Daerah

Ansor Aceh Timur Soroti 60 Hari Pascabanjir, Kayu Masih Menumpuk di Lahan Warga

Senin, 26 Januari 2026 | 07:00 WIB

Ansor Aceh Timur Soroti 60 Hari Pascabanjir, Kayu Masih Menumpuk di Lahan Warga

Tumpukan kayu di Desa Rantau Panjang Beudari, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. (Foto: dok istimewa/Helmi)

Aceh Timur, NU Online

Enam puluh hari telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda Desa Rantau Panjang Beudari, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur. Namun, bagi warga desa pedalaman yang berbatasan langsung dengan Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara itu, proses pemulihan terasa berjalan lambat. Jejak bencana masih tampak jelas, terutama dari ribuan batang kayu gelondongan yang hingga kini menumpuk di lahan pertanian dan bekas permukiman warga.


Banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 menghantam desa yang selama ini bergantung pada sektor pertanian. Air bah membawa material kayu dari kawasan hulu, menghancurkan puluhan rumah, merobohkan meunasah, serta meluluhlantakkan kebun nilam, durian, dan tanaman produktif lain yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Dalam waktu singkat, kawasan yang semula tenang berubah menjadi hamparan puing dan kayu berserakan.


Hingga lebih dari satu setengah bulan pascabencana, sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat. Di sekeliling mereka, batang-batang kayu besar sisa banjir masih teronggok utuh, seolah menjadi penanda bahwa pemulihan belum sepenuhnya dimulai. Lahan yang dahulu hijau dan produktif kini tertutup kayu tak bertuan, sehingga warga kesulitan kembali bercocok tanam maupun membangun rumah di atas tapak lama.


Ketua PC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aceh Timur, Zulkarnaini atau akrab disapa Cak Damar, menilai kondisi tersebut sebagai potret lambannya penanganan pascabencana di wilayah pedalaman. Menurutnya, persoalan utama warga Rantau Panjang Beudari bukan hanya soal bantuan logistik, tetapi pembersihan material kayu yang mustahil diselesaikan dengan tenaga manual.


“Kayu-kayu ini bukan hanya menghalangi lahan, tetapi juga menghalangi warga untuk bangkit. Tanpa alat berat, mustahil masyarakat bisa membersihkan ribuan batang kayu itu,” ujar Cak Damar saat meninjau lokasi beberapa waktu lalu.


Ia menjelaskan, selama tumpukan kayu belum dibersihkan, lahan pertanian tidak dapat difungsikan, rumah tidak bisa dibangun kembali, dan roda ekonomi warga pun terhenti. Kondisi ini membuat ketergantungan pada bantuan terus berlanjut, sementara harapan untuk kembali mandiri tertahan.


“Warga di sini bukan tidak mau bekerja. Mereka ingin kembali ke kebun, membangun rumah, dan hidup normal. Namun kondisi lapangan tidak memungkinkan,” katanya.


Rantau Panjang Beudari memiliki karakter geografis yang menantang. Letaknya jauh dari pusat kabupaten dengan akses jalan terbatas membuat desa ini sempat terisolasi pascabanjir. Meski jalur darat perlahan mulai terbuka, penanganan pascabencana dinilai belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan paling mendasar warga, yakni pemulihan ruang hidup dan sumber penghidupan.


Cak Damar menegaskan, kehadiran negara sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini, bukan sekadar simbolik, tetapi melalui kebijakan konkret dan intervensi teknis, seperti penurunan alat berat untuk membersihkan kayu serta perencanaan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga yang rumahnya rusak total.


“Gotong royong itu penting, dan masyarakat Aceh sudah terbiasa saling membantu. Namun ada batas kemampuan warga. Untuk persoalan sebesar ini, negara tidak boleh absen,” tegasnya.


Ia juga menyoroti puluhan kepala keluarga yang hingga kini masih tinggal di tenda darurat. Menurutnya, hidup dalam keterbatasan selama berbulan-bulan sangat rentan memunculkan persoalan kesehatan, psikologis, serta pendidikan anak-anak. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini dikhawatirkan melahirkan persoalan sosial baru.


Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, GP Ansor Aceh Timur, lanjut Cak Damar, berkomitmen mengawal aspirasi warga Rantau Panjang Beudari. Ansor siap menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah agar suara warga di pedalaman tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk informasi dari wilayah perkotaan.


“Kami ingin memastikan penderitaan warga di pelosok mendapat perhatian yang sama. Pemulihan harus adil dan merata,” ujarnya.


Bagi warga Rantau Panjang Beudari, tumpukan kayu itu bukan sekadar sisa bencana alam, melainkan simbol pemulihan yang tertunda dan harapan yang belum sepenuhnya terjawab. Hingga alat berat benar-benar datang dan lahan kembali terbuka, warga masih bertahan, menjaga harapan di tengah puing-puing banjir bandang yang pernah merenggut ketenangan kampung mereka.