Pulihkan Trauma Anak Pascabencana, LPBINU Terapkan Self Healing Therapy An-Nahdliyah di Aceh
Jumat, 23 Januari 2026 | 20:30 WIB
LPBINU melalui tim fasilitatornya melaksanakan program dukungan psikososial anak dengan pendekatan Self Healing Therapy (SHT) An-Nahdliyah di Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireuen, dan Kabupaten Pidie Jaya. (Foto: dok LPBINU)
Aceh, NU Online
Pemulihan psikososial pascabencana di Aceh masih terus berlangsung. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) melalui tim fasilitatornya melaksanakan program dukungan psikososial anak dengan pendekatan Self Healing Therapy (SHT) An-Nahdliyah di Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Bireuen, dan Kabupaten Pidie Jaya.
Kegiatan tersebut berada di bawah komando Posko LPBINU Lhokseumawe. Program ini menyasar anak-anak penyintas bencana sebagai kelompok rentan yang membutuhkan pendampingan emosional berkelanjutan.
Rakimin, Penanggung Jawab Program Psikososial LPBINU menjelaskan, pendekatan SHT An-Nahdliyah dikemas secara kreatif dan partisipatif sehingga mampu menciptakan suasana yang aman, hangat, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Melalui metode tersebut, anak-anak didorong untuk lebih akrab, nyaman, serta ekspresif dalam menyalurkan emosi dan pengalaman batin yang mereka alami pascabencana.
“Proses pendampingan dilakukan secara partisipatif, hangat, dan berorientasi pada pemulihan psikososial yang berkelanjutan,” ujar Rakimin kepada NU Online, Kamis (22/1/2026).
Ia menambahkan, fasilitator yang terlibat dalam kegiatan ini sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa UIN Lhokseumawe.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dinilai efektif karena kedekatan usia, empati, serta kemampuan komunikasi interpersonal yang baik sehingga mampu membangun rasa aman dan kepercayaan anak-anak dalam waktu relatif singkat.
“Kedekatan usia dan empati menjadi faktor penting dalam membangun relasi emosional yang intens antara pendamping dan anak-anak penyintas,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rakimin menegaskan, pendekatan psikososial ini diselenggarakan dengan menjunjung tinggi nilai dan norma budaya lokal, serta mengintegrasikan pendekatan religius yang ramah dan kontekstual. Hal tersebut dilakukan agar program mudah diterima oleh anak, keluarga, maupun masyarakat sekitar.
“Pendekatan ini menyentuh aspek emosional, sosial, dan spiritual anak secara bersamaan, sehingga pemulihan tidak bersifat instan, tetapi mendalam dan berjangka panjang,” katanya.
Ia berharap, melalui program ini trauma psikososial anak dapat diminimalisir sekaligus mendorong kesadaran publik untuk turut berperan aktif dalam proses pemulihan. Dengan demikian, anak-anak penyintas dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, tangguh, serta sehat secara mental.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dukungan psikososial dilakukan melalui permainan terapeutik, ekspresi seni, cerita reflektif, doa bersama, serta penguatan nilai-nilai lokal dan keagamaan yang disampaikan secara ramah dan tidak menggurui.
LPBINU juga menyiapkan pendampingan lanjutan berupa monitoring psikososial, penguatan peran orang tua dan guru, serta koordinasi dengan komunitas lokal.
Rayyan, salah satu peserta kegiatan mengaku merasa senang dan terbantu dengan adanya pendampingan tersebut.
“Kami merasa lebih tenang dan berani mengekspresikan perasaan. Kegiatannya ramah, menyenangkan, dan sangat membantu pemulihan anak,” ungkap Fina.
Ia pun berharap, program serupa dapat terus berlanjut.
“Semoga pendampingan seperti ini terus dilakukan agar pemulihan anak pascabencana berjalan dengan baik dan kegiatan sekolah bisa kembali normal dengan semangat baru,” pungkasnya.
Pada kesempatan tersebut, LPBINU juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan, aparat desa, GP Ansor, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lhokseumawe, serta jajaran pengurus NU setempat atas dukungan, kolaborasi, dan sinergi yang terbangun dalam kegiatan kemanusiaan ini.