsi dengan menu wajar saja.”

 

Rumah besar itu terang oleh lampu dan penuh suara tawa. Meja panjang dipenuhi makanan berlimpah yang bahkan tak pernah kami lihat sekaligus.


Sebelum berbuka, seorang penceramah berkata, “Jangan sampai kita puasa hanya karena tidak punya makanan.”

 

Beberapa orang tertawa kecil. Rangkaian kata itu benar, tapi seperti mengiris dadaku.

 

Aku menunduk. Tiba-tiba aku merasa sangat terlihat sebagai fokus perhatian,

 

Saat makan dimulai, orang-orang mengambil makanan tergesa-gesa. Tapi Rafi mengambil nasi sedikit sekali.

 

“Kenapa cuma segitu?” bisikku.

 

“Takut dibilang rakus,” jawabnya.

 

Dadaku terasa sesak. Baru saat itu aku benar-benar mengerti bahwa kemiskinan bukan hanya soal lapar, tetapi juga rasa malu yang menempel ke mana-mana.
Hari-hari berikutnya semakin berat. Pekerjaan tidak datang. Beras benar-benar habis ketika Ramadhan bahkan belum mencapai pertengahan.

 

Suatu malam kami hanya minum air lalu tidur. Perut kosong membuat tidur terasa panjang dan gelisah.

 

Di tengah malam aku terbangun. Kulihat Bapak duduk sendirian di ruang depan. Tangannya menutup wajah. Bahunya bergetar pelan.
Itu pertama kalinya aku melihat Bapak menangis.

 

Aku kembali memejamkan mata. Perih.

 

Kadang mencintai seseorang berarti harus bersiap untuk pura-pura tidak tahu bahwa ia sedang hancur.

 

Beberapa hari kemudian tubuh Bapak mulai lemah. Ia tetap memaksa keluar mencari kerja, meski langkahnya tak lagi tegap. Ibu melepasnya dengan doa yang panjang, seolah doa itu bisa menggantikan rasa lapar kami.

 

Bahkan, sore itu kami benar-benar tidak memiliki apa pun untuk berbuka selain air putih.

 

Rafi duduk di sampingku dengan wajah kosong. “Kak…” bisiknya pelan. ”Kalau kita lapar terus, Allah tahu, kan?”

 

“Iya,” jawabku cepat, meski tenggorokanku terasa sempit.

 

Rafi terdiam sebentar, lalu bertanya lagi dengan suara yang lebih kecil,


“Kalau Allah tahu… kenapa Dia diam saja?”

 

Aku tidak bisa menjawab. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti azan yang belum selesai.

 

Kami duduk melingkar di lantai, menunggu azan dengan perut kosong dan hati penuh sesuatu yang tak jelas namanya.


Ketika azan akhirnya terdengar lirih dari masjid, kami minum bersama.

 

Air putih itu terasa hangat di dada, entah karena haus, entah karena kami meminumnya sambil menahan banyak hal.

 

Tidak ada makanan. Tidak ada kepastian. Tidak ada janji besok akan lebih mudah.


Namun di tengah diam itu, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sangat pelan, seperti cahaya kecil yang tak terlihat tapi terasa ada.

 

Mungkin beginilah rasanya berharap tanpa suara.

 

Rafi bersandar di bahu Ibu.

 

Bapak menatap lantai lama sekali.

 

Tak seorang pun berbicara.

 

Lalu Ibu berbisik sangat pelan, hampir seperti doa, “Yang penting… kita masih bersama.”

 

Tidak ada yang menjawab. Tetapi untuk pertama kalinya sejak Ramadhan dimulai, kalimat itu terasa cukup untuk membuat kami bertahan sampai esok.

 

Malam turun perlahan. Azan sudah lama selesai.

 

Kami masih duduk di tempat yang sama dengan rasa lapar, lelah, tanpa kepastian.

 

Namun entah mengapa, di meja yang hanya berisi tiga gelas air putih itu, aku mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tak pernah benar-benar kupikirkan. 

 

Barangkali puasa bukan tentang siapa yang paling kuat menahan lapar, melainkan tentang siapa yang tetap mampu menjaga harapan, meski hidup terasa sangat sempit.


Dan mungkin, di antara begitu banyak orang yang berpuasa di luar sana, Tuhan sedang memilih beberapa di antaranya untuk benar-benar merasakan arti bersama.


Puasa bersama lapar dan sabar.

 

Puasa bersama harapan.


Puasa bersama kami.

 

Dimas Jayadinekat, penulis skenario lepas di TVRI dan beberapa rumah produksi, sutradara film pendek. Ia juga aktif menulis sebagai kreator konten di media online. Karyanya yang sudah terbit berupa buku motivasi Rahasia Nekat, serta novel online Mencintai Pelakor.