Daerah

Mustasyar PBNU Abu Mudi: Aceh Harus Merdeka dari Kejahilan

Kamis, 11 Juni 2026 | 11:30 WIB

Mustasyar PBNU Abu Mudi: Aceh Harus Merdeka dari Kejahilan

Pengajian Akbar Tastafi-Huda di Masjid Agung Darul Falah Kota Langsa, Selasa (9/6/2026) malam (Foto: Helmi Abu Bakar)

Kota Langsa, NU Online

​​​​​​​Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abu Syekh H. Muhammad Amin Waly atau yang akrab disapa Abu Mudi, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan umat Islam. Di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri Pengajian Akbar Tastafi-Huda di Masjid Agung Darul Falah Kota Langsa, Selasa (9/6/2026), Abu Mudi menegaskan bahwa cita-cita terbesarnya adalah melihat Aceh terbebas dari kejahilan.


“Cita terbesar saya, Aceh harus merdeka dari kejahilan,” ujar Abu Mudi yang disambut antusias oleh jamaah yang memadati area masjid.

 

Menurut Abu Mudi, kemerdekaan yang sesungguhnya tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan fisik atau keterbelakangan pembangunan. Lebih dari itu, kemerdekaan hakiki adalah ketika masyarakat memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, memahami agamanya dengan benar, serta mampu menjalani kehidupan berdasarkan tuntunan syariat Islam.

 

Dalam tausiahnya, pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga tersebut menekankan pentingnya tiga ilmu dasar yang wajib dipelajari oleh setiap muslim, yakni ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf. Ketiga ilmu tersebut merupakan fondasi utama dalam membangun pribadi muslim yang kokoh dalam akidah, benar dalam ibadah, dan mulia dalam akhlak.


“Ilmu yang wajib dipelajari itu ada tiga, yaitu tauhid, fikih, dan tasawuf. Tauhid membimbing kita mengenal Allah dengan benar, fikih mengajarkan tata cara ibadah dan muamalah, sedangkan tasawuf membentuk akhlak dan membersihkan hati. Ketiganya tidak boleh dipisahkan,” jelas Abu Mudi.

 

Pendiri gerakan Tastafi itu menambahkan, lahirnya Tasawuf, Tauhid, dan Fikih (Tastafi) merupakan salah satu ikhtiar para ulama Aceh untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam yang berlandaskan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

 

Menurut Abu Mudi, keberadaan majelis-majelis ilmu seperti Tastafi sangat penting di tengah berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan teknologi digital, hingga beragam pemahaman keagamaan yang beredar di media sosial menuntut masyarakat untuk memiliki dasar ilmu yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.


“Majelis ilmu merupakan benteng umat. Selama masyarakat dekat dengan ulama dan mencintai ilmu, insya Allah Aceh akan tetap terjaga sebagai negeri yang berpegang teguh kepada ajaran Islam,” katanya.

 

Abu Mudi juga mengingatkan bahwa sejarah panjang Aceh tidak dapat dipisahkan dari peran ulama dalam membangun peradaban. Sejak masa Kesultanan Aceh hingga sekarang, dayah-dayah telah menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan pembinaan masyarakat. Dari lembaga-lembaga pendidikan itulah lahir para ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi besar bagi agama, bangsa, dan daerah.


Dalam kesempatan tersebut, Abu Mudi juga menyampaikan amanah gurunya, almarhum Abuya Tgk. H. Abdul Aziz Samalanga atau Abon Aziz Al-Mantiqi, pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga sebelumnya. Salah satu pesan yang selalu ditekankan oleh beliau adalah pentingnya memperjuangkan budaya “beut seumeubeut” (belajar dan mengajar).

 

“Almarhum Abuya Abon Aziz selalu berpesan agar kita terus menghidupkan beut seumeubeut. Selama masyarakat mau belajar dan para guru terus mengajar, maka kejahilan akan dapat dilawan dan peradaban akan terus terjaga,” ungkap Abu Mudi.

 

Ia menegaskan bahwa semangat beut seumeubeut telah menjadi ruh pendidikan dayah di Aceh selama berabad-abad. Dari tradisi itulah lahir ulama, cendekiawan, dan tokoh-tokoh yang berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.


Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung pengembangan pendidikan Islam, baik melalui dayah, masjid, maupun majelis pengajian. Menurutnya, investasi terbesar bagi masa depan Aceh bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak.


“Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan manusia jauh lebih penting. Jika masyarakat berilmu, beriman, dan berakhlak, maka berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan. Dari sinilah lahir kemajuan yang sesungguhnya,” ujarnya.

 

Pengajian Akbar Tastafi-Huda tersebut turut dihadiri unsur ulama, umara, akademisi, serta berbagai lapisan masyarakat. Ribuan jamaah tampak mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sejak awal hingga akhir acara.

 

Melalui kegiatan tersebut, Abu Mudi berharap semangat menuntut ilmu terus tumbuh di tengah masyarakat. Ia meyakini bahwa kemajuan Aceh di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kesungguhan masyarakat dalam mendekatkan diri kepada ilmu dan ulama.

 

“Selama majelis ilmu tetap hidup, selama masyarakat mencintai ulama dan pendidikan, maka harapan untuk mewujudkan Aceh yang maju, bermartabat, dan merdeka dari kejahilan akan selalu terbuka,” pungkas Abu Mudi.