Jember, NU Online
Salah satu elemen yang dianggap paling mumpuni untuk meredam konflik keagamaan dan gerakan ideologisasi radikalisme adalah santri. Sebab, secara umum santri mempunyai bekal ilmu agama yang cukup untuk menghadapi propaganda ideologi kelompok radikal. Sehingga argumentasi provokatif kelompok radikal bisa dipatahkan dengan mudah.
“Saya kira santri mampu untuk menghadapi gerakan ideologisasi paham radikal,” kata Muhammad Muslim. Hal tersebut disampaikan pengurus Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jember, Jawa Timur ini saat menjadi narasumber pada diskusi publik Membentengi Pesantren dan Masyarakat dari Sikap Intoleransi, Hoaks dan Paham Radikal. Kegiatan diselenggarakan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Taman Baru, Desa Glagahwero, Kalisat, Jember, Senin (23/7).
Pria yang juga Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jember ini, menambahkan, Jember termasuk daerah yang cukup rawan terjadi konflik seiring munculnya kelompok intoleran di berbagai tempat. Ia memastikan bahwa aktifis radikal di Jember masih aktif meskipun organisasimya telah dibubarkan.
“Mereka masih sangat aktif bergerak di tengah-tengah masyarakat melakukan ideologisasi radikal dengan cukup militan,” ungkapnya.
Menghadapi itu semua, kaum santri masih menjadi kunci meminimalisir konflik. “Tapi santri harus dibekali dengan kemampuan dakwah kekinian, agar bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi,” ungkapnya.
Mantan jurnalis di banyak media ini memaparkan peta daerah yang berpotensi konflik di Jember, yaitu Jember selatan dan Jember kota bagian selatan. Sedangkan Jember utara relalif aman. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari soal ekonomi, ideologi, metode dakwah hingga politik.
“Konflik tetap menjadi ancaman, namun kita tak boleh menyerah,” jelasnya (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)