Guru di Tangsel Dilaporkan ke Polisi Hanya karena Beri Nasihat ke Muridnya, Dituduh Lakukan Kekerasan Verbal
Kamis, 29 Januari 2026 | 13:45 WIB
Christiana Budiyati (55) mengajar di SDK Mater Dei, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten kini menghadapi ancaman hukuman dari pelaporan orang tua dari muridnya. (Foto: instagram @dinogabrl)
Jakarta, NU Online
Kasus pelaporan dugaan kasus kekerasan verbal terhadap seorang guru honorer kembali mencuat di publik. Guru bernama Christiana Budiyati (55) selama ini mengajar di SDK Mater Dei, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten dilaporkan karena tuduhan tindakan kekerasan verbal kepada salah satu muridnya.
Peristiwa yang kemudian berujung pada pelaporan terjadi pada Agustus 2025, saat kegiatan lomba sekolah berlangsung. Kala itu, seorang murid terjatuh dan meminta bantuan kepada temannya untuk menggendong, namun tidak segera mendapatkan pertolongan. Murid tersebut akhirnya dibantu oleh salah satu orang tua murid yang berada di lokasi.
Sebagai wali kelas, Bu Budi, sapaan akrabnya, kemudian menyampaikan nasihat kepada seluruh murid secara umum agar lebih bertanggung jawab dan saling peduli satu sama lain. Nasihat tersebut disampaikan tanpa kata-kata kasar dan tanpa menyudutkan murid tertentu. Namun, nasihat edukatif tersebut dipersepsikan berbeda oleh salah satu pihak dan dianggap sebagai bentuk kemarahan di depan kelas.
Meski telah dilakukan upaya mediasi secara kekeluargaan, pihak keluarga murid memilih memindahkan anaknya ke sekolah lain dan melaporkan Bu Budi ke sejumlah lembaga, antara lain lembaga masyarakat, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan Provinsi, serta Polres Tangerang Selatan, dengan tudingan melakukan kekerasan verbal.
Sejak pelaporan tersebut, Bu Budi yang masih berstatus guru honorer itu harus menjalani proses pemeriksaan untuk menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya. Beban psikologis pun dirasakan oleh Bu Budi, meski ia telah mengabdi sebagai pendidik selama lebih dari tiga dekade.
Pihak keluarga menegaskan bahwa Bu Budi bukanlah sosok yang menggunakan kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih kepada murid sekolah dasar. Ia mengajar di lingkungan sekolah Katolik yang menjunjung tinggi nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan pembentukan karakter, sehingga setiap teguran yang disampaikan selalu berangkat dari nilai mendidik.
Kronologi kasus ini diungkapkan oleh putra Bu Budi, Dino Gabriel, melalui akun Instagram pribadinya, @dinogabrl. Ia menyampaikan bahwa ibunya kini didampingi oleh pihak sekolah serta pengacara dalam menghadapi proses hukum yang berjalan.
“Saya mengajak teman-teman yang mengenal ibuku, baik alumni, orang tua murid, maupun rekan yang pernah berinteraksi langsung, untuk memberikan dukungan melalui petisi yang tertera di bio akun saya,” tulis Dino.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang bersedia memberikan dukungan, termasuk mereka yang belum pernah berinteraksi langsung dengan Bu Budi.
Dino menambahkan bahwa dukungan tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap integritas dan dedikasi ibunya sebagai tenaga pendidik. Pascapelaporan, Bu Budi tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Ia tetap mengajar, tetap hadir untuk murid-muridnya, dan tetap meyakini bahwa kebenaran akan menemukan jalannya.
“Aku hanya bisa berdiri di barisan paling depan untuk menjaga, menemani, dan membela ibuku dengan cara yang aku mampu, karena aku percaya Tuhan tidak tidur,” imbuhnya.
Dino juga mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah meluangkan waktu untuk membaca, membantu menyebarkan informasi, serta memberikan dukungan. Menurutnya, dukungan sekecil apa pun sangat berarti bagi Bu Budi di tengah proses yang sedang dihadapinya.
Petisi yang dibuat oleh Dino Gabriel untuk mendukung Ibu Budi dalam mencari keadilan mendapat respons luas dari masyarakat. Hingga saat ini, sebanyak 25.873 orang tercatat telah memberikan dukungan tanda tangan melalui petisi tersebut.
Dino juga menjelaskan, setelah proses petisi berakhir, pihak Ibu Budi berencana menempuh jalur mediasi secara kekeluargaan sebagai langkah lanjutan penyelesaian persoalan.
“Selanjutnya akan ada tahapan mediasi dahulu dengan pihak Polres Tangerang Selatan, tapi sampai sekarang masih belum dikonfirmasi,” ujarnya.
Langkah mediasi tersebut diharapkan dapat menjadi jalan awal dalam upaya penyelesaian kasus yang tengah dihadapi Ibu Budi.
Pengakuan mengenai sosok Dino Gabriel juga datang dari Sasha, salah satu teman dekatnya. Melalui unggahan Instagram Story, Sasha mengungkapkan bahwa dirinya mengenal dengan baik Dino Gabriel, anak dari Ibu Budi.
Sasha menuturkan, secara personal ia tidak mengenal dekat sosok Ibu Budi. Namun, ia memiliki kedekatan yang kuat dengan Dino Gabriel, yang disebutnya sebagai teman sekaligus rekan kerja. Menurutnya, Dino dikenal sebagai salah satu stage crew yang selalu ceria, sigap, penuh ide, serta memiliki banyak talenta.
Selain itu, Sasha juga menggambarkan Dino sebagai pribadi yang perhatian dan suportif. Ia menyebut Dino kerap memberikan kejutan berupa hadiah kecil secara spontan sebagai bentuk dukungan kepada orang-orang di sekitarnya, sehingga menjadi sosok andalan bagi teman-temannya.
“Saya yakin sekali bahwa attitude yang ada dari Dino Gabriel adalah bentuk dari cerminan didikan yang baik dari Ibu Budi,” ujar Sasha dalam unggahan ceritanya.
Kesaksian tersebut memperkuat gambaran positif mengenai kepribadian Dino Gabriel, yang dinilai tidak lepas dari peran dan didikan orang tuanya.
Sejauh ini, pihak pengacara Christiana Budiyati tidak berkenan memberikan identitas pelapor berdasar masukan kuasa hukum.
"Atas saran pengacara ibu saya dan pihak sekolah, kami dilarang untuk membagikan data pelapor kak untuk keamanan Ibu juga.. maaf kak," tulis Dino Gabriel.
Kasi Humas Polres Tangerang Selatan (Tangsel) IPDA Yudhi Susanto membenarkan adanya laporan dari tersebut. Ia menjelaskan, laporan tersebut masih berproses penyidikan.