Daerah

Hanya Ada Satu Kurban Donasi, Warga Reje Payung Hadapi Keterbatasan Pascabencana

Rabu, 27 Mei 2026 | 13:00 WIB

Hanya Ada Satu Kurban Donasi, Warga Reje Payung Hadapi Keterbatasan Pascabencana

Warga Kampung Reje Payung sedang memperbaiki jembatan untuk menghubungkan akses yang terputus akibat banjir bandang. (Foto: dok. warga)

Jakarta, NU Online

Tradisi kurban di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, terhenti pascabencana. Warga menghadapi keterbatasan ekonomi dan fasilitas, sehingga pelaksanaan ibadah kurban tidak dapat berlangsung sebagaimana mestinya. 
 

Sejahtera, Kepala Desa Reje Payung, menjelaskan bahwa pascabencana, masyarakat di kampung tersebut tidak lagi melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Ia menuturkan, kondisi ekonomi warga yang masih sulit membuat tradisi kurban tidak bisa dijalankan sebagaimana biasanya. 


Menurutnya, tahun ini hanya ada satu ekor sapi yang disembelih. Itu pun berasal dari donasi sehingga pelaksanaan kurban berlangsung sangat terbatas. 


“Di Reje Payung tahun ini tidak ada lagi masyarakat yang melaksanakan penyembelihan hewan kurban. Kebetulan hanya ada satu ekor sapi, itu pun berasal dari donasi seorang hamba Allah,” ujar Sejahtera kepada NU Online melalui sambungan telepon, pada Selasa (26/05/2026).


Sejahtera menyampaikan bahwa hingga saat ini bantuan dari pemerintah belum diterima oleh masyarakat. Jenis bantuan berupa logistik maupun barang-barang lain belum ada yang disalurkan, sehingga warga masih mengandalkan upaya mandiri dan dukungan dari pihak lain. 


“Kalau bantuan dari pemerintah untuk saat ini, bantuan jenis logistik ataupun benda benda lain belum ada,” katanya.


Lebih lanjut, ia mengatakan akses masyarakat di Reje Payung hingga kini masih bergantung pada jembatan apung. Jembatan tersebut terus diperbaiki dari waktu ke waktu, tetapi kondisinya belum mampu memberikan kelancaran mobilitas warga secara penuh. 


“Belum ada perbaikan dilakukan karena jembatan gantung masih dalam proses pembangunan. Diperkirakan pengerjaannya akan memakan waktu sekitar satu bulan lagi sebelum jembatan tersebut benar-benar selesai dan bisa digunakan,” katanya.


Ia juga menjelaskan bahwa hingga saat ini, SD Negeri 10 Linge Aceh Tengah belum mendapatkan perbaikan apapun. Kondisi bangunan sekolah masih dibiarkan apa adanya, sehingga aktivitas belajar mengajar belum bisa berjalan dengan baik dan anak-anak harus menunggu lebih lama untuk memperoleh fasilitas pendidikan yang layak. 


“Ya mau gimana lagi, memang sudah begini. Mungkin kondisinya sampai sekarang belum ada perbaikan, anak-anak masih sekolah di dalam tenda. Jangankan sekolah, bongkahan yang di kampung aja belum ada perbaikan,” jelasnya.


Ia menambahkan, hingga kini belum ada lagi relawan yang datang ke Reje Payung. Terakhir kali bantuan hadir dari suatu komunitas, dan setelah itu, warga harus menghadapi keterbatasan tanpa dukungan relawan lain. 


Kontributor: Ahmad Syafiq Shidqi