Fragmen

Tokoh NU Berjasa dalam Film Indonesia (1): Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani

Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:07 WIB

Tokoh NU  Berjasa dalam Film Indonesia (1): Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani

Tiga tokoh NU dari kiri ke kanan, Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani

Hari Film Nasional diperingati setiap tanggal 30 Maret untuk merayakan sejarah dan perkembangan perfilman Indonesia. Tanggal ini menandai dimulainya produksi film pertama karya anak bangsa, yakni Darah dan Doa (1950) oleh Usmar Ismail dan kawan-kawan.


Sebelum ditetapkannya tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional, sempat muncul beberapa gagasan dan usulan untuk memilih tanggal lainnya, dengan berbagai landasan atau perspektif latar belakang sejarah.


Pada era reformasi, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, peringatan ini akhirnya resmi ditetapkan melalui Keppres No. 25 Tahun 1999 untuk meningkatkan motivasi dan prestasi insan film. Hal tersebut dengan pertimbangan:


"Bahwa tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari bersejarah bagi perfilman Indonesia, karena pada tanggal tersebut pertama kalinya film cerita dibuat oleh orang dan perusahaan Indonesia."


Selain Usmar Ismail, penulis mencatat nama-nama lainnya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), yang memiliki pengaruh besar dalam perfilman Indonesia. Mereka memiliki peran sebagai aktor, sutradara, produser, dan bahkan pendiri perusahaan film di Indonesia. Siapakah saja mereka?


Berikut profil singkat tokoh-tokoh dari NU yang memiliki pengaruh besar dalam perfilman Indonesia, yang diurutkan berdasarkan pada tahun kelahiran sang tokoh:


1. Djamaludin Malik (1917-1970)
Tokoh yang lahir di Kota Padang pada tanggal 13 Februari 1917 ini dikenal sebagai tokoh NU dan pelopor industri perfilman di Indonesia. Sebagai seorang tokoh NU, ia aktif di NU sejak masa muda hingga ia meninggal pada tahun 1970.


KH Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren (LKiS, 2001) menyebut Djamaludin Malik telah aktif di NU, sejak ia masih muda, yakni sebagai anggota GP Ansor Cabang Gambir Jakarta. Kiprahnya di NU, bahkan berlanjut hingga ia menjadi Ketua III Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sejak tahun 1957 hingga akhir hayatnya. 


Kemudian, dalam konteks perfilman Indonesia, Djamaludin memiliki andil besar dalam industri perfilman di tanah air. Ramadhan KH dan Nina Pane, dalam buku biografi Djamaludin Malik, Melekat di Hati Orang Banyak (Kata Hasta Pustaka, 2006) menuliskan kiprahnya sebagai salah satu pendiri perusahaan film yang bernama Perseoran Artis Indonesia (Persari). Dalam buku tersebut, mengutip dari buku Biografi Persari, sebagai berikut:


"Mulai akhir tahun 1950, para keluarga sandiwara terutama yang tergabung dalam rombongan sandiwara Pantja Warna (Solo) dan Bintang Timoer (Yogyakarta) yang ketika itu tersebar di seluruh tanah air, dalam keadaan kocar-kacir, dikumpulkan oleh Djamaludin Malik sebagai perintis jalan Persari Film, untuk turut memulai membuat film di Jakarta."


Pada tahun 1950, Persari dapat membuat film yang pertama berjudul Sedap Malam, berdasarkan cerita Andjar Asmara dan disutradarai oleh Ratna Asmara. Dua tahun kemudian, Persari yang telah memiliki studio film sendiri, melonjak menjadi perusahaan film terbesar di Indonesia, dan bahkan di Asia Tenggara.


Dalam buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), dituliskan Persari telah melahirkan sebanyak 59 judul film cerita. Yang terakhir adalah Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), merupakan kerja sama dengan Ifdil dan Perfini.


Beberapa judul film hasil produksi Persari antara lain Bunga Bangsa (1951), Bakti Bahagia (1951), Rindu (1951), Tauhid (1964), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966), dan lain-lain. Tarmina dan Lewat Djam Malam (bekerja sama dengan Perfini) terpilih sebagai film-film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) I tahun 1955.


H Djamaludin Malik yang semasa revolusi fisik ikut berjuang di daerah Priangan, Yogyakarta, dan Kalimantan Timur, meninggal di Munchen, Jerman Barat, pada 8 Juni 1970 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Ia dikukuhkan sebagai pahlawan pada 1973, dengan mendapat bintang Mahaputera Adipradhana II, yang diterima oleh istri almarhum, Ny Elly Yunara, di Istana Negara. 


Sepeninggal Djamaludin, sejak tahun 1995, Persari kembali dihidupkan oleh anaknya, Camelia Malik bersama sang suami, Harry Capri. Di tangan mereka berdua, Persari Film kembali melahirkan banyak karya. Pada tanggal 3 November 2002, diresmikan berdirinya Studio Djamaludin Malik di wilayah Ciganjur Jakarta Selatan, lengkap dengan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk pembuatan film maupun sinetron.


2. Usmar Ismail (1921-1971)
Seperti yang telah disebutkan di awal, Usmar Ismail menjadi salah satu tokoh penting dalam perfilman Indonesia. Film Darah dan Doa (1950) yang disutradarainya, dianggap kritisi film sebagai kelahiran film nasional Indonesia pertama dan menjadi penanda peringatan Hari Film Nasional.


Akhlis Suryapati dkk. dalam buku Jejak Ketokohan Usmar Ismail (Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud RI, 2018) disebutkan Usmar lahir di Bukittinggi pada tanggal 20 Maret 1921. Sebagai penyair dan dramawan semenjak masih sekolah, di zaman pendudukan Jepang, ia tergabung dalam Pusat Kebudayaan.


Selain dunia perfilman, Usmar juga dikenal sebagai seorang wartawan. Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil Petite Historie Indonesia Jilid 2 (Kompas, 2009) menuliskan sebuah judul Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional yang Juga Wartawan.


Tentu bukan tanpa sebab, Rosihan menuliskan judul tersebut. Usmar Ismail tercatat pernah menjadi wartawan di berbagai surat kabar antara lain Rakjat, Majalah Bulanan Arena, Harian Patriot, dan Majalah Tentara. Usmar pernah pula menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat (1946-1947) menggantikan Mr. Soemanang.


Usmar dengan beberapa kawannya membangun sebuah perusahaan, yakni Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) di awal 1950. Dalam buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), disebutkan pada tahun 1950-an itu ada tekanan terhadap film-film nasional. Disamping minat penonton yang kurang dan saingan berat dari film import, pihak pengusaha bioskop juga kurang berminat memberi kesempatan mempertunjukkannya.


Untuk mengatasi kerugian karena hal itu, Usmar pun berkompromi dengan membuat film-film hiburan disamping berusaha agar pemilik bioskop mau memutarnya. Begitulah lahirnya Krisis (1953), sempat menarik penonton berjubel selama lima minggu. Kesuksesan tersebut disusul dengan karya lainnya seperti Lewat Djam Malam (1954), Tiga Dara (1956), dan Asrama Dara (1959).


H Usmar Ismail juga tercatat pernah aktif di NU. Bersama kawan-kawannya, seperti Djamaludin Malik dan Asrul Sani, mereka mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi). Usmar menjadi Ketua Umum Lesbumi, sedangkan Asrul Sani menjadi Ketua I.


Usmar Ismail yang pernah menerima Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno pada 1962, pada penghujung hayatnya juga kembali menerima penghargaan dari pemerintah pusat bertajuk Anugerah Seni. Namanya juga diabadikan sebagai nama gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail.


Tokoh pejuang dan pemikir itu meninggal dunia pada 2 Januari 1971. Pada Hari Pahlawan, 10 November 2021, H Usmar Ismail mendapat kehormatan gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada empat pejuang tersebut tertuang dalam Keppres No. 109/TK/2021 tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional.


3. Asrul Sani (1927-2004)
Asrul Sani merupakan seorang tokoh sastrawan yang juga masyhur di dunia perfilman Indonesia. Dalam ulasan Majalah Tempo edisi 3 Februari 1990, termaktub Asrul Sani lahir di Rao, suatu daerah di bagian utara Sumatera Barat, pada 10 Juni 1926. Ayahnya merupakan seorang raja yang bergelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti Rao Mapat.


Sekitar usia 6 tahun, ia disekolahkan di Bukittinggi, yang berjarak kurang lebih 100 km dari Rao. Sore hari, ia belajar di sekolah agama bernama Dar el Ashar, yang dipimpin oleh salah satu tokoh NU di wilayah tersebut. Pada tahun 1939, ia merantau ke Jakarta dan belajar di Sekolah Teknik Mesin dan juga Taman Siswa.


Setelah Indonesia merdeka, Asrul Sani bersama kawan-kawannya mendirikan 'Gelanggang'. Asrul mengenang, 'Gelanggang' yang disebut Chairil sebagai 'Gelanggang Seniman Merdeka', ibarat orang naik kapal, pada suatu saat, orang mengambil posisi di tengah. Kurang lebih setahun setelah Chairil Anwar meninggal, 'Surat Kepercayaan Gelanggang' ditulis dan dimuat di majalah Siasat pada tanggal 22 Oktober 1950, yang antara lain berbunyi:


"Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan... Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh pernyataan hati dan pikiran kami."


Bersama Usmar Ismail, Djamaludin Malik, dan tokoh-tokoh lainnya, ia ikut mendirikan Lesbumi NU. Usmar Ismail pula yang mengenalkannya lebih dalam di industri film. Tahun 1955, masih bersama Usmar dan juga Djadoek Djajakusuma, mereka mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).


Sebagai penulis skenario dan cerita, karyanya di film Lewat Djam Malam, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, dan Nagabonar, pernah diganjar penghargaan pemenang di Festival Film Indonesia (FFI) atau Piala Citra. Film-film Asrul yang banyak dibicarakan adalah Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959), 'Pagar Kawat Berduri' (1961), Salah Asuhan (1972), dan Kemelut Hidup (1977).


Ia juga telah menyutradrai sejumlah film. Dalam buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), diterangkan film pertama yang disutradarainya yakni Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959). Pada Festival Film Asia (FFA) tahun 1970 di Jakarta, filmnya Apa Jang Kau Tjari, Palupi?' terpilih sebagai film terbaik. 


Asrul juga diklaim sebagai sutradara film Indonesia pertama yang bernafaskan dakwah. KH Saifuddin Zuhri dalam buku Berangkat dari Pesantren (LKiS, 2013), mengungkapkan ia yang saat itu menjadi Menteri Agama pernah berkolaborasi dengan Asrul Sani (sebagai sutradara), Djamaludin Malik, dan Usmar Ismail dalam pembuatan film Tauhid (1964).


Pada tanggal 11 Januari 2004, Asrul Sani meninggal dunia di usia 76 tahun. Setelah sempat dirawat karena sakit, ia meninggal dunia di rumahnya di Jalan Attahiriyah Nomor 4E, Perumahan Warga Indah, kawasan Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Ahad (11 Januari 2004) sekitar pukul 22.15 WIB. Jenazahnya dimakamkan dimakamkan di TPU Menteng Pulo Jakarta keesokan harinya pada 12 Januari 2004.

Ajie Najmuddin, peminat sejarah Nahdlatul Ulama