Daerah

Asrama di Tambakberas Lestarikan Budaya dengan Konser

Jumat, 27 Juli 2018 | 11:30 WIB

Jombang, NU Online
Berada di pesantren tidak membuat para santri miskin kreatifitas. Seperti yang dilakukan santri ribath (asrama) Bumi Damai Al-Muhibbin Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Mereka menggelar konser islami mini di halaman asrama, Kamis (26/7) malam.

Menurut Ketua Ribath Al Muhibbin Achmad Fauzi Darmawan, konsep yang ditawarkan dalam konser mini ini hampir mirip dengan shalawatan yang dilakukan Habib Syech. Dimana beberapa orang duduk di depan lalu menabuhkan alat musik seperti yang biasa ditampilkan grup banjari dan rebana. Di samping itu, sekitar 3 hingga 4 orang bertugas sebagai vokalis.

"Kegiatan ini merupakan kegiatan mingguan. Hari ini pembukaan pertama setelah liburan panjang,” katanya. Setiap malam Jumat secara bergantian mereka mengadakan shalawatan, khitabah, dibaan. Untuk shalawat konsepnya mirip dengan model Habib Syech. Lagunya pun diambil dari Habib Syech, lanjutnya.

Fauzi mengatakan kegiatan ini bertujuan mengajarkan santri untuk mencintai shalawat Nabi. Selain mendapatkan banyak pahala dan keistimewaan juga dalam rangka mewariskan budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang suka shalawat.

Selain itu, ia menyebutkan kegiatan sebagai hiburan bagi para santri setelah seminggu penuh sibuk belajar di kelas dan sekarang belajar di halaman pondok. Diharapkan kegiatan ini memberikan variasi baru dan membuat para santri terutama yang baru masuk agar nyaman kerasan di pesantren.

"Kegiatan ini yang menyiapkan semuanya dari santri sendiri. Bahkan petugas yang duduk di depan juga para santri,” katanya. Para pengurus mengawal dari belakang. Tapi bukan berati lepas tangan. Karena selama acara pengurus dan pembina mendampingi santri sampai acara selesai, tambahnya.

Konser mini juga bertambah unik dan menarik karena para santri duduk lesehan bersama di halaman pesentren dengan hanya beralaskan terpal. Di tengah shalawatan berlangsung, tampak juga bendera NU dikibarkan para santri sebagai wujud cinta.

Kecintaan para santri dengan NU memang sudah dibangun sejak awal masuk pesantren. Ini terlihat materi Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja yang sering disampaikan pengasuh dan para pengajar di dalam kelas maupun dalam tindakan nyata dengan ziarah kubur dan dibaan.

Santri di asrama ini memang diberikan materi Aswaja ala thariqah Nahdlatul Ulama sejak awal. Rujukan mereka yakni KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) sebagai pendiri dan penggerak NU. “Mbah Wahab lahir di Tambakberas dan merupakan tokoh yang dihormati. Jadi kalau keluar dari NU, maka tidak memiliki sopan santun kepada Mbah Wahab," pungkas Fauzi. (Syarief Rahman/Ibnu Nawawi)


Terkait