Dukung Palestina, Partai Hijau Inggris Suarakan Penghentian Genosida
Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:30 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Partai Hijau Inggris dan Wales (Green Party of England and Wales) Zack Polanski menyampaikan seruan tegas untuk membela hak-hak warga Palestina serta menuntut penghentian aksi militer di Gaza.
“Rekan-rekan Partai Hijau, kini kita bersatu menyuarakan: Bebaskan dari segala tuntutan! Hentikan genosida! Cabut larangan terhadap Palestine Action!” ujar Zack dikutip NU Online dari Al-Jazeera, Selasa (6/10/2026).
Zack menegaskan bahwa partainya secara konsisten terus menekan pemerintah agar tidak terlibat dalam tindakan militer di kawasan Timur Tengah. Ia menilai upaya partainya telah mulai membuahkan hasil nyata dalam ranah kebijakan luar negeri.
“Melalui sikap bersatu Partai Hijau dan tekanan yang terarah, kami telah mulai menggeser pemerintah ini dari keterlibatannya dalam kekejaman pemerintah Israel di Gaza, dengan Menteri Luar Negeri yang kini mengambil langkah yang sudah lama tertunda untuk menghentikan perdagangan dengan pemukiman ilegal,” ujarnya sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Selain seruan tersebut, Zack secara resmi mengesahkan mosi mengikat yang mendeklarasikan bahwa Zionisme sebagai sebuah bentuk rasisme.
Melansir situs resmi Partai Hijau, mosi 'Zionisme adalah rasisme' tersebut disetujui dengan 1.022 suara mendukung dan 813 suara menolak.
Mosi tersebut menguraikan penentangan partai terhadap Zionisme yang didefinisikan sebagai proyek politik etnonasionalis, sekaligus menegaskan bahwa anti-Zionisme tidak boleh disamakan dengan antisemitisme.
Kebijakan tersebut memperkuat komitmen Partai Hijau terhadap pembebasan Palestina, hak untuk kembali, gerakan boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), embargo senjata penuh terhadap Israel, hingga dukungan atas pembentukan negara demokratis tunggal di seluruh wilayah Palestina bersejarah.
Langkah resmi yang diambil dalam konferensi tersebut dijelaskan oleh pihak internal partai sebagai bentuk dinamika demokrasi anggota yang menghargai kebebasan menentukan arah kebijakan.
“Ini merupakan perdebatan serius dan sangat dirasakan di antara anggota kami. Anggota kami menghargai kemampuan untuk mengemukakan dan memutuskan kebijakan partai, dan konferensi kini telah mengambil keputusannya,” kata seorang juru bicara Partai Hijau dikutip NU Online dari situs resmi Partai Hijau, Selasa (6/10/2026).
Pihak partai juga menegaskan kembali nilai dasar perjuangan mereka dalam menentang pendudukan ilegal dan segala bentuk rasisme. Ia juga menegaskan posisi partai yang anti-rasis dan secara konsisten menentang pendudukan ilegal atas tanah Palestina dan Suriah, menyerukan penghentian penjualan senjata kepada pemerintah Israel, dan dengan berani menyuarakan situasi yang mengerikan di Gaza dan Tepi Barat.
"Posisi-posisi tersebut tetap menjadi inti dari pendekatan kami. Begitu pula komitmen kami yang mendalam terhadap kesetaraan, keadilan, dan hak asasi manusia untuk semua, serta penentangan terhadap rasisme dalam segala bentuknya,” tambahnya.
Sementara itu, The Guardian melaporkan bahwa Zack telah memutuskan secara resmi untuk menetapkan diri sebagai partai anti-Zionis, setelah para anggotanya mendukung mosi pada konferensi partai tahun 2026 di Brighton, Ahad Siang (4/10/2026).
Keputusan politis tersebut disahkan melalui pemungutan suara anggota dalam konferensi tahunan partai yang memicu potensi pengucilan internasional dirinya dari jejaring Partai Hijau di Eropa.
Langkah kelompok politik Inggris tersebut memantik reaksi keras dari kawasan regional, termasuk dari sesama anggota Partai Hijau Eropa. Mereka menilai mosi tersebut bertentangan dengan prinsip mendasar mereka.
Di internal partai sendiri, perpecahan terlihat nyata saat pengesahan mosi dalam rapat anggota tersebut. Sebanyak empat dari lima anggota parlemen (MP) milik Partai Hijau menyatakan penolakan terhadap isi mosi.
Pemimpin bersama Partai Hijau Jerman bahkan menyatakan secara terbuka bahwa kebijakan baru tersebut tidak dapat diterima.
“Tidak dapat ditoleransi dan tidak dapat diterima,” ujarnya dikutip dari The Guardian.
Melansir GB News, penetapan sikap tersebut resmi mengikat tersebut juga menimbulkan gejolak mendalam di tubuh partai, terutama bagi kelompok dan kader Yahudi internal. Sejumlah pengurus dari kelompok Jewish Greens bahkan mempertimbangkan untuk mengundurkan diri sebagai bentuk protes.