Daerah

Rp54 Miliar Mengalir untuk Jamaah Haji Aceh, Nazir Baitul Asyi Gelar Kenduri Akbar

Ahad, 7 Juni 2026 | 07:00 WIB

Rp54 Miliar Mengalir untuk Jamaah Haji Aceh, Nazir Baitul Asyi Gelar Kenduri Akbar

Jamuan makan malam bagi perwakilan jamaah haji Aceh di Jeddah, Kamis (4/6/2026). (Foto: PPIH Aceh)

Makkah, NU Online

Di tengah jutaan umat Islam yang berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, jamaah asal Aceh kembali merasakan keberkahan dari sebuah warisan yang telah hidup selama berabad-abad. 


Warisan itu bukan berupa bangunan megah atau peninggalan sejarah semata, melainkan sebuah amanah wakaf yang terus tumbuh dan memberi manfaat nyata kepada generasi demi generasi: Wakaf Habib Bugak Asyi atau yang lebih dikenal dengan Baitul Asyi.


Pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, manfaat wakaf tersebut kembali disalurkan kepada seluruh jamaah haji Aceh dengan nilai mencapai 11.294.000 Riyal Saudi Arabia (SAR) atau sekitar Rp54 miliar. Angka yang sangat besar itu menjadi bukti bahwa wakaf yang dikelola secara profesional mampu menjadi kekuatan ekonomi umat yang berkelanjutan.


Di balik penyaluran manfaat tersebut, tersimpan sejarah panjang tentang kepedulian seorang ulama dan saudagar Aceh yang jauh hari telah memikirkan nasib para jamaah haji dari tanah kelahirannya.

 

Jejak Habib Bugak Asyi yang Terus Hidup

Habib Bugak Asyi merupakan tokoh asal Aceh yang mewakafkan hartanya di Tanah Suci untuk kepentingan jamaah haji Aceh. Niat mulia yang ditanamkan berabad-abad lalu itu kini terus berbuah dan memberikan manfaat kepada masyarakat Aceh yang menunaikan rukun Islam kelima.


Jika dahulu manfaat wakaf diberikan dalam bentuk tempat tinggal atau penginapan bagi jamaah Aceh di Makkah, maka perkembangan zaman membuat pengelolaan wakaf mengalami transformasi yang sangat signifikan. Aset-aset wakaf yang berada di kawasan strategis sekitar Masjidil Haram berkembang menjadi properti produktif bernilai tinggi.


Hasil pengelolaan aset tersebut kemudian dikembalikan kepada jamaah Aceh sesuai dengan amanah wakaf yang telah ditetapkan oleh pewakaf.


Tahun ini, setiap jamaah haji Aceh memperoleh manfaat wakaf sebesar 2.000 Riyal Saudi. Dana tersebut berasal dari keuntungan pengelolaan aset produktif yang dikelola oleh Nazir Baitul Asyi secara profesional dan transparan.

 

Bagi jamaah, bantuan itu bukan sekadar tambahan biaya selama berada di Tanah Suci. Lebih dari itu, manfaat wakaf menjadi simbol kuat bahwa hubungan Aceh dengan Makkah tidak pernah terputus oleh ruang dan waktu.


Kenduri Persaudaraan di Tanah Suci

Sebagai bentuk penghormatan kepada jamaah Aceh, Nazir Wakaf Habib Bugak Asyi, Prof Abdurrahman Abdullah Al-Asyi, menggelar kenduri dan jamuan makan malam bagi perwakilan jamaah haji Aceh di Jeddah, Kamis (4/6/2026).


Kegiatan yang difasilitasi oleh penghubung Baitul Asyi untuk Aceh, Syeikh Jamaluddin Al-Asyi, dihadiri sekitar 70 perwakilan jamaah, ulama, akademisi, dan petugas haji asal Aceh.

 

Turut hadir mantan Wakil Menteri Haji dan Wakaf Kerajaan Arab Saudi yang merupakan abang kandung Prof. Abdurrahman, serta Syeikh Khaled Abdurrahim Al-Asyi, salah satu keturunan keluarga pengelola wakaf tersebut.


Dalam suasana penuh kehangatan dan nuansa kekeluargaan, para tamu menikmati beragam hidangan khas Arab yang disajikan di kediaman Prof. Abdurrahman. Namun lebih dari sekadar jamuan makan malam, pertemuan itu menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan jamaah Aceh dengan para pengelola amanah wakaf yang selama ini memberikan manfaat bagi mereka.


Syeikh Jamaluddin menjelaskan bahwa kenduri tersebut telah menjadi tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan setiap musim haji.


“Ini adalah bentuk silaturahmi dan penghormatan kepada jamaah Aceh. Hubungan antara Baitul Asyi dan masyarakat Aceh harus terus dijaga sebagai bagian dari sejarah panjang yang telah diwariskan oleh para pendahulu,” ujarnya.


Pelajaran Besar dari Wakaf Produktif

Dalam forum diskusi yang berlangsung usai jamuan, sejumlah ulama, akademisi, dan petugas haji mendapatkan kesempatan mempelajari lebih dekat sistem pengelolaan wakaf di Arab Saudi.


Petugas haji asal Aceh Besar, H. Khalid Wardana, menilai keberhasilan Baitul Asyi merupakan contoh konkret bagaimana wakaf dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat.


Menurutnya, di Arab Saudi wakaf tidak berhenti sebagai aset pasif berupa tanah atau bangunan ibadah semata. Wakaf berkembang menjadi hotel, apartemen, pusat perdagangan, dan berbagai bentuk investasi produktif yang hasilnya dikembalikan untuk kepentingan sosial, pendidikan, serta pelayanan masyarakat.


Sementara itu, Tgk. Khairul Huda, petugas haji yang juga Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Selatan, menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan wakaf di Indonesia.


Menurutnya, keberhasilan Baitul Asyi menunjukkan bahwa wakaf memiliki potensi besar untuk membantu umat apabila dikelola secara profesional, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.


“Wakaf bukan hanya ibadah yang manfaatnya dirasakan hari ini, tetapi investasi akhirat yang dapat terus mengalirkan kebaikan lintas generasi,” ujarnya.


Di tengah berbagai tantangan ekonomi umat, kisah Baitul Asyi menjadi bukti bahwa amanah yang dijaga dengan baik akan melahirkan manfaat yang terus bertumbuh. Dari sebuah niat tulus seorang ulama Aceh berabad-abad lalu, kini mengalir keberkahan senilai Rp54 miliar untuk jamaah haji Aceh.

 

Warisan Habib Bugak Asyi bukan hanya tentang angka dan aset, melainkan tentang visi jauh ke depan, kepedulian kepada sesama, serta keyakinan bahwa harta yang diwakafkan di jalan Allah tidak akan pernah berkurang nilainya. Sebaliknya, ia akan terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat selama amanah itu dijaga dengan penuh tanggung jawab.

 

Di Tanah Suci, jejak itu masih terasa hingga hari ini. Dan bagi jamaah Aceh, Baitul Asyi tetap menjadi simbol bahwa amal jariyah yang dikelola dengan amanah tidak pernah berhenti mengalir.