Jabar

Gerakan Kurban Premium di Depok, Pegang Prinsip Amanah, Higienis, dan Profesional

Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:30 WIB

Gerakan Kurban Premium di Depok, Pegang Prinsip Amanah, Higienis, dan Profesional

JPZIS Musholla Nurul Iman Depok menginspirasi lewat pengelolaan qurban modern berbasis daging premium yang higienis, profesional, dan akuntabel. (Foto: dok NU Online Jabar)

Depok, NU Online
Gerakan berbagi daging premium yang diinisiasi oleh JPZIS Musholla Nurul Iman Taman Jaya menjadi salah satu inspirasi pengelolaan kurban modern berbasis masyarakat di Kota Depok, Jawa Barat. Bersama jaringan pengelola NU Care-LAZISNU Kota Depok, mereka sukses membangun sistem kurban yang profesional, higienis, amanah, dan humanis.

 

Ketua JPZIS Musholla Nurul Iman Taman Jaya sekaligus Bendahara UPZIS MWCNU Cipayung, Gus Zaki, menceritakan perjalanan panjang gerakan qurban premium yang dirintisnya sejak tahun 2017.

 

"Sejak Idul Adha 2017, kami mulai membangun gerakan ini," ujar Gus Zaki, Kamis (28/5/2026) diberitakan NU Online Jabar.

 

Menurutnya, ide berbagi daging premium ini lahir dari kesadaran berkurban yang terus dipupuk melalui kajian majelis taklim warga setiap Ahad malam Senin. Perlahan namun pasti, gerakan tersebut mulai menunjukkan hasil yang signifikan.

 

"Awalnya pelaksanaan kurban hanya 1 ekor sapi dan paling banyak 5 ekor kambing. Namun pada tahun 2017 meningkat drastis menjadi 4 sapi dan 18 kambing. Bahkan saat masa pandemi Covid-19 tahun 2019, jumlah kurban justru membludak menjadi 7 sapi dan 34 kambing," jelasnya.

 

Melihat perkembangan yang pesat tersebut, pengelolaan kurban mulai diarahkan secara lebih profesional dan sistematis tanpa menanggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Gus Zaki mengaku dirinya selalu berusaha memberikan keteladanan langsung kepada masyarakat dalam setiap gerakan sosial.

 

Meski kini sukses, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Di awal pergerakan, ide pengelolaan qurban modern ini sempat diragukan oleh sebagian generasi senior dan sesepuh setempat karena dianggap tidak sesuai dengan kultur sebelumnya.

 

"Ditambah lagi, usia saya waktu itu belum genap 40 tahun," ungkap Gus Zaki mengenang tantangan awal.

 

Untuk menjawab keraguan tersebut, JPZIS Musholla Nurul Iman membangun dua strategi utama. Pertama, memberikan kajian mendalam tentang fiqih udhiyyah (qurban) lengkap dengan sesi tanya jawab di setiap majelis. Kedua, membangun sistem operasional pengelolaan hewan kurban yang profesional, akuntabel, dan humanis.

 

Tantangan terbesar berikutnya adalah menjaga kualitas daging premium agar tetap higienis dan cepat terdistribusi kepada masyarakat. Gus Zaki menegaskan bahwa proses pengelolaan harus klinis dan efisien.

 

Sebagai solusi, panitia menerapkan pembagian tugas (jobdesk) yang spesifik hingga tahap pengemasan (packing). Jumlah panitia pun diperbanyak hingga mencapai 70-80 orang yang dilengkapi dengan seragam khusus. Bahkan, area penyembelihan dipasang garis pembatas (police line) agar steril dari pihak luar.

 

Di balik kerja keras tersebut, terdapat kisah menyentuh yang selalu membekas di hati para panitia. Salah satu penerima manfaat pernah menuturkan bahwa dirinya hanya bisa mengonsumsi daging saat Idul Adha atau ketika ada orang lain yang berbaik hati memberi.

 

"Jadi, mereka makan daging setahun sekali," tutur Gus Zaki dengan nada haru.

 

Hal ini mempertegas keyakinannya bahwa qurban bukan sekadar ibadah vertikal kepada Allah SWT (hablum minallah), melainkan juga ibadah sosial horizontal (hablum minannas).

 

"Qurban secara filosofi spiritual adalah menyembelih sifat dan karakter kebinatangan dalam diri kita. Banyak orang pandai menyembelih sapi atau kambing, tetapi tidak mampu menyembelih sifat keakuannya. Pandai merobohkan sapi, tapi tidak mampu merobohkan kesombongan dalam dirinya," tegasnya.

 

Ke depan, Gus Zaki berharap gerakan kurban premium ini dapat diduplikasi secara luas oleh masyarakat Kota Depok agar pengelolaan kurban menjadi lebih profesional. Ia ingin menyudahi cerita-cerita klasik seperti daging hilang, distribusi yang kacau, atau warga yang tidak kebagian jatah.

 

Selain itu, pihak JPZIS juga terus mendorong penguatan program Tasyakur (Tabungan Syariah Kurban) yang dikelola secara amanah demi meningkatkan jumlah pengurban setiap tahunnya.

 

"Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus menjadi contoh dengan ikut serta menjadi yang pertama mendukung program ini. Yakinlah, jika ikhtiar ini dibangun dari sekarang, maka tahun depan dan seterusnya (kurban ideal) bukan hanya khayalan, tapi menjadi kenyataan," pungkasnya.