Daerah

Lebih dari 500 Warga Aceh Meninggal Akibat Bencana, PWNU Serukan Penguatan Solidaritas Sosial

Senin, 19 Januari 2026 | 07:00 WIB

Lebih dari 500 Warga Aceh Meninggal Akibat Bencana, PWNU Serukan Penguatan Solidaritas Sosial

Kondisi reruntuhan tempat tinggal warga di Aceh Tamiang akibat banjir bandang. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Banda Aceh, NU Online

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 1.189 jiwa hingga pekan lalu. Dari jumlah tersebut, 550 jiwa berasal dari Provinsi Aceh, disusul Sumatra Utara sebanyak 375 jiwa dan Sumatra Barat 231 jiwa. Sementara 33 jiwa lainnya masih dalam proses identifikasi.


Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan selain korban meninggal, 141 orang dinyatakan hilang dan 195.542 jiwa terpaksa mengungsi. Kabupaten Aceh Utara tercatat sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 67.876 jiwa.


Di Kabupaten Pidie Jaya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim SAR gabungan masih melakukan pendataan serta evakuasi warga yang terjebak banjir. Petugas juga berupaya membuka jalur alternatif akibat rusaknya jembatan nasional yang menjadi penghubung utama Aceh dan Sumatra Utara.


Foto udara yang dirilis sejumlah media memperlihatkan alat berat jenis ekskavator tengah membersihkan lumpur banjir bandang di jalan utama Meureudu, Pidie Jaya. Akses jalan tersebut sempat terputus akibat timbunan lumpur setinggi hampir satu meter.


Abdul Muhari menjelaskan, selain pendataan korban, BNPB memprioritaskan percepatan pemulihan infrastruktur vital pada masa transisi darurat.


“Fokus utama kami adalah pemulihan akses wilayah yang terisolasi. Pemerintah menyiapkan pembangunan 270 jembatan Bailey di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sebanyak 20 unit telah terpasang dan 10 unit lainnya masih dalam proses pemasangan,” ujarnya.


Khusus di Aceh, BNPB telah mengirim 117 unit jembatan Aramco untuk mempercepat pemulihan konektivitas antarwilayah. Salah satunya Jembatan Bailey Jamur Ujung di ruas Bireuen-Takengon yang kini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. Sementara perakitan Jembatan Krueng Pelang di Aceh Tengah telah mencapai 80 persen.


NU Ajak Perkuat Solidaritas dan Spirit Kebersamaan

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H Asnawi M. Amin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas sosial dan menjadikan musibah ini sebagai momentum mempererat ukhuwah.


“Bencana ini bukan hanya ujian fisik, tetapi juga ujian kemanusiaan dan keimanan. Kita dituntut untuk saling menguatkan, saling menolong, dan tidak saling menyalahkan,” ujarnya.


Menurutnya, selain bantuan material, para korban bencana juga membutuhkan pendampingan psikososial dan penguatan spiritual.


“NU mendorong agar masjid, dayah, dan pesantren menjadi pusat pemulihan moral dan spiritual masyarakat. Di situlah harapan bisa ditumbuhkan kembali,” katanya.


Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.


“Yang rusak bukan hanya rumah, tetapi juga rasa aman. Maka yang kita bangun bukan hanya jembatan dan jalan, melainkan juga harapan,” tegasnya.


PWNU Aceh pun mengajak seluruh badan otonom NU, lembaga sosial, serta relawan untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam proses pemulihan. “Ini bukan kerja satu pihak. Ini kerja kemanusiaan yang harus kita pikul bersama,” pungkasnya.