Presiden Iran di PBB: Kami Bukan Teroris, tetapi Korban Terorisme
Kamis, 24 September 2026 | 21:30 WIB
Jakarta, NU Online
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tudingan bahwa negaranya merupakan sumber terorisme dan ketidakstabilan di kawasan. Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81, Pezeshkian mengatakan Iran justru menjadi korban terorisme, termasuk serangan yang menurutnya melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggambarkan Iran sebagai negara teroris. Ia mengatakan tudingan tersebut bertolak belakang dengan pengalaman yang dialami rakyat Iran.
“Kemarin, Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris. Padahal kamilah yang telah menjadi korban terorisme,” kata Pezeshkian dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Rabu (23/9/2026).
Ia kemudian menyinggung serangkaian serangan terhadap Iran yang disebutnya menyasar fasilitas sipil dan infrastruktur. Pezeshkian mengatakan anak-anak, ilmuwan, serta warga sipil Iran menjadi korban serangan tersebut.
Ia menunjukkan sejumlah foto anak-anak yang disebutnya tewas akibat serangan. Menurut Pezeshkian, senjata yang digunakan dalam serangan itu dipasok oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Anak-anak ini tewas di bawah hujan bom menggunakan senjata yang disuplai oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah, tidak melakukan kejahatan apa pun,” ujarnya.
Pezeshkian mencontohkan serangan di Lamerd, salah satu kota di Iran. Menurut dia, sebuah aula olahraga yang digunakan anak-anak menjadi sasaran serangan menggunakan senjata dengan hulu ledak ganda.
Ia juga menuduh serangan telah menyasar universitas, pusat kesehatan, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur Iran. Menurut Pezeshkian, tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.
“Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dipaksakan kepada negara kami,” katanya.
Iran Klaim Bertahan
Pezeshkian mengatakan Iran melakukan pembelaan diri setelah mendapat serangan. Ia menegaskan Iran tidak bermaksud menyerang penduduk sipil.
“Ya, mereka memang memukul kami, tetapi kami tidak berlutut. Kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang populasi sipil,” ujar Pezeshkian.
Ia juga mengungkit pembunuhan Ismail Haniyeh di Iran pada hari pelantikannya sebagai presiden. Pezeshkian mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa wilayah Iran telah menjadi sasaran operasi Israel.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyinggung situasi di Gaza. Ia mengatakan lebih dari 80 ribu warga sipil telah tewas dan ratusan ribu lainnya terusir dari rumah mereka.
“Di Gaza, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh,” katanya.
Pezeshkian menyebut Israel melakukan genosida di Gaza dan mempertanyakan pihak yang menyebut Iran sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan.
“Apakah kami sumber instabilitas? Kami hanya berusaha untuk hidup secara independen,” ujarnya.
Pezeshkian mengatakan Iran membutuhkan kemampuan pertahanan untuk memastikan negara tersebut tidak mudah diancam. Namun, ia menegaskan kekuatan tersebut tidak ditujukan untuk melakukan agresi.
“Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi. Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata,” katanya.
Pezeshkian juga menyatakan Iran selama dua abad terakhir tidak pernah menyerang negara atau wilayah lain. Menurut dia, Iran menggunakan kekuatannya untuk mempertahankan diri ketika menghadapi ancaman.
“Selama 200 tahun, dalam dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun, tetapi kami selalu membela diri dengan teguh,” ujarnya.
Ia mengatakan Iran tidak menginginkan kekuatan untuk membangun hegemoni. Menurut Pezeshkian, keamanan Iran juga tidak boleh dibangun dengan mengorbankan keamanan negara lain.
“Kami tidak ingin menggunakan kekuatan kami untuk hegemoni, dan kami tidak mencari keamanan kami di atas ketidakamanan orang lain,” kata dia.