Daerah

Gamis dan Sorban KH Achmad Ma'shoem Cerminkan Kesederhanaan Ulama Lasem

NU Online  ·  Selasa, 24 Februari 2026 | 13:00 WIB

Gamis dan Sorban KH Achmad Ma'shoem Cerminkan Kesederhanaan Ulama Lasem

Gamis dan sorban milik KH. Ma'sum Lasem yang berada di perpustakaan Masjid Jami Lasem. (Foto: NU Online/Ayu Lestari)

Rembang, NU Online

Gamis dan sorban milik ulama kharismatik Lasem, KH Achmad Ma’shoem, kini resmi menjadi koleksi Museum Masjid Jami' Lasem. Kedua benda bersejarah itu diserahkan oleh cucunya, KH Zaim Achmad Ma'shoem atau Gus Zaim, untuk disimpan dan dirawat sebagai bagian dari khazanah edukasi Islam.


Penyerahan dilakukan pada 2025. Selama ini, gamis dan sorban tersebut disimpan oleh keluarga. Gus Zaim kemudian meminta salah satu santri mengantarkannya ke Masjid Jami’ Lasem agar menjadi koleksi museum. Langkah itu menjadi upaya awal pelestarian benda yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Lasem.


Pengelola Perpustakaan dan Museum Nusantara Masjid Jami’ Lasem, Abdullah, menjelaskan bahwa koleksi tersebut memiliki nilai edukatif tinggi. Meski sebelumnya disimpan sebagai benda sakral keluarga, pengelolaannya kini dipercayakan kepada pihak museum.


“Karena barang tersebut dijadikan koleksi museum, saya melapor kepada takmir masjid untuk mengonfirmasi keberadaan kedua benda berharga itu,” ujar Abdullah saat ditemui di ruang perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Senin (23/2/2026).


Ia menuturkan, selama beberapa bulan gamis dan sorban itu hanya disimpan di dalam lemari sembari menunggu penataan yang lebih representatif. Abdullah merasa perlu menghadirkan ruang penyimpanan yang layak agar koleksi tersebut tidak sekadar tersimpan, tetapi juga menjadi media syiar dan pembelajaran.


Atas persetujuan Gus Zaim, ia kemudian membeli lemari klasik khusus untuk menyimpan gamis dan sorban tersebut. Lemari itu dipilih dengan mempertimbangkan kualitas material serta nilai artistik yang sesuai bagi benda bersejarah. Pada bagian luar lemari juga dicantumkan keterangan layaknya busana kehormatan.


Secara fisik, gamis berwarna krem dan sorban putih itu mencerminkan kesederhanaan KH Achmad Ma’shoem. Tidak tampak ornamen mewah pada bahan maupun desainnya. Kesahajaan terlihat dari model, kancing, kerah, hingga detail kantong pakaian.


Busana tersebut juga memiliki kekhasan tersendiri sebagai bagian dari karya fesyen lokal Lasem, berbeda dari model busana Arab maupun Jawa pada umumnya. Detail kerah dan potongan menjadi bagian menarik untuk dikaji dari sisi sejarah busana santri pesisir.


Abdullah mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah gamis itu digunakan sehari-hari atau hanya untuk ibadah. Namun ia meyakini pakaian tersebut menyimpan pesan keteladanan dari sosok ulama pendiri cabang NU Lasem pada 1926 sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al Hidayat pada 1916.


“Dari sana, Mbah Ma’shoem memberi keteladanan bukan hanya lewat tindakan, tetapi juga melalui kesederhanaan dalam berpakaian,” ujarnya.


Sejak dipamerkan, sejumlah pengunjung sempat meminta izin untuk mengenakan gamis dan sorban tersebut. Namun permintaan itu tidak diperkenankan demi menjaga orisinalitas dan kondisi kain yang telah berusia puluhan tahun.


Keberadaan koleksi pribadi KH Ma’shoem di Museum Masjid Jami’ Lasem diharapkan memperkaya khazanah sejarah Islam Nusantara. Melalui benda tersebut, masyarakat tidak hanya mengenal sosok ulama besar Lasem, tetapi juga dapat menelusuri karakter dan kesahajaan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang