Jember, NU Online
Salah satu penyebab utama munculnya tindakan radikal adalah pemaknaan yang salah terhadap teks jihad disertai timbulnya keyakinan pada sebagian umat Islam bahwa diri merekah yang paling benar. Sedangkan umat yang lain salah. Akibatnya, kebenaran dan surga dipersepsikan hanya menopoli mereka.
Hal tersebut diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, KH Hodri Ariev. Dirinya menjadi narasumber dalam diskusi publik Membentengi Pesantren dan Masyarakat dari Sikap Intoleransi, Hoaks dan Paham Radikal di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Taman Baru, Desa Glagahwero, Kalisat, Jember, Senin (23/7).
Pemaknaan yang salah tersebut, misalnya jihad hanya diartikan membunuh atau berperang. Pada waktu bersamaan, keyakinan superioritas kebenaran yang mereka miliki semakin menebal. “Jika sudah begitu, mereka tentu sulit membuka ruang bagi pihak lain yang berbeda padangan,” katanya. Akibat lanjutannya, apa yang mereka perbuat, termasuk gerakan radikal dan terorisme, selalu dilegitimasi dengan keyakinan itu.
“Pemahaman agama yang lemah seperti ini lalu semakin diperparah dengan pembusukan agama oleh politik. Maka radikalisme akan tumbuh subur,” urainya.
Untuk Indonesia, munculnya keyakinan semacam di atas disebabkan belum tuntasnya pribumisasi Islam. “Konsep pribumisasi Islam sesungguhnya sangat tepat diterapkan karena terkait dengan pemahaman Islam dalam konteks keindonesiaan,” jelasnya. Jadi Islam perlu ditanam di tanah Indoensia selaras dengan kearifan lokal bumi Nusantara, lanjutnya.
“Islam harus ditanamkan tanpa mengabaikan fakta keberagaman masyarakat Indonesia. Dan nyatanya Islam sangat menghargai perbedaan, baik ke luar maupun ke dalam,” jelas Kiai Hodri.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep itu menegaskan bahwa pesantren punya peran penting dalam memberikan pencerahan terkait radikalisme. Sebab, pesantren dengan para kiai dan kulturnya punya bekal yang memadai untuk menetralisir sumber-sumber yang memunculkan radikalisme.
“Karena itu, eksistensi pesantren harus dijaga. Sebab pesantren adalah sokoguru dan penjaga persatuan dan keutuhan bangsa,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)