Daerah

Cegah Risiko Bencana Alam, IKAQ Jabodetabek Tanam Pohon di Lereng Gunung Salak Bogor

Senin, 27 Juli 2026 | 08:30 WIB

Cegah Risiko Bencana Alam, IKAQ Jabodetabek Tanam Pohon di Lereng Gunung Salak Bogor

Gerakan tanam pohon oleh IKAQ Jabodetabek, Ahad (27/7/2026) di lereng Gunung Salak Bogor Jabar (Foto: IKAQ)

Bogor, NU Online

Ikatan Keluarga Alumni Qudsiyyah (IKAQ Jabodetabek) dan sekitarnya menyerukan Gerakan Menanam Pohon kepada masyarakat, khususnya yang berada di kawasan lereng Gunung Salak, Bogor Jawa Barat. Agenda ini jadi bagian upaya mengurangi efek rumah kaca, meneduhkan cuaca permukaan bumi dan menghindari bencana,


Dalam seruan gerakan ini, IKAQ Jabodetabek dan sekitarnya melakukan penanaman secara simbolis berbagai pohon buah dan pohon kayu di sepanjang jalan Desa Cibunian Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, Ahad (26/7/2026)


Gerakan Menanaman Pohon ini dilakukan bersama masyarakat, stake holder Desa, Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (PC Fatayat NU) Kabupaten Bogor, Pesantren Ciganjur Jakarta Selatan, dan mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (PAI UNJ) yang sedang melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Cibunian. Penanaman pohon dilakukan di sepanjang jalan desa, area bekas dan rawan longsor serta tanah-tanah penduduk. 

 

Ketua IKAQ Jabodetabek, H Syaifullah Amin menyatakan bahwa Gerakan Menanam Pohon ini juga diikuti dengan pengobatan gratis, dakwah kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi generasi muda dari berbagai ancaman globalisasi termasuk penggundulan hutan, ancaman dekadensi moral dan bahaya negatif zaman digital. 

 

Menurutnya, selain ancaman longsor berkurangnya sumberdaya air akibat penggundulan hutan yang secara langsung dirasakan dampak negatifnya oleh masyarakat di sekitar lereng gunung, mereka juga menghadapi ancaman yang sama dengan masyarakat perkotaan, yakni dekadensi moral dan  media sosial di zaman digital seperti individualisme yang mengancam semangat gotong royong serta Hoax yang bertebaran melalui perangkat handphone. 


"Penanaman pohon adalah juga upaya preventif untuk menghindari bencana tanah longsor dan berkurangnya sumberdaya air yang dirasakan langsung dampaknya oleh mereka yang tinggal lereng-lereng gunung. Sehingga gerakan Menanaman Pohon  adalah sarana yang tepat untuk menghijaukan kembali area-area rawan dan bekas longsor," tuturnya. 


Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Kang Amin ini menjelaskan, program penanaman pohon ini dilaksanakan bebarengan dengan tabligh atau dakwah keagamaan, pengobatan gratis, santunan, bazar murah dan juga pembagian Al-Qur'an dan buku-buku keagamaan kepada Masjid-masjid dan masyarakat setempat. 


Sementara itu ketua panitia pengabdian masyarakat PAI UNJ Dzakirwan Rais menyatakan sangat terbantu dengan adanya program dan kerjasama dengan IKAQ Jabodetabek. Pria asal Riau ini mengungkapkan, "Selain program pengabdian masyarakat menjadi lebih lengkap, kami juga sangat terbantu dengan adanya tambahan item korban dan pengisi acara."

 

Rangkaian Aksi Muharram 

Gerakan Menanaman Pohon yang diselenggarakan IKAQ Jabodetabek dan sekitarnya ini merupakan kelanjutan dari Aksi Muharram yang diselenggarakan dalam bentuk layanan kesehatan gratis, bekam gratis dan santunan yatim piatu dan dhuafa di desa Ciater Tangerang Selatan seminggu sebelumnya.


Dalam Aksi Muharram ini IKAQ Jabodetabek dan Sekitarnya bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Tangerang dan Komunitas Santri Nusantara. 

 

"Layanan bekam gratis untuk masyarakat diselenggarakan dalam rangka memasyarakatkan nilai-nilai dan praktik tibbun nabawi (pengobatan ala nabi) serta kearifan Nusantara yang terus terkikis oleh modernisasi. Dengan bekam dan tibbun nabawi masyarakat kita ajak untuk hidup sehat dengan cara yang murah dan bijak," tandas Kang Amin. 


Aksi Muharram yang kali ini terdapat Gerakan Menanam Pohon ini merupakan program tahunan IKAQ Jabodetabek dan Sekitarnya dalam rangka meneruskan tanggungjawab dakwah serta pengabdian masyarakat untuk mengupayakan kemanfaatan ilmu yang diperoleh selama belajar di Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus. 

 

"Meski sudah lulus dari bangku kelas di madrasah, namung proses belajar dan pembelajaran harus terus dilakukan sepanjang usia di kandung badan. Dan inilah upaya kami untuk terus belajar bersama masyarakat," pungkasnya.