Daerah

Banjir Musiman Rendam Kudus, Aktivitas Warga dan Pondok Pesantren Terkendala

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:45 WIB

Banjir Musiman Rendam Kudus, Aktivitas Warga dan Pondok Pesantren Terkendala

Banjir di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (14/1/2025). (Foto: dok istimewa/Eko Waluyo)

Kudus, NU Online

Banjir kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terutama di kawasan Kudus Timur. Bencana yang kerap terjadi setiap musim hujan ini berdampak langsung pada permukiman warga hingga lembaga pendidikan keagamaan, termasuk pondok pesantren di wilayah Kauman, sehingga aktivitas pembelajaran dan pengajian santri terganggu.


Eko Waluyo, relawan Masjid Darussalam Dukuh Karanganyar, Desa Payamanan, mengatakan banjir di wilayah Kudus Timur hampir selalu terjadi setiap tahun. Menurutnya, Kecamatan Undaan dan Kecamatan Mejobo merupakan daerah langganan banjir musiman.


“Setiap musim hujan pasti banjir, khususnya di Kecamatan Mejobo bagian selatan,” ujar Eko kepada NU Online, Rabu (14/1/2026).


Ia menjelaskan, sejumlah desa seperti Payaman, Kirig, Temulus, Mesambi, dan Jojo berada di wilayah cekungan atau dataran rendah yang berfungsi sebagai embung alami. Kondisi tersebut membuat kawasan itu menjadi tempat berkumpulnya aliran air dari daerah lain.


“Air dari wilayah utara Kudus seperti Kecamatan Dawe, Bae, dan Jekulo mengalir ke sini. Sementara jalur pembuangan ke arah Kabupaten Pati biasanya sudah lebih dulu banjir, sehingga air di wilayah ini surutnya cukup lama,” jelasnya.


Dalam situasi banjir, relawan kerap menghadapi kendala akses menuju lokasi terdampak. Untuk menjangkau wilayah yang sulit dilalui, tim relawan menggunakan perahu, baik milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun milik warga setempat.


Terkait pendistribusian bantuan, Eko menyebutkan logistik umumnya ditampung terlebih dahulu di posko balai desa sebelum disalurkan kepada warga terdampak. Selain itu, sebagian bantuan juga disalurkan melalui posko masjid atau langsung diberikan oleh relawan kepada warga yang memilih bertahan di rumah.


Meski demikian, ia menilai distribusi makanan siap saji masih perlu dibenahi. Keterbatasan akses, waktu tempuh yang lama, serta kurangnya koordinasi antar-relawan kerap menyebabkan keterlambatan distribusi.


“Akibatnya, makanan siap saji yang dikirim terkadang sudah basi saat sampai dan diterima warga,” ungkapnya.


Ia berharap koordinasi antar-relawan serta manajemen distribusi logistik dapat ditingkatkan agar bantuan yang disalurkan benar-benar layak konsumsi dan tepat sasaran.


Hal senada disampaikan Lailatur Robihah, santriwati Pondok Pesantren Darul Ulum Putri Kauman, Ngembalrejo, Bae, Kudus. Ia menuturkan banjir mulai terjadi sejak Jumat lalu akibat hujan yang turun hampir sepekan penuh. Sungai di samping pondok meluap hingga air masuk ke area pesantren dan permukiman warga.


“Puncak ketinggian air di sekitar pondok antara selutut sampai sedada,” ujarnya kepada NU Online.


Menurut Lailatur, kawasan Kauman Ngembalrejo hampir setiap tahun terdampak banjir. PP Darul Ulum sendiri memiliki tiga kompleks pondok, yakni PP Darul Ulum Putra bagian selatan, PP Darul Ulum Putra bagian tengah, dan PP Darul Ulum Putri.


“Dua pondok putra terdampak paling parah karena posisinya lebih rendah. Air langsung masuk ke area pondok. Sementara pondok putri terdampak di bagian dapur yang lokasinya dekat sungai,” jelasnya.


Akibat banjir, kegiatan pembelajaran dan pengajian santri terpaksa dihentikan sementara. Sekolah diniyah diliburkan karena ruang belajar dan tempat mengaji terendam air.


“Yang paling terasa, pembelajaran di pondok jadi terhambat. Ngaji bersama Romo Yai juga harus libur karena tempatnya kebanjiran,” katanya.


Selain itu, banjir susulan dan lumpur yang harus dibersihkan berulang kali membuat persediaan logistik santri menipis. Akses ke pasar yang terendam banjir juga menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.


“Baru dapat bantuan nasi bungkus dua kali, beras lima kilogram, dan roti dari pemerintah. Kalau tidak ada nasi, biasanya kami makan mi instan,” tuturnya.


Ia menyebutkan kebutuhan mendesak saat ini meliputi air minum, beras, dan bahan makanan lainnya. Meski demikian, ia mengapresiasi respons pemerintah daerah yang dinilai cukup cepat.


“Pak Bupati Kudus sudah turun langsung melihat kondisi korban banjir. Tapi kami berharap ada solusi agar banjir tidak menjadi rutinitas setiap tahun,” pungkasnya.