Haul Ke-55 KH Ma’shoem Ahmad Lasem, Teladan Sosial bagi Gen Z di Era Digital
Selasa, 3 Maret 2026 | 09:45 WIB
Suasana Haul KH. Ma'shoem Ahmad ke- 55 tahun di kompleks makam Masjid Jami' Lasem. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)
Rembang, NU Online
Suasana khidmat menyelimuti peringatan haul ke-55 KH Ma’shoem Ahmad yang digelar di maqbarah Masjid Jami Lasem, Rembang, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual untuk meneladani akhlak dan amal saleh almaghfurlah semasa hidupnya.
Sejumlah kiai turut hadir dalam acara tersebut, antara lain KH Syihabuddin Ahmad, KH Zaim Ahmad Ma’shoem, KH Najib Ahmad, KH Muhammad Hakim Masduqi, dan KH Qoyyum Manshur.
Salah satu dzuriyah KH Ma’shoem Ahmad, KH Nilzam Yahya, menuturkan bahwa sosok sang ulama dikenal sebagai pribadi yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”, yakni lebih mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi.
“Kalau dalam bahasa yang tren hari ini, Mbah Ma’shoem adalah ulama dengan sifat safaqah, menebarkan cinta kasih kepada sesama,” ujar Gus Nilzam kepada NU Online, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, Mbah Ma’shoem memiliki kepedulian sosial tinggi dan konsisten memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain) menjadi teladan penting, terutama bagi generasi Z yang hidup di era digital dengan tantangan individualisme.
Menurutnya, sikap mengutamakan kemaslahatan umat akan mendatangkan berbagai kebaikan, mulai dari pertolongan Allah, ketenangan hati, hingga harmonisasi hubungan sosial.
“Sepanjang hidupnya, Mbah Ma’shoem dikenal gemar bersedekah dan memastikan kebutuhan fakir miskin terpenuhi,” tambahnya.
Sementara itu, santri Pondok Pesantren Kauman Lasem, Imam Rosyidi, menyampaikan bahwa haul menjadi sarana menapak tilas perjuangan ulama, khususnya dalam bidang keilmuan, nasionalisme, dan moderasi beragama.
“Dari perjuangan para ulama, kita merasakan kedamaian dan keindahan hidup berbangsa saat ini,” ujarnya.
Ia juga menuturkan bahwa nilai-nilai perjuangan KH Ma’shoem kini mulai disebarluaskan melalui konten media sosial. Pembacaan manaqib serta kisah keteladanan beliau dikembangkan agar lebih dekat dengan generasi muda.
Salah satu amalan yang diwariskan, lanjutnya, adalah tidak pernah menolak orang yang meminta bantuan. Sikap tersebut mengajarkan kepedulian sosial dan empati terhadap sesama.
Meski demikian, Imam mengakui masih terdapat tantangan untuk mengenalkan sosok KH Ma’shoem Ahmad kepada generasi muda yang belum banyak mengetahui sejarah beliau.
“Kami optimistis, ketika memahami keberkahan haul, generasi muda akan mengikuti dengan khidmat dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.