Daerah

Berkah Ramadhan, Harga Jual Kolang-kaling di Leuwiliang Bogor Naik

Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:00 WIB

Berkah Ramadhan, Harga Jual Kolang-kaling di Leuwiliang Bogor Naik

Proses pengolahan buah aren (caruluk) menjadi kolang-kaling di Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/2/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Bogor, NU Online

Di satu sudut Desa Pabangbon, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, asap dari tungku besar mengepul sejak pagi. Di sanalah Susi Fatmawati (32) menghidupkan usaha kolang-kaling—atau caruluk dalam bahasa Sunda—yang telah ia rintis sejak 2010. 

 

Ketika NU Online menemui, tangan Suci tak pernah benar-benar berhenti bekerja, begitu pula para karyawan yang membantunya. Dari hutan hingga ke pasar, perjalanan kolang-kaling bukanlah proses yang singkat; dari buah pohon aren yang dapat menyebabkan gatal hingga menjadi hidangan takjil yang sering kita jumpai.

 

Susi membeli buah langsung dari pemilik pohon. Satu pohon yang berbuah bisa ditebus seharga Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung jumlah tandannya. Setelah ditebang dan diangkut, bahan baku itu dipotong dari gagangnya, lalu direbus selama tiga jam. 

 

“Habis direbus, dikupas, digetrek (dipipihkan), direndam, dicuci, dan direndam lagi, baru dijual,” ujar Susi, merinci tahapan pengelolaan kolang-kaling, pada Jumat (27/2/2026).

 

Proses perendaman bisa memakan waktu empat hingga lima hari, dan harus menggunakan air bersih—tidak boleh menggunakan air hujan.

 

“Kalau kena air hujan, jelek, enggak putih. Warna putih bersih itu menjadi penanda kualitas, sekaligus daya tarik pembeli," terang Susi.

 

Usaha Susi sudah berjalan bertahun-tahun, dan saat Ramadhan tiba selalu membawa berkah tersendiri. Menurutnya, jika pada bulan-bulan biasa harga hanya Rp5 ribu sampai Rp6 ribu per kilogram, maka saat Ramadhan bisa melonjak hingga Rp12 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram. 

 

"Bulan puasa tahun lalu, harganya masih berkisar Rp8 ribu sampai Rp9 ribu. Kalau tahun ini 'ada' harganya. Nah alhamdulilah kenaikan itu menutup mahalnya bahan baku dari hutan dan ongkos tenaga kerja yang terus meningkat," katanya.

 

Pada saat yang sama, dua pekerja laki-laki bertugas mengerjakan bagian berat, seperti memisahkan kolang-kaling dari tangkai dan merebusnya, sementara sembilan hingga sepuluh perempuan bekerja mengupas dan memipihkan. 

 

"Para pengupas dibayar Rp1 ribu per liter hasil kupasan. Sebagian hasil produksi dijual ke pengepul yang datang langsung ke lokasi, lalu didistribusikan ke pasar-pasar sekitar, bahkan hingga Jakarta," jelas Susi.

 

Bagi Susi, usaha ini bukan sekadar soal untung rugi. Ada harapan yang ia gantungkan pada setiap rebusan dan rendaman.  “Harapannya biar lebih maju lagi usahanya, biar tambah barokah,” tuturnya.

 

Para pekerja pembuat kolang-kaling tidak dipandang dari usia. Dengan usia yang tak lagi muda, Nati (80) tetap semangat bekerja dan beraktivitas, walaupun sembari puasa. 


Tubuhnya renta, namun semangatnya terlihat tak surut. Sudah sekitar lima tahun ia bekerja mengupas kolang-kaling. Suaminya, yang sakit selama dua tahun terakhir, membuatnya harus tetap bekerja membantu perekonomian keluarga.

 

"Alhamdulillah, ya itung-itung bisa beli beras. Apalagi suami saya sedang sakit, jadi saya yang harus bekerja," katanya penuh semangat.