Ketua Ansor Aceh Harap Harga Daging Bersahabat Jelang Meugang Idul Adha
Senin, 25 Mei 2026 | 20:00 WIB
Banda Aceh, NU Online
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Aceh H Azwar A Gani, berharap harga daging pada tradisi meugang menjelang Iduladha 1447 H tetap bersahabat dan terjangkau bagi masyarakat.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk memperluas program pasar murah guna membantu masyarakat menghadapi lonjakan kebutuhan menjelang hari raya.
Hal tersebut disampaikan Azwar menyusul prediksi kenaikan harga daging sapi di sejumlah daerah di Aceh menjelang meugang Iduladha. Di Kota Lhokseumawe, harga daging diperkirakan mencapai Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram akibat tingginya permintaan masyarakat dan harga sapi dari peternak yang masih relatif tinggi.
“Kita berharap harga daging meugang tetap bersahabat sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan tradisi meugang yang sudah menjadi budaya dan kearifan lokal masyarakat Aceh,” ujar Azwar, Senin, (25/5/2026).
Menurutnya, harapan tersebut penting mengingat pada meugang Idul Fitri 1447 H lalu harga daging di sejumlah daerah di Aceh sempat menembus Rp200 ribu per kilogram, bahkan menjadi salah satu harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Tata Cara Shalat Idul Adha
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat harus mengurangi jumlah pembelian daging karena keterbatasan kemampuan ekonomi..
“Pengalaman meugang Idul Fitri kemarin harus menjadi pelajaran. Kita tentu berharap menjelang Iduladha harga tetap terkendali sehingga masyarakat tidak terlalu terbebani,” katanya.
Azwar menilai meugang bukan sekadar tradisi membeli dan mengonsumsi daging, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi keluarga, menghormati orang tua, serta berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang kurang mampu.
Karena itu, ia meminta pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota melakukan langkah antisipatif sejak dini untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan daging di pasaran.
“Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah memperbanyak pasar murah dan operasi pasar menjelang meugang. Langkah ini dapat membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Selain itu, Azwar juga mendorong instansi terkait untuk memperkuat koordinasi dengan peternak, pedagang, dan distributor guna memastikan stok hewan ternak mencukupi kebutuhan masyarakat selama meugang.
Ia menilai apabila pasokan terjaga dan distribusi berjalan lancar, lonjakan harga yang terlalu tinggi dapat diminimalisir.
“Pemerintah perlu memastikan rantai distribusi berjalan baik sehingga tidak terjadi kelangkaan yang berujung pada kenaikan harga secara signifikan,” katanya.
Sebelumnya, salah seorang peternak di Lhokseumawe, Mustafa, memperkirakan harga daging pada meugang Iduladha tahun ini berada pada kisaran Rp170 ribu per kilogram. Bahkan harga dapat meningkat hingga Rp180 ribu per kilogram apabila permintaan masyarakat lebih tinggi dibandingkan ketersediaan stok.
Sementara itu, pada meugang Idul Adha beberapa tahun sebelumnya, harga daging di Banda Aceh pernah mencapai Rp180 ribu per kilogram dari harga normal sekitar Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.
Meski demikian, Azwar optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas harga melalui berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Ia berharap tradisi meugang yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Aceh tetap dapat dirasakan seluruh kalangan tanpa terkendala oleh tingginya harga kebutuhan pokok.
“Meugang adalah warisan budaya yang sarat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Kita berharap seluruh masyarakat dapat menyambut Idul Adha dengan penuh kegembiraan, sementara harga daging tetap terjangkau dan kondisi pasar tetap stabil,” pungkasnya.