Kabut di Curug Cipendok memang punya tabiat buruk: datang terlalu cepat seperti debt collector yang tahu kapan orang sedang bokek. Baru jam empat sore, tapi suasana sudah seperti habis magrib. Air jatuh dari tebing tinggi dengan bunyi gemuruh yang bikin orang susah membedakan mana suara alam, mana isi kepala sendiri.
Arga duduk di batu besar dekat sungai sambil melempar kerikil ke air. Muka anak itu kusut macam baju belum disetrika. Di kantong jaketnya ada surat panggilan sekolah yang dari tadi dilipat-lipat sampai hampir sobek.
Masalahnya sederhana, tapi kalau sudah menyangkut remaja laki-laki, harga diri, dan motor, biasanya jadi ribet: balap liar. Motor pinjaman rusak. Yang punya motor ngamuk. Sekolah memanggil orang tua.
Dan Arga tidak punya apa-apa selain wajah yang makin mirip orang kalah judi.
Baca Juga
Percakapan Matahari dan Bulan
“Urip kok kaya ngene...” gumamnya.
Kalau saja hidup bisa dijelaskan sesederhana status WhatsApp, mungkin anak itu tidak perlu duduk sendirian di dekat curug sambil menatap air seperti sedang menunggu jawaban dari langit.
Dari kejauhan datang Najwa membawa payung hitam. Padahal tidak hujan. Najwa memang begitu. Kadang payung dipakai bukan buat melawan hujan, tapi buat berjaga-jaga kalau hidup tiba-tiba runtuh dari atas.
Ia duduk di samping Arga tanpa banyak basa-basi.
Baca Juga
Di Antara Debu dan Takdir Ain Jalut
“Kamu ngilang terus dicari ibumu.”
“Aku lagi males pulang.”
“Karena surat sekolah?”
Arga melirik.
Baca Juga
Cerpen: Keluar dari Dalam Goa
“Intel ya kamu?”
Najwa nyengir kecil. “Mukamu tuh kalau lagi kena masalah kayak ayam habis kalah sabung.”
Arga tertawa tipis, hanya sejenak.
Sudah dua tahun sejak bapaknya meninggal karena kecelakaan truk di jalur Ajibarang. Sejak itu rumah mereka berubah aneh. Bukan rusak secara bangunan, tapi suasananya. Ada rumah yang tetap berdiri, tetapi rasanya seperti reruntuhan.
Baca Juga
Bacaan Al-Fatihah Si Tolhah
Ibunya jualan gorengan sampai malam. Adiknya sering sakit. Dan Arga mulai rajin nongkrong dengan anak-anak yang kalau malam suaranya lebih bising dari knalpot.
Awalnya menyenangkan. Ada sensasi waktu motor melesat kencang tengah malam. Angin mukul muka. Orang-orang teriak. Adrenalin naik. Seolah hidup yang berantakan bisa dilupakan sebentar.
Tapi semua kesenangan murahan memang punya tagihan. Dan tagihan itu sekarang sedang menunggu di rumah.
“Aku kesel,” kata Arga.
Baca Juga
Jejak Kembali ke Cahaya
“Kesel sama siapa?”
Arga diam sebentar.
“Sama Gusti Allah.”
Najwa memandang air terjun yang jatuh tinggi di depan mereka.
Baca Juga
Laki-Laki Bernama Karta
“Air sebesar itu jatuh terus tiap hari,” katanya pelan. “Tapi ora pernah protes.”
“Aku dudu banyu,” kata Arga. Artinya, Saya bukan air.
“Kamu manusia. Harusnya lebih ngerti.”
Kalimat itu nusuk. Lebih nusuk daripada ceramah guru BK yang hobinya bicara seperti podcast motivasi gagal.
Arga menarik napas panjang.
“Aku capek, Najwa.”
Najwa membuka tasnya pelan lalu mengeluarkan mushaf kecil bersampul hijau kusam.
“Bapakku dulu ninggalin ini sebelum wafat.”
Arga menatap mushaf itu sebentar.
“Waktu bapakku meninggal,” lanjut Najwa, “aku juga marah sama hidup. Tapi lama-lama sadar... yang mati itu manusia, bukan kasih sayang Allah.”
Entah kenapa dada Arga langsung sesak. Kalau sudah sedih, kadang orang memang paling benci mendengar kalimat yang benar.
Belum sempat suasana jadi terlalu haru, suara motor mendadak meraung dari arah parkiran. Tiga motor masuk dengan gaya sok jago khas anak nongkrong yang merasa suara knalpot bisa menaikkan martabat keluarga.
Deni datang bersama dua temannya. Arga langsung tegang.
“Itu yang ngajak aku balapan dulu.”
Deni turun sambil merokok. Gayanya seperti penagih utang pinjol yang habis ikut lomba fashion.
“Nih anak malah ngumpet di curug,” katanya. “Utangmu kapan dibayar?”
“Aku belum punya uang.”
“Motor rusak tetap harus ganti.”
Najwa berdiri.
“Ngomongnya santai aja bisa, kan?”
Deni ketawa kecil.
“Wah. Ada pengacara rupanya.”
Arga mulai mengepalkan tangan. Emosi yang selama ini dipendem mendidih lagi seperti air mi instan lupa diangkat.
“Aku bilang nanti kubayar.”
“Pakai apa?” Deni mendekat. “Jual rumah?”
Nah. Kalau hidup itu kompor, kalimat tadi adalah api terakhir.
BUGH!
Tinju Arga mendarat telak di wajah Deni. Perkelahian pecah cepat sekali. Anak-anak muda memang kadang begitu. Belum punya masa depan jelas, tapi gampang sekali mempertaruhkan hidup.
Mereka saling dorong di batu licin dekat aliran sungai. Najwa teriak panik minta berhenti, tapi suara curug terlalu besar. Alam sering tidak peduli pada drama manusia.
Lalu semuanya terjadi seperti adegan film yang dipercepat. Deni terpeleset. Tubuhnya jatuh ke bibir aliran deras.
“DENI!”
Arga refleks melompat mencoba menarik tangannya. Tetapi arus lebih cepat daripada penyesalan. Tubuh mereka terseret beberapa meter sebelum menghantam batu besar. Orang-orang sekitar langsung berlarian datang. Najwa menangis sambil gemetaran.
Dalam hitungan detik yang rasanya panjang seperti azab sinetron Ramadan, Deni akhirnya tersangkut di batu besar dalam keadaan pingsan. Sedangkan Arga berhasil bertahan dengan pelipis berdarah.
Malam turun pelan-pelan. Ambulans datang. Lampu merah biru memantul di kabut hutan seperti suasana mimpi buruk.
Arga duduk di mushala kecil dekat parkiran wisata. Bajunya basah. Tangannya gemetar. Ada darah di jemarinya, dan ia sendiri tidak yakin itu darah siapa. Ia menangis. Bukan karena takut dipenjara. Bukan juga karena takut dimarahi ibunya. Tapi karena baru sadar betapa hidup bisa rusak hanya gara-gara satu emosi yang dibiarkan tumbuh terlalu besar.
Seorang marbot tua duduk di sampingnya. Sarungnya lusuh. Kopiahnya sudah pudar warnanya.
“Curug itu ngajari satu hal,” katanya pelan.
Arga mengusap wajah.
“Apa, Pak?”
“Air jatuh dari tempat tinggi, tapi pas sampai bawah dia nggak pernah merasa paling tinggi.”
Suasanan mendadak sunyi. Hanya suara air dan napas sesak.
“Manusia kalau marah sering merasa dirinya paling benar,” lanjut si marbot. “Padahal marah itu cuma api kecil yang dipelihara ramai-ramai.”
Arga menunduk lama. Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia sujud.
Bukan sujud karena disuruh. Bukan karena takut. Tetapi karena jiwanya memang sudah terlalu capek lari ke mana-mana.
Di luar, Curug Cipendok masih jatuh dengan setia. Airnya tidak pernah berhenti mengalir, seolah sedang mengajari manusia sesuatu yang sederhana: bahwa hidup boleh keras, tetapi hati jangan ikut mengeras.
Karang Anjog, Mei 2026
Riswo Mulyadi, lahir di Banyumas tahun 1968, aktif menulis puisi dan geguritan bahasa banyumasan. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Gigir Bukit Sinawing (2017) Kumpulan Geguritan Banyumasan: Luh Netes Nang Gligire Sinawing (2023), Kini aktif sebagai pendidik di MI Ma’arif NU 1 Cilangkap, Tinggal di Karanganjog Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Banyumas, Jawa Tengah