Jember, NU Online
Riak-riak intoleransi dan ancaman pertikaian yang berlatar belakang sentimen agama dan primordialisme tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, jika tidak ditangani dengan seksama, hal tersebut akan menjadi pemantik yang bisa meledakkan sekaligus meluluhlantakkan keutuhan bangsa Indonesia. Karena itulah, keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) terasa begitu penting.
“Kami tak henti melakukan dialog dan pendekatan serta memfasilitasi terjadinya hubungan yang baik antartokoh semua agama,” kata Ketua FKUB Kabuapten Jember, Gus Abdul Muis di sela-sela silaturahim di aula LDII Jember, Kamis (12/7) malam.
Menurutnya, jika penganut antar agama sudah rukun dan bisa hidup berdampingan, maka boleh dibilang pertikaian sudah selesai. Sebab, pemicu konflik yang berdarah-darah di banyak belahan dunia, sumbernya adalah sentimen agama selain perebutan sumber ekonomi.
“Indonesia yang dihuni oleh sekian penganut agama berbeda, wajib dijaga kerukunan antarpenganutnya,” urainya.
Namun perlakuan pemerintah terhadap FKUB masih kurang maksimal. Terbukti, sudah tiga tahun terakhir FKUB Kabupaten Jember tidak pernah mendapat kucuran dana. Kendati demikian, lanjut Gus Muis, pihaknya tidak patah arang untuk terus berjuang, mengampanyekan dan memfasilitasi kerukunan antarumat beragama.
“Kita tetap bergerak melakukan koordinasi dan silaturahim dengan seluruh kelompok lintas agama untuk menjaga kerukunan di Jember. Lebih-lebih saat ini, tahun politik,” ungkap Gus Muis
Ia menambahkan, satu-satunya sumber pendanaan FKUB Jember berasal dari Kementerian Agama. Walaupun nominalnya sangat kecil dan tidak cukup untuk biaya operasional kantor dan kegiatan FKUB, namun patut disyukuri karena sangat membantu misi FKUB sendiri.
“Untuk itu, saya berharap agar model silaturahim ini bisa mengatasi kekurangan dana itu. Yang penting Jember harus aman, akur dan rukun,” harap Gus Muis.
Tokoh Budha Jember, Jainal mengaku sangat senang bisa bertemu dan berkumpul dengan tokoh lintas agama untuk membahas isu pentingnya kerukunan di Jember. Untuk itu Jainal mengaku siap jika bulan depan pertemuan FKUB dilakukan di vihara. “Bulan Agustus kita siap jadi tuan rumah di vihara,” ujarnya berbinar.
Hal senada juga diungkapkan tuan rumah pertemuan (LDII) Jember, Malik. Menurutnya, kapan pun jika dibutuhkan pihaknya siap menjadi tuan rumah rapat pertemuan antartokoh lintas agama. “Kami selalu siap, dengan fasilitas yang kami miliki,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)