Kemenangan Demokrat Buka Jalan bagi Generasi Baru dan Kelompok Minoritas di Politik AS
Jumat, 6 November 2026 | 15:00 WIB
Jakarta, NU Online
Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) tidak hanya menghasilkan perubahan kekuatan politik di Kongres. Hasil pemilu kali ini juga membuka jalan bagi generasi baru politikus dengan latar belakang yang selama ini kurang terwakili dalam kepemimpinan politik AS.
Dikutip dari BBC, sejumlah politikus Demokrat mencatat sejarah melalui kemenangan mereka. Ada Abdul El-Sayed, politikus keturunan Mesir yang menjadi Muslim pertama terpilih sebagai senator Amerika Serikat. Ada pula, Melat Kiros menjadi perempuan pertama dari Generasi Z yang berhasil memperoleh kursi di Kongres.
Perubahan juga terlihat dalam persaingan kepemimpinan DPR. Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, berpeluang menjadi orang kulit hitam pertama yang menduduki jabatan Ketua DPR Amerika Serikat setelah partainya berhasil merebut kembali mayoritas kursi di lembaga tersebut.
Salah satu kemenangan yang menyita perhatian datang dari Michigan. Abdul El-Sayed, 42 tahun, berhasil mengalahkan kandidat Partai Republik Mike Rogers dalam perebutan kursi Senat. Putra pasangan imigran Mesir itu akan menjadi Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat Amerika Serikat.
Sepanjang kampanye, El-Sayed menghadapi serangan dari Trump dan sejumlah media konservatif. Ia dituduh memiliki kedekatan dengan Ikhwanul Muslimin, tuduhan yang dibantahnya. Identitas Muslim dan nama Arabnya juga menjadi sasaran serangan politik.
Namun, mantan pejabat kesehatan masyarakat Michigan itu justru menjadikan kedekatannya dengan pemilih sebagai salah satu kekuatan kampanye. Ia aktif menggunakan media sosial, terutama TikTok, untuk menyampaikan gagasan politik dengan pendekatan yang lebih santai dan dekat dengan generasi muda.
Agenda kampanyenya mencakup jaminan kesehatan universal atau Medicare for All, penyediaan perumahan terjangkau, serta pembatasan pengaruh perusahaan besar dalam politik. Ia juga menentang bantuan militer Amerika Serikat kepada Israel.
Kemenangan El-Sayed menjadi bagian dari menguatnya politikus progresif di tubuh Demokrat. Hasil tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa identitas agama dan latar belakang keluarga imigran tidak selalu menjadi penghalang untuk memperoleh dukungan pemilih.
Selain El-Sayed, Al Jazeera mencatat, kemenangan Melat Kiros di Colorado menjadi salah satu penanda perubahan generasi dalam politik Amerika. Pada usia 29 tahun, Kiros menjadi perempuan pertama dari Generasi Z yang terpilih menjadi anggota Kongres.
Politikus keturunan Ethiopia itu lahir di Addis Ababa sebelum pindah ke Amerika Serikat ketika masih bayi. Ia tumbuh di Denver dan sebelumnya belum pernah menduduki jabatan politik hasil pemilihan umum.
Kiros mencuri perhatian setelah berhasil mengalahkan politikus petahana Diana DeGette yang telah menduduki kursi DPR selama 15 periode dalam pemilihan pendahuluan Demokrat. Ia kemudian memenangkan pemilihan umum di distrik pertama Colorado.
Seperti El-Sayed, Kiros mengusung isu-isu yang dekat dengan kehidupan pemilih muda. Kampanyenya menitikberatkan pada penurunan biaya hidup, layanan pengasuhan anak universal, dan jaminan kesehatan bagi seluruh warga. Ia juga mendukung penghapusan Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) serta penghentian bantuan militer Washington kepada Israel.
Sikap kritis Kiros terhadap perang Israel di Gaza telah memicu kontroversi. Pada 2023, ia kehilangan pekerjaannya di sebuah firma hukum ternama di New York setelah menolak menarik surat terbuka yang mengkritik sejumlah firma hukum terkait respons mereka terhadap demonstrasi pro-Palestina di kampus-kampus Amerika. Kiros menegaskan penolakannya terhadap antisemitisme, tetapi meminta agar kritik terhadap kebijakan Israel tidak disamakan dengan kebencian terhadap orang Yahudi.
Kemenangan politikus muda keturunan Afrika lainnya juga terlihat di tingkat negara bagian. Junior Ezeonu, 27 tahun, yang lahir di Nigeria dan pindah ke Amerika Serikat saat kecil, berhasil memenangkan kursi di Dewan Perwakilan Negara Bagian Texas. Sebelumnya, ia tercatat sebagai anggota dewan kota termuda di Grand Prairie.
Di Pennsylvania, Carol Kazeem, 34 tahun, berhasil mempertahankan kursinya sebagai anggota legislatif negara bagian. Kazeem merupakan politikus keturunan Nigeria. Sejumlah kandidat lain dengan latar belakang serupa juga meraih kemenangan dalam pemilihan 3 November.
Perubahan komposisi politikus Demokrat tidak hanya berlangsung di kalangan generasi muda. Sejumlah kemenangan juga membuka jalan bagi kelompok yang selama ini belum banyak memperoleh ruang dalam kepemimpinan nasional.
Dikutip dari AP, Hakeem Jeffries, pemimpin Demokrat berusia 56 tahun dari New York tersebut diproyeksikan menjadi Ketua DPR kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika Serikat.
Jeffries masih harus memperoleh dukungan mayoritas anggota DPR ketika Kongres baru bersidang pada Januari 2027. Jika terpilih, ia akan menggantikan Ketua DPR dari Partai Republik dan menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemerintahan Amerika.