Di Bawah Tenda Pengungsian, Senyum Anak-Anak Linge Kembali Menyala
Sabtu, 24 Januari 2026 | 13:00 WIB
Aceh Tengah, NU Online
Terik matahari siang itu terasa menyengat di Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Di halaman SD Negeri 11 Linge, deretan tenda pengungsian warna oranye milik BNPB berdiri diam, menjadi saksi bisu perjuangan warga yang masih bertahan pascabencana banjir dan longsor. Namun pada Minggu (18/1/2026), di bawah tenda-tenda itulah, tangis dan tawa anak-anak berpadu dalam sebuah peristiwa kecil yang sarat makna: khitanan massal gratis bagi anak-anak pengungsi.
Sebanyak 15 anak dari empat kampung, Pantan Nangka, Mungkur, Gewat, dan Simpang Tiga Uning, mengikuti khitanan massal yang diinisiasi Forum Kepala Puskesmas se-Aceh Tengah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Aceh Tengah. Bagi anak-anak itu, hari tersebut bukan sekadar menjalani prosesi sunat, tetapi juga momentum untuk kembali merasakan perhatian dan kehangatan di tengah kehidupan pengungsian yang serba terbatas.
Tenda-tenda oranye yang biasanya menjadi tempat berlindung dari hujan dan dinginnya malam, siang itu berubah menjadi ruang layanan kemanusiaan. Tim medis Dinas Kesehatan Aceh Tengah bekerja dengan penuh kehati-hatian, sementara relawan menghibur anak-anak dengan dongeng dan permainan. Di sudut lain, ibu-ibu menunggu dengan wajah cemas bercampur harap, memeluk erat balita mereka yang turut diperiksa kesehatannya.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah, Tgk Mursyidin, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memandang khitanan massal ini sebagai ikhtiar kemanusiaan yang bernilai ibadah. Menurutnya, di tengah suasana bencana, perhatian terhadap anak-anak menjadi sangat penting, karena merekalah kelompok paling rentan sekaligus harapan masa depan.
“Bencana tidak hanya merusak rumah dan kebun, tetapi juga meninggalkan luka batin, terutama pada anak-anak. Kegiatan seperti ini bukan hanya layanan kesehatan, tetapi juga bentuk kasih sayang dan penguatan mental mereka,” ujar Tgk Mursyidin dengan suara lirih.
Ia menambahkan, tradisi khitan dalam Islam mengandung makna kesucian dan kesiapan memasuki fase kehidupan yang lebih matang. Melaksanakannya di tengah kondisi darurat, kata dia, justru menunjukkan bahwa nilai-nilai agama tetap hidup dan menyertai umat dalam kondisi apa pun.
Selain khitanan massal, kegiatan sosial tersebut juga dirangkai dengan trauma healing, pemeriksaan kesehatan gratis, pengobatan massal, pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), serta pelayanan Keluarga Berencana (KB) gratis. Semua layanan itu diberikan langsung di lokasi pengungsian, mendekatkan negara dan masyarakat kepada warga yang masih berjuang memulihkan hidupnya.
Sekretaris PCNU Aceh Tengah, Tgk. Musliadi Rishna, menilai kegiatan ini sebagai wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam merawat nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kehadiran layanan sosial di pengungsian memberikan pesan kuat bahwa para korban bencana tidak sendirian.
“Di bawah tenda-tenda sederhana ini, kita melihat bagaimana solidaritas bekerja. Anak-anak kembali tersenyum, orang tua merasa diperhatikan, dan masyarakat mendapatkan harapan untuk bangkit,” kata Tgk Musliadi.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Miftahuddin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sosial berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana. Ia menyebut, khitanan massal di Kecamatan Linge merupakan kali kedua yang dilakukan setelah sebelumnya 47 anak mengikuti kegiatan serupa di Kecamatan Bintang.
“Hari ini kita melaksanakan pengobatan massal sekaligus sunat massal untuk masyarakat Pantan Nangka, Mungkur, dan Gewat. Dari 25 anak yang terdaftar, 15 anak telah menjalani khitan hari ini, dan sisanya akan dilakukan secara bertahap,” jelasnya.
Kegiatan ini juga mendapat perhatian langsung dari Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si, yang menyempatkan diri meninjau lokasi, menyapa anak-anak, dan memberikan semangat kepada para orang tua di pengungsian. Kehadiran pimpinan daerah itu memberi penguatan moral bagi warga yang masih menanti kepastian hunian dan pemulihan kehidupan.
Di antara para orang tua, Rabiana, warga Pantan Nangka, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Anak laki-lakinya menjadi salah satu peserta khitanan massal hari itu. “Alhamdulillah, kami sangat senang. Gratis untuk anak-anak kami, banyak dokternya, pelayanannya bagus. Dalam kondisi bencana seperti ini, kami merasa sangat terbantu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun di balik rasa syukur itu, terselip harapan yang lebih besar. Rabiana berharap perhatian pemerintah terus berlanjut, terutama menjelang bulan suci Ramadan. “Kami mohon ke depan bisa dibangun hunian sementara. Korban bencana masih banyak, dan kami belum bisa ke mana-mana,” tuturnya lirih.
Di bawah terik matahari dan naungan tenda oranye, khitanan massal itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi warga Kampung Pantan Nangka dan sekitarnya, ia adalah penanda bahwa di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, kepedulian masih tumbuh. Senyum anak-anak yang baru dikhitan menjadi saksi, bahwa harapan dapat kembali menyala, bahkan dari tempat pengungsian yang paling sunyi.